Siapa yang menyangka jika ketenaran James Grover Thurber sebagai salah satu kartunis populer Amerika berawal dari tempat sampah.

Pada tahun 1925, Thurber memulai karier pertamanya di New York sebagai reporter di New York Evening Post. Dua tahun kemudian, dia memutuskan untuk bergabung dengan The New Yorker—majalah mingguan Amerika yang menampilkan jurnalisme, kritik, esai, fiksi, satir, kartun, dan puisi—sebagai editor.

Suatu hari, E.B. White, yang juga merupakan seorang kontributor di The New Yorker, menemukan beberapa gambar Thurber di tempat sampah. Karena tertarik, dia merapikan gambar tersebut dan mengirimkannya untuk diterbitkan.

Dan, sisanya menjadi sejarah. Thurber membagikan tulisan dan gambarnya di The New Yorker hingga tahun 1950-an. Dari berbagai gambar yang dia buat, ada komik satu panel yang menarik perhatianku.

“Dia mengetahui semua hal tentang seni, tetapi dia tidak tahu apa yang dia sukai.”

Kita mungkin memang bukan seorang seniman, tetapi pesan dalam ilustrasi Thurber sangat menggambarkan cara kita menjalani kehidupan.

• • •

Terbatasnya Pembaruan

Sebagai manusia, kita sangat menginginkan sesuatu yang baru. Kita mencari pembaruan berupa kondisi, alur cerita, atau pengalaman untuk meminimalisir kebosanan. Misalnya, kegiatan baru sebagai pengisi daya emosi, tantangan baru sebagai penghidup dorongan diri.

Saat masih anak-anak, mayoritas dari kita memfokuskan diri untuk memuaskan rasa keingintahuan. Kita tidak akan berpikir dua kali untuk mengambil tindakan seperti mengeksplor benda baru, tempat baru, kegiatan baru karena insting untuk memperkaya pengalaman hidup, menyesuaikan batasan, dan hasrat menemukan hal yang menyenangkan lebih mendominasi.

Sayangnya, ketika menjadi dewasa, perbedaan itu terlihat nyata. Tanggung jawab yang lebih besar membuat fokus kita terbagi—mencukupi kebutuhan untuk bertahan hidup atau mencari pembaruan.

Jika untuk mencukupi kebutuhan, kita harus mengikuti jadwal yang sistematis, bekerja dengan pola yang sama, dan tak jarang memaksa diri untuk melakukan sesuatu yang tidak mencerminkan siapa kita. Memang, tidak semua orang terjebak dalam pekerjaan yang kaku, tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak orang yang menjalani kehidupan dengan tingkat kemonotonan yang tinggi. Di lain sisi, mencari pembaruan juga bukan merupakan hal yang bisa diabaikan.

Dilema itu akhirnya membuat porsi fokus yang kita keluarkan tidak seimbang. Kita lebih memilih mengorbankan waktu menjelajahi tempat baru hanya untuk urusan pekerjaan. Kita lebih memilih mengorbankan tenaga mencari pengalaman baru hanya untuk memenuhi kebutuhan pokok. Kita kehilangan fleksibilitas diri untuk melakukan A, B, C karena tidak ada lagi jaminan keamanan yang kita dapatkan seperti saat masih kecil. Keadaan membuka mata kita bahwa untuk bertahan kita harus bisa berdiri di kaki sendiri meskipun harus mengurangi dosis untuk menyenangkan diri.

Untungnya, pembaruan yang didapatkan oleh seseorang sebenarnya tidak terikat pada fase hidup anak-anak atau dewasa, tetapi terikat pada kemauan dan kemampuan orang itu dalam menggunakan sumber daya yang tersedia untuk mencapai kebahagiaan.

• • •

Kebahagiaan, Kesenangan, dan Kenikmatan

Kita berpikir bahwa tingkat kesenangan sebanding dengan kadar kebahagiaan yang kita dapat. Semakin hal itu memberikan kesenangan, semakin bahagia diri kita. Tidak, kedua hal itu tidak berjalan linier!

Dalam bukunya yang berjudul Flow, Mihaly Csikszentmihalyi, seorang psikolog yang meneliti kebahagiaan, menuliskan…

Kesenangan adalah perasaan puas yang dicapai seseorang setiap kali informasi dalam kesadaran mengatakan bahwa harapan yang ditetapkan oleh program biologis atau oleh kondisi sosial telah terpenuhi.

Misalnya, kesenangan dari rasa makanan saat kita lapar untuk mengurangi ketidakseimbangan fisiologis. Kesenangan dari alkohol atau obat-obatan untuk “mengurangi” stres.

Kedua contoh tersebut membenarkan pernyataan bahwa kita mendapat kesenangan, komponen penting dalam kehidupan yang berkualitas, tetapi kegiatan itu tidak mendatangkan kebahagiaan. Mengapa? Karena kegiatan tersebut tidak menambah kompleksitas—kesatuan dari berbagai informasi yang masih berantakan untuk menciptakan keteraturan dan keterampilan—pada diri.

Tanpa adanya kompleksitas dalam diri, kita hanya mengikuti insting. Kita hanya mengikuti kebiasaan menyenangkan yang tidak menawarkan perbaikan kualitas diri. Keadaan seperti ini membuat kita tidak mengenal tujuan untuk menjadi seseorang yang terampil.

