Pada tahun 1933, seorang filsuf dari Norwegia, Peter Wessel Zapffe menulis sebuah esai berjudul The Last Messiah. Dalam tulisan tersebut, Zapffe membagikan sudut pandangnya tentang kondisi manusia secara pesimisme—pemahaman bahwa segala sesuatu yang ada pada dasarnya adalah buruk atau jahat dan cenderung berfokus pada hal-hal negatif dalam kehidupan secara umum.

Bagi Zapffe, pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang hanya menimbulkan kecemasan, keputusasaan, dan depresi pada manusia disebabkan oleh evolusi yang kelewatan batas. Kecerdasan kita terlalu berkembang sehingga melahirkan kesadaran yang berlebihan.

Meskipun kelebihan kesadaran dan intelek yang dimiliki manusia merupakan sesuatu yang bisa disambut sebagai teman karena membuat manusia dapat menggerakkan realitas untuk bertahan hidup hingga mampu menyelamatkan diri dari kepunahan, Zapffe melihatnya dalam sisi yang berlawanan.

Dalam kata-katanya, manusia adalah “Sebuah pelanggaran dalam kesatuan hidup, paradoks biologis, kekejian, absurditas, dilebih-lebihkan sifat bencana.” Secara sederhana, kesadaran yang dimiliki manusia dilihat Zapffe sebagai musuh karena meningkatkan kemampuan kita menjelajahi kehidupan dalam imajinasi tanpa batas, menyusun pertanyaan atau pernyataan yang bisa mengaktifkan kepanikan, dan berakhir dalam ketakutan terhadap kehidupan itu sendiri.

Penderitaan milyaran manusia masuk ke dalam dirinya melalui pintu gerbang welas asih, dari semua yang terjadi muncul tawa untuk mengejek tuntutan akan keadilan, prinsip tata tertibnya yang paling dalam. Dia melihat dirinya muncul di rahim ibunya, dia mengangkat tangannya ke udara dan memiliki lima cabang; dari mana nomor lima yang jahat ini, dan apa hubungannya dengan jiwaku? Dia tidak lagi jelas bagi dirinya sendiri—dia menyentuh tubuhnya dengan