Celana yang sudah usang dan robek membuatku harus membeli satu lagi yang baru.

Dengan semangat, meluncurlah aku ke sebuah toko pakaian.

Sepasang patung cowok dan cewek menyapaku, seakan bilang…

” Silahkan dipilih baju dan celananya om! “

Berjalanlah aku, dan dipertemukan dengan patung cewek tanpa pakaian, seakan mengatakan…

” Bajuin aku ya ” -.-

Mbak pramuniaga datang menyapaku dengan kalimat realita….

” Ada yang bisa dibantu mas? “

Tanpa berpikir panjang aku mengatakan bahwa aku ingin membeli celana panjang.

Dengan baik hati, Mbaknya menuntunku untuk mendapatkan apa yang sedang aku cari.

Wow, ratusan celana panjang dengan model bermacam-macam berjejer rapi dan berteriak….

” Beli aku, Beli aku, Pilih aku, Pilih aku”

Satu, dua, tiga, berpuluh-puluh celana hanya bersentuhan dengan telapak tangan tanpa ada satu pilihan pasti untuk dicoba.

Tak terasa waktu sudah berlalu satu jam tanpa ada hasil yang didapat, dan hanya habis untuk memilih dan memilah.

Got it!

Satu celana panjang telah menarik mata dan hatiku, tapi tunggu, ada 5 celana lainnya yang juga bagus dan cocok untuk pantat tipisku ini.

” Wahyu, fokus!, cepat pilih satu dan pulang”

Akhirnya setelah beberapa pertimbangan, sebuah celana resmi dibuatkan nota.

Aku pulang dengan bahagia dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada mbaknya dan juga patung tanpa busana itu.

Hal menariknya disini…..

Setelah pulang, aku malah merasa menyesal dan bermain dengan “Jika saja”.

Jika saja tadi beli yang model satunya, pasti lebih keren.

Jika saja aku lebih sabar pasti akan dapat yang lebih baik.

Selamat datang di Paradox Of Choice.

• • •

Salah satu dogma yang berlaku di masyarakat kita adalah :

Jika kita ingin memaksimalkan kebahagiaan, maka cara terbaiknya adalah dengan memaksimalkan kebebasan kita.

Kita percaya bahwa untuk memaksimalkan kebebasan adalah dengan memaksimalkan pilihan yang akan kita ambil.

Semakin banyaknya pilihan, semakin bebas kita.

Semakin bebas kita, semakin bahagia kita.

Kita tahu bersama bahwa hidup kita dibombardir dengan pilihan-pilihan yang sangat banyak :

  • Kamu ingin membeli sebuah celana panjang. Kamu ke toko. Kamu melihat beratus-ratus macam dan ragam model yang siap untuk kamu bawa pulang.
  • Kamu ingin membeli sayuran. Kamu pergi ke pasar. Kamu akan dihadapkan dengan beratus-ratus sayuran yang berbeda.
  • Kamu ingin mengunduh aplikasi di telepon pintar. Kamu akan disuguhkan beribu-ribu aplikasi yang akan siap kamu coba.
  • Kamu memasuki jenjang perkuliahan. Kamu akan dibingungkan degan berbagai  program dari berbagai universitas yang berbeda.

Semua pilihan itu akan membuat kita lebih bahagia karena kita menganggap dengan adanya banyak pilihan maka tingkat kebahagiaan kita juga akan naik. Kepercayaan inilah yang masih tertanam dalam diri kita dalam kehidupan sehari-hari.

Tetapi, faktanya Paradox of Choice menggambarkan bahwa banyaknya pilihan tidak sejalan dengan banyaknya kebahagiaan yang kita dapat.

• • •

PARADOX OF CHOICE EFFECTS

Apa saja yang bisa membuktikan bahwa semakin banyaknya pilihan tidak sebanding dengan kebahagiaan yang kita dapat?