Mihaly menjelaskan bahwa kehidupan yang bermanfaat tidak hanya memberikan kesenangan, tetapi juga kenikmatan—ditandai dengan adanya kemajuan, atau pencapaian setelah kita menyelesaikan sebuah aktivitas. Kita tidak hanya memenuhi beberapa harapan sebelumnya, memenuhi kebutuhan, atau keinginan, tetapi juga mencapai perkembangan diri.

Makan itu memberikan kita kesenangan, tetapi tidak semua orang bisa mendapatkan kenikmatan. Kita akan memiliki sensasi berbeda dengan seorang pencicip makanan karena ada perbedaan cara yang kita lakukan: kita makan hanya sebatas merasakan enak dan tidak, sedangkan pencicip makanan mengerahkan semua perhatiannya untuk mendapatkan detail makanan. Kita hanya merasakan kenyang, pencicip makanan merasakan perubahan emosi, ujian kepekaan lidah terhadap rasa, kemampuan otak mengingat bahan-bahan makanan, atau latihan untuk mempertajam indera.

Bekerja juga begitu. Meskipun dua orang sama-sama mendapatkan kesenangan saat bekerja, itu tidak menjamin keduanya mendapatkan kenikmatan. Jika orang pertama hanya melihat aktivitas yang sesuai diri mereka, mereka hanya mengulangi perasaan yang sama di hari gajian, tetapi jika orang kedua mencari dan menyelesaikan tantangan baru di luar pola biasanya, mereka akan mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya—dalam definisi Mihaly—karena dia telah memperbaiki kemampuan di setiap penyelesaian tantangan baru, semakin memperbaiki martabat di mata orang lain, memperbesar kesempatan untuk memperlebar karier.

Dalam bahasa yang lebih sederhana: Kita bisa mencapai kesenangan tanpa melibatkan energi psikis, tetapi kita tidak bisa mendapatkan kenikmatan tanpa menginvestasikan perhatian secara penuh.

• • •

Kehidupan yang Optimal

Kehidupan yang semakin maju membuat manusia berlomba-lomba menciptakan terobosan baru, termasuk di bidang teknologi. Kita tidak hanya memanfaatkan kemampuannya dalam memperpendek jarak dan waktu, tetapi juga menggunakannya untuk mendapatkan pembaruan.

Dari sekian banyak cara dalam mendapatkan pembaruan di dunia teknologi, kita lebih sering memilih kegiatan pasif seperti menyerap informasi dari dunia maya—sumber daya yang paling mudah kita akses— daripada kegiatan aktif seperti menerapkan informasi tersebut. Kita lebih sering mengonsumsi berita, atau gosip daripada menerapkan ilmu tentang cara olahraga yang baik.

Kita tidak perlu menyalahkan diri sendiri karena kehidupan orang dewasa memang membuat waktu dan energi kita terbatas. Maka sangat masuk akal bagi kita untuk lebih memilih kesenangan yang menenangkan daripada kenikmatan yang mengembangkan karena pilihan pertama bisa diraih tanpa membutuhkan investasi diri yang besar.

Jika itu sudah menjadi pola, kita percaya bahwa kita bisa hidup dengan hanya mengandalkan kesenangan. Iya, itu benar, tetapi jangan melewatkan dimensi lain yang menunjukkan bahwa ketika kita memberi porsi lebih banyak dalam mencapai kesenangan, kita tidak hanya melewatkan perkembangan yang diberikan kenikmatan, tetapi juga memperbesar kemungkinan untuk menjadi seniman yang ada dalam ilustrasi Thurber—salah memusatkan perhatian.

Kita tidak peka lagi terhadap konsekuensi tindakan terhadap emosi, tidak bisa lagi membedakan sesuatu yang merawat kualitas pikiran, dan sesuatu yang tidak. Kita kehilangan kesadaran untuk mengevaluasi tindakan dan melihat perbedaan sebagai anomali. Kita tidak segan untuk meladeni sesuatu yang tidak mencerminkan apa yang kita hargai, menyalahkan opini yang berlawanan, atau mencemooh hal yang tidak sesuai batasan kita. Semua itu kita lakukan karena kita melihat tindakan menyamakan apa yang tidak sejalan dengan kepercayaan kita adalah hal yang memberikan kesenangan.

Pencarian kesenangan seperti itu tidak memberikan kita apa-apa kecuali melibatkan diri pada hal di luar kontrol yang mengundang emosi negatif.

Kata Jalaluddin Rumi, seorang penyair Persia, “Seni mengetahui adalah mengetahui apa yang harus diabaikan.” Percuma saja kita mengetahui daftar hal yang bisa membuat kita senang, tetapi tidak paham daftar hal yang harus kita abaikan—sesuatu yang membuat kita takut, sedih, marah, atau yang memberikan kita kemunduran. Percuma saja kita memiliki kemampuan yang baik dalam berakting, bernyanyi, atau melukis jika masih mempedulikan hal yang jelas-jelas tidak sejalan dengan keinginan memperbaiki keahlian dan kualitas hidup.

Untuk mendapatkan kehidupan yang optimal, kita tidak hanya dituntut untuk mencapai kesenangan dengan cara yang sehat,—bisa mengabaikan hal yang membuat kita tidak nyaman—tetapi juga diharuskan mencapai kenikmatan dengan cara menginvestasikan sumber daya—tenaga, waktu, emosi, perhatian—pada hal menantang yang bisa diselesaikan sebagai alat untuk menampilkan potensi diri terbesar.