MY STORY

Live, create, tell a story, repeat!

Cerita adalah yang membentuk siapa kita.

Cerita adalah sebuah plot yang harus kita lalui.

Cerita adalah alat penghubung kita.

Karena cerita memiliki kekuatan, dia mungkin saja bisa mengubah seseorang dalam memandang hidup dan berubah menjadi yang lebih baik.

My Story adalah penggalan-penggalan cerita yang terjadi dikehidupanku. Aku berharap kalian bisa mengambil apapun yang kalian rasa bermanfaat.

NOTE: Aku akan selalu meng-update halaman ini ketika aku menemukan cerita yang layak dan memiliki nilai untuk dibagikan.

 

———

 

” PEMBERI “

Malam itu ada rezeki yang datang kepada kami yang berkawan.

Lupa akan namanya syukur, salah satu dari kami berceletuk…

“Kok nggak malu ya cuma ngasih sedikit, mending gausah ngasih sekalian”

Kalimat itu membuatku berpikir.

Apakah ada standart jumlah untuk memberi sesuatu?

Apakah hanya karena jumlah tertentu kita dihargai?

Bagi kalian yang menerima, bersyukurlah!

Bagi kamu yang memberi, balasanmu hanya dari-NYA!

 

” MASALAH “

4 bulan lalu ibuku mengalami sakit diperut.

Dengan beberapa pertimbangan, akhirnya beliau pergi ke dokter untuk memeriksakannya.

Setelah di cek dan tes lab, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi.

Beberapa hari setelah operasi, ibuku merasa bahwa punggungnya terasa sakit.

Setelah ditanyakan dokter, dokter hanya menjawab  bahwa itu karena efek berbaring yang lama.

Lesson Learnt : Sama halnya dengan hidup, kita akan selalu menghadapi masalah baru setelah masalah sebelumnya terselesaikan. Tapi dengan hal inilah kita berkembang.

Maka, jangan pernah menyebutnya hidup, jika kalian tidak ingin menghadapi masalah.

 

” SUKA VS CINTA “

Waktu mempertemukanku dengan sahabat di  masa sekolah dasar.

Janji dibuat. Sebuah tempat ditentukan.

Kami berkumpul disebuah cafe yang menyajikan live music disana.

Seorang gitaris yang merangkap sebagai vokalis mengiringi perbincangan kami.

Sampai akhirnya datang seorang yang menemaninya dan mengiringinya dengan suara sexy dari alat musik yang dibawanya. Itu sebuah saxophone.

Semua penonton terpana saat alat musik tiup itu mulai dimainkan. Tak terkecuali aku dan kawan-kawanku.

Yang menarik adalah disini…

Hanya sebentar saja aku dan kawan-kawanku menikmati. memperhatikan dan mendengarkannya dengan seksama.

Setelah beberapa nada dimainkan, percakapan kami awali lagi dan dihiraukannya suara indah saxophone itu.

hal ini kemudian mengingatkanku bahwa…

Kami, hanya menyukai.

Kami, belum mencintai.

Mencintai adalah ketika kita mengorbankan sesuatu dan memprioritaskannya dari prioritas lainnya.

You will never find true love, until you first learn to love Allah

— Boonaa Mohammed

” KESERIUSAN “

Kembali kemasa SMA, saat ada seorang anak laki-laki tetangga kelas yang beebeda dengan yang lain.

Dia dikucilkan, bahkan tak jarang juga dibully.

Dia berbeda bukan dari fisik. Tetapi, dari cara dia berpikir.

Dia bahkan menggunakan waktu istirahatnya untuk membaca buku atau kamus kemana-mana dan menganggap semua hal dengan serius.

Sempat juga aku berpikir kenapa ada anak yang menjalani hidup seserius itu.

Aku merasa aku sedang menikmati hidup, padahal sebenarnya aku sedang lupa bagaimana realita kehidupan sesungguhnya.

Waktu berdetak begitu cepat, dan kedewasaan mengajariku bahwa hidup santai hanya akan menghasilkan sesuatu yang menyakitkan.

Apakah hidup menyuruh kita untuk serius?

Iya, hidup menyuruh kita untuk serius sampai kita mendapatkan kesempatan untuk bersantai dan melakukan apapun yang ingin kita lakukan.

Tidak ada jalan pintas. Semua keuntungan tidak akan kita dapatkan sampai menjalani hidup dengan serius.

 

” PERLINDUNGAN “

Aku banyak menemukan bagaimana orang merawat sesuatu dengan baik. Salah satunya adalah merawat smartphone.

Mereka membelikan pelindung agar bisa meminimalisir kerusakan saat samrtphone-nya jatuh.

Atau masih ditambah lagi dengan membelikan anti gores agar layar yang dilihatnya tetap aman dan nyaman.