1. PENUNDAAN DAN KELUMPUHAN

Bayangkan kamu ingin membeli sebuah telepon pintar baru. Kemudian kamu dihadapkan pada 100 pilihan.

Apa yang akan kamu lakukan?

Kamu akan membandingkan satu dengan yang lain, kamu akan bingung mana yang harus dibeli. Karena kamu bingung, kamu berencana pulang terlebih dahulu untuk memikirkannya dirumah.

Endingnya? Kamu menunda untuk membeli dan lumpuh untuk mengambil keputusan. Hal ini disebut juga sebagai Analysis paralysis, adalah keadaan dimana kita menganalisis sesuatu secara berlebihan, membuat kita memikirkannya secara berlebihan dan membuat kita ‘lumpuh’ dalam memilih

Fakta: Semakin banyak pilihan malah membuat kita lebih sulit untuk memutuskan sesuatu. Semakin banyaknya pilihan malah akan membuat kita terganggu dan tidak fokus terhadap tujuan awal kita.

2. PENYESALAN : EKSPEKTASI YANG TINGGI DAN RUMPUT TETANGGA YANG LEBIH HIJAU

Diawal, banyaknya pilihan membuat kita seperti memiliki kebahagiaan yang akan bisa dijemput dari kebebasan yang kita punya.

Diakhir, kita menyesal dengan apa yang telah kita putuskan.

Mengapa?

Katakan kamu dihadapkan dengan 10 jenis rasa pizza yang akan kamu beli. Dengan pertimbangan yang matang dan ekspektasi yang tinggi, kamu membeli salah satu dari ke sepuluh rasa pizza tersebut. Setelah kamu makan, kamu merasa bahwa pizza yang kamu pesan kurang enak.

Akhirnya?

Kamu sekarang merasa bahwa pizza yang telah kamu beli lebih buruk dari lainnya. Kamu merasa bahwa jika membeli pizza yang lain, kamu bisa mendapatkan tingkat kepuasan yang lebih baik.

Fenomena ini juga dinamakan Opportunity cost, yaiu keadaan dimana kita memutuskan untuk memilih sesuatu kita juga mengorbankan pilihan lainnya. Hal ini kemudian membuat kita merasa menyesal. “Kenapa nggak pilih yang A aja ya tadi”. “Kenapa nggak pilih yang B aja ya, lebih baik kelihatannya”. Kita akan dibawa pada dimensi perbandingan dan dipertemukan dengan kekecewaan.

(PLOT TWIST)

Kamu dihadapkan dengan 10 jenis rasa pizza yang akan kamu beli. Dengan pertimbangan yang matang dan ekspektasi yang tinggi, kamu membeli salah satu dari ke sepuluh rasa pizza tersebut.

Setelah kamu makan, kamu merasa puas karena rasanya yang enak. Tetapi, tiba-tiba kamu berpikir dan percaya bahwa pizza lainnya memiliki kemungkinan untuk memiliki rasa yang lebih enak. Hal ini terjadi karena kamu tidak bisa merasakan rasa pizza lainnya.

Fakta: Semakin banyak pilihan maka akan semakin besar kesempatan kita dalam membandingkan satu sama lain. Semakin besar kesempatan kita dalam membandingkan satu sama lain akan membuat tingkat ekspektasi yang semakin tinggi. Semakin tingginya ekspektasi akan membuat tingkat penyesalan juga semakin tinggi.

3. MENYALAHKAN DIRI SENDIRI

Ketika kita merasa menyesal, hal pertama yang akan kita lakukan adalah menyalahkan. Pertanyaannya adalah ” Kepada siapa kita menyalahkan semua hal yang terjadi itu? “

Menyalahkan dunia? Itu tidak bisa kita kontrol.

Menyalahkan orang lain? Itu juga tidak bisa kita kontrol.

Lalu?

Pada akhirnya kita akan menyalahkan diri sendiri karena merasa bahwa kita tidak bisa memutuskan sesuatu dengan benar. Hal ini akan sangat berbahaya.