Keluarlah, dan lihatlah bagaimana mereka berkendara.

Mereka sering kali tidak memakai helm.

Ini bukan tentang seberapa jauh atau dekat perjalanan yang ditempuh. Ini tentang keselamatan kita!

Lalu aku sadar, bahwa kita masih lebih mementingkan barang yang kita miliki daripada diri  kita sendiri.

 

” KITA LEMAH “

Lima hari lalu, bibirku kedatangan tamu yang tak diundang.

Dua buah sariawan yang berdampingan berada tepat pada bibir bawahku.

makan tak enak, tidur juga menjadi tak pulas.

kegiatan sehari-haripun juga menjadi tertanggu karena adanaya duo kecil yang ada didalam bibir.

Tak jarang aku mengeluh karena betahnya mereka disana.

Terima kasih ya Allah, Engkau mengingatkan kepadaku, bahwa kita, manusia, sangatlah lemah. Maka tak sepatutnya kita ini merasa menjadi orang yang paling kuat, paling hebat dan menjadi orang yang sombong.

Terima kasih ya Allah, Engkau mengingatkan kepadaku, bahwa apa yang bisa disyukuri jauh, jauh, dan jauh lebih banyak jika dibanding sesuatu yang tak sepantasnya dikeluhkan.

 

” HIKMAH “

Pernah suatu ketika aku ditugaskan untuk mengajar di salah satu MTS ( Setingkat SMP ) yang berada di Bojonegoro.

Lingkungan disana sangat masih pedesaan dan bisa dibilang memiliki fasilitas yang belum selengkap kota, termasuk dengan MTS tersebut. Tetapi, masalah prestasi, MTS ini terbilang cukup mentereng.

Pertama kali kesana, aku disambut oleh seorang anak MA ( Setingkat SMA ). Bisa dibilang dia satu-satunya anak yang berani untuk membaur denganku dan temanku.

Hari demi hari telah berlalu, hubungan kita sebagai manusia semakin dekat. Sampai ada saat dia berkata…

” Saya tuh cuma nurut apa kata kiyai kak, orang lain itu ngomong tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan “

Kaget aku mendengarnya, tetapi disisi lain aku sadar akan sesuatu.

Ternyata, kita masih lebih mementingkan “siapa” yang bicara, bukan “apa” yang dibicarakan.

Jika kalian diberi hadiah oleh orang lain, tetapi kalian menolak, apa yang terjadi?

Sudah jelas, hadiah itu akan kembali kepada orang itu.

Jika kalian diberi sesuatu yang baik dari orang lain ( nasihat, pengetahuan, dll ), tetapi kalian menolak, apa yang terjadi?

Ya sama, semuanya akan kembali kepada orang yang memberikan. Dia tidak akan rugi sama sekali.

Coba renungkan, masihkah kita melihat sesuatu dari covernya?

Bahkan seorang anak yang lebih muda dari kitapun bisa memberikan sesuatu yang bahkan belum pernah kita dapat sebelumnya.

Atau pernahkah temanmu memberimu nasihat yang baik tetapi kamu bertindak seakan-akan dia tak pantas mengucapkan itu?

Ini soal konten, bukan bungkus!

Yang perlu kita perhatikan dan bisa dijadikan patokan adalah, selama konten tersebut tidak melanggar norma masyarakat dan islam, terimalah!

Ambillah hikmah dari orang-orang yang kamu dengar. Karena seseorang terkadang berkata suatu hikmah tetapi dia bukanlah seorang yang ahli hikmah. Hikmahnya itu seperti panah yang mengenai sasaran, tetapi yang memanah bukanlah seorang pemanah yang ahli.

— Abdullah Bin Abbas

 

” BULLY “

Dulu, pernah aku belajar bahasa inggris melalui sebuah kursusan. Bisa dibilang bahwa disana merupakan miniatur Indonesia, karena banyak sekali anak-anak dari berbagai daerah yang berkumpul disana. Dari Surabaya, Malang, Kalimantan, Semarang, Lampung, Tegal, dll.

Karena bahasa inggris bukanlah merupakan bahasa Ibu kita, akan terdengar aneh ketika kita mencoba berbicara menggunakannya.

Disana, kita memang diharuskan untuk mengobrol menggunakan bahasa Inggris untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

Tetapi, yang terjadi adalah, banyak diantara teman-teman yang ada disana menertawakan sebagian yang lain karena masih adanya aksen lokal yang terbawa.

Mungkin itu terlihat sebagai gurauan bagi mereka yang menertawakan, tapi bagaimana jika gurauan tersebut diambil hati oleh kita yang ingin belajar sungguh-sungguh.

Maka, hasilnya adalah, banyak anak yang memilih diam karena takut ditertawakan, takut disalahkan, dan takut di bully.

Jika kalian menganggap bahwa mereka saja yang baper atau terlalu sensitif, kalian juga harus ingat bahwa dalamnya hati tidak ada yang mengetahui. Jika kita bisa memilih menghindari sesuatu yang kemungkinan memberikan dampak negatif, kenapa kita memilih menuruti ego untuk kepuasan diri sendiri?

Disitulah kita, sebagai manusia, masih sering mengabaikannya.

Sebuah gurauan tidak akan pernah pantas untuk digunakan kepada mereka yang ingin berubah kearah yang lebih baik.

Sikap yang patutnya kita tunjukkan adalah, mendukungnya untuk selalu melangkah maju, mengingatkan mereka jika kita tahu apa yang benar. Bukan malah mencemooh, membully, dan menghina mereka.

Banyak contoh diluar sana, mereka yang menderita karena tidak adanya dukungan dari teman-teman sekitarnya.

Yang terjadi kemudian adalah, mereka akan depresi, stres, bahkan menganggap bahwa dunia ini adalah tempat yang pantas untuk ditinggalkan.

Ini tentang hal apapun. Untuk mereka yang ingin memperbaiki belajarnya, untuk mereka yang ingin memperbaiki dirinya, atau untuk mereka yang ingin memperbaiki hidupnya.

Temanku yang sedang berjuang, berusahalah terus untuk mencapai garis finish yang kamu inginkan. Sadarlah bahwa hasilmu tidak ditentukan oleh mereka, tetapi semata-mata karena usaha kerasmu sendiri dan ridho dari Allah.

Untuk mereka yang membully, sadarlah bahwa kalian adalah salah satu sumber semangat mereka, jangan pernah mematahkan asa yang dibangun mereka. Kalian harus ingat bahwa setiap detik yang berjalan kedepan dalam hidup ini masih penuh misteri. Akan ada masa dimana orang akan berubah. Ketika itu baik, dukunglah. Ketika itu buruk, ingatkanlah!

Jika ada seseorang yang menghinamu dan mempermalukanmu dengan sesuatu yang ia ketahui padamu, maka janganlah engkau membalasnya dengan sesuatu yang engkau ketahui ada padanya. Akibat buruk biarlah ia yang menanggungnya.

— HR. Abu Daud

 

” MAAF “

Masih teringat jelas di dalam pikiranku.

Malam itu, aku yang sedang lapar memutuskan untuk pergi ke sebuah mini market untuk membeli beberapa roti dan minuman.

Setelah melewati dingin yang menerpa tubuh, aku sampai disana dengan sedikit menggigil.

Disana juga ada 2 orang pemuda yang sedang membeli kopi yang bisa mereka gunakan untuk menghangatkan tubuh.

Setelah beberapa pilihan sudah ditangan, aku berjalan ke kasir dan antri tepat dibelakang 2 pemuda tadi.

Pintu terbuka, seorang kakek berjalan menuju kasir untuk membeli rokok.

Kakek itu berdiri tepat sejajar dengan 2 pemuda yang membawa kopi panas dalam cangkir styrofoam.

“Ahhhhh” Kakek itu berteriak dan mengagetkanku.

Entah bagaimana bisa, kopi panas itu sudah berpindah dari tempatnya menuju dunia luar. Air kopi yang panas itu membasahi kaki si kakek.

“Maaf ya pak”  sahut seorang dari dua pemuda itu.

Lalu apa yang salah? Bukankah semuanya tampak normal?

Yang salah adalah cara pemuda itu meminta maaf.

Dia meminta maaf sambil tertawa, bercanda dengan temannya, dan TIDAK berusaha melakukan sesuatu untuk mengeringkan kaki si kakek itu.

Dia bisa saja membeli satu pack tisu dan memberikannya ke kakek itu. Tetapi, itu tidak dilakukan.

Bagaimana keadaan si kakek?

Tanpa merasa marah, si kakek memaafkan sambil menahan rasa panas pada kakinya.

Sayangnya, sebelum aku bisa membantu si kakek, dia langsung keluar dari mini market tersebut.

Pelajaran yang bisa diambil?

  • Jika kalian melakukan kesalahan, minta maaf adalah hal yang HARUS dilakukan. Jangan mencari pembenaran di setiap kesalahan yang kita lakukan.
  • Minta maaflah dengan ikhlas, dan berempatilah! Meminta maaf sambil tersenyum atau bahkan tertawa menunjukkan bahwa kalian hanya memikirkan diri sendiri!
  • Belajarlah dari si kakek untuk selalu sabar dan tidak menanggapi suatu masalah dengan emosi. Karena emosi atau marah tidak akan pernah membuat keadaan lebih baik. Emosi atau marah hanya akan memperkeruh suasana dan menutupi titik temu yang dicari.