Rasa penyesalan yang begitu mendalam akan menggiring kita ke arah depresi. Meskipun mungkin hanya sebatas pizza atau celana, faktanya kita terkadang masih merasakan penyesalan semacam ini.

• • •

MAXIMIZER VS SATISFICER

Di dalam bukunya The Paradox Of Choice, Barry Schwartz menjelaskan bahwa ada dua tipe orang, yaitu maximizer dan satisficer. Istilah itu diambil dari Herbert Simon, seorang pemenang hadiah Nobel ilmu Ekonomi pada tahun 1956.

  1. Maximizer : Orang yang bertipe maximizer adalah orang yang perfectionist. Mereka harus bisa memutuskan sesuatu yang terbaik. Hal ini bisa menjadi baik dan buruk. Baik karena bisa meminimalisasi kekurangan atau keburukan atas pilihan yang dihadapinya. Buruk karena terlalu memakan waktu yang lama dan merasa seperti beban jika dihadapkan pada pilihan yang semakin banyak.
  2. Satisficer : Seorang yang bertipe satisficer adalah seorang yang memiliki kriteria dan standart tertentu dalam memilih sesuatu. Orang yang bertipe ini adalah orang yang tidak merasa khawatir akan kemungkinan pilihan yang lebih baik daripada apa yang sudah dipilih.

Bisa ditarik kesimpulan bahwa seorang satisficer akan mendapatkan hasil yang lebih maksimal. Mungkin tidak selalu dalam apa yang dipilih, tetapi emosi yang terjadi pada seorang satisficer akan membuat mereka lebih puas dan tenang (Bersyukur.)

Lalu kamu tipe yang mana? Maximizer atau satisficer?

Barang siapa yang tidak mensyukuri yang sedikit, maka ia tidak akan mampu mesyukuri sesuatu yang banyak

— HR. Ahmad

• • •

SOLUSI PARADOX OF CHOICE

Solusi yang sangat mendasar untuk kita pahami adalah berhenti mempercayai dogma bahwa semakin banyak pilihan akan semakin membuat kita bahagia. Kita harus menyadari bahwa jika diberi pilihan yang banyak, kita malah cenderung mengalami hal-hal negatif.

Kita harus mengetahui bagaimana cara memilih sesuatu, tak hanya dengan baik tetapi juga bijak.

  • Tentukan tujuan utama. Dengan mempertanyakan “Apa yang aku butuhkan?”, kamu akan memiliki gambaran yang jelas tentang karakter, standart, patokan, atau kriteria sesuatu hal yang kamu cari. FOKUS!
  • Urutkan pilihan. Jika kamu masih memiliki banyak hal untuk dibandingkan, buatlah prioritas terhadap pilihan-pilihan tersebut yang sesuai dengan tujuanmu. Coret sesuatu yang tidak sejalan dengan tujuanmu. ELIMINASI!
  • Puaslah. Setelah menemukan hal yang kamu pilih, bersyukurlah. Tidak usah bermain dengan “Jika saja.” Percayalah bahwa yang kamu pilih adalah sesuatu yang yang terbaik buatmu. Dengan ini kamu akan senantiasa menjauhkan kata mengeluh dan menyesal.

Dengan memadukan keunggulan di setiap tipe ( maximizer dan satisficer ) kita akan mendapatkan hasil yang lebih maksimal.

Tanamkan pada dirimu, bahwa rumputmu lebih hijau dari rumput tetangga.

Focus on what makes you happy, and do what gives meaning to your life

— Barry Schwartz

 


FOOTNOTES

  1. Barry Schwartz membahas paradox of choice ini di TED Talk dan Juga bukunya dengan judul yang sama.
  2. Penjelasan lebih lanjut bisa kamu baca di The Paradox of Choice, Opportunity cost dan Analysis paralysis.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.