Barangsiapa memaafkan kesalahan orang lain, maka Allah akan memaafkan kesalahannya pada hari kiamat.

— H.R Ahmad

” PENCITRAAN “

Bulan puasa adalah bulan yang penuh berkah.

Di bulan itu juga, kita akan merancang berbagai agenda untuk silaturahmi dalam acara bernama “Buka Bersama”.

Adalah hal yang positif jika acara tersebut tidak keluar dari syariat islam. Karena, kita tahu bahwa karena buka bersama ini juga kita malah meninggalkan kewajiban untuk beribadah.

Bulan ramadhan ini tak jauh bedanya dengan bulan ramadhan sebelumnya.

Ada beberapa janji yang harus dihadiri untuk bersantap bersama.

Di acara ini juga aku dipertemukan dengan kawan-kawan lama.

Diantara mereka tetap memiliki karakter atau keadaan yang sama, atau bahkan 180 derajat berbeda dari yang dulu.

Masalah yang timbul adalah disini…

Masih adanya penilaian antara satu orang dengan yang lain.

Ketika tidak ada perubahan dalam hidup, kita seakan-akan dianggap sebagai manusia yang statis oleh mereka yang mencapai kesuksesan di “waktu mereka”.

Sama halnya dengan perubahan sikap.

Ketika kita berubah menjadi lebih baik, kita akan dicap sebagi orang yang hanya pencitraan.

Ketika kita menjadi lebih buruk, kita akan dicap sebagai orang yang gagal.

Kawanku, tugas kita adalah memperbaiki diri sendiri, bukan menilai atau menghakimi orang lain.

Satu detik dalam hidup saja bisa mengubah orang yang jahat menjadi baik, begitupun sebaliknya.

Kita mungkin saja tidak mengetahui mereka sesungguhnya.

Apa yang ada di depan matamu bisa saja salah. Apa yang didengar telingamu bisa saja keliru. Karena kita hanya mengetahui apa yang mereka izinkan untuk tahu.

Tetaplah berprasangka baik kepada siapapun. Dukung mereka yang berhijrah, dan doakan mereka yang belum.

Fakta yang ada adalah kita lebih senang menghabiskan waktu untuk menilai orang lain dan melupakan diri sendiri. Padahal kita ini akan dihadapkan pada Allah dan ditanyai tentang diri kita, bukan orang lain!

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.

— Al Isra’ 36

” SIKAP “

Hidup senantiasa bergulir.

Bagaikan roda, akan ada masanya dibawah dan ada masanya diatas.

Aku memiliki teman yang bisa dibilang telah sukses dalam membangun bisnisnya. Aku sebagai teman ikut merasakan kebahagiaan  ketika teman kita telah meraih apa yang diinginkannya.

Kemajuan teknologi seakan telah mengubah kita menjadi insan yang terbuka. Bahkan bisa dibilang, hampir tidak memiliki privasi.

Iya. Seperti biasa, curahan hati seseorang bisa diketahui dengan mudah hanya melalui sebuah status pada sosial media. Begitulah kiranya yang dilakukan temanku ini.

Sebelumnya, dia dihina oleh temannya yang sudah bekerja. Temannya menganggap bahwa keuntungan yang tidak seberapa dari bisnisnya itu tidak akan membawanya kemana-mana.

Jika sabar memiliki batas apakah itu tetap bisa dibilang sabar?

Temanku terpancing, status yang berapi-api dibuat.

Inti dari status tersebut adalah…

…Dia sekarang bisa membuktikan bahwa apa yang dikerjakannya berbuah hasil. Kalimat sarkasme mengikuti kalimat sebelumnya. Belum lagi dia menyinggung bahwa bekerja dengan orang lain tidak lebih baik dibandingkan dengan berbisnis sendiri.

Pelajaran…

  • Rasa iri tidak akan membawamu kemana-mana kecuali kehancuran diri sendiri. Temanmu yang memulai untuk melangkah tidak sepantasnya kau jegal dan kau jatuhkan. Dukung mereka!
  • Untuk kamu yang sakit hatinya. Bukanlah hal yang bijak jika kamu harus menanggapi orang yang berusaha menjatuhkanmu. Tak jarang karena emosimu juga, kamu malah merendahkan orang lain yang tidak mempunyai salah apa-apa, dan bahkan sebenarnya kamu sama dengan dirinya yang menghinamu. Bersabarlah, prestasimu sudah cukup untuk membungkam mulut mereka. Tidak usah menodai dirimu dengan hal yang seharusnya tidak kamu lakukan.

Be happy in front of your haters. It kills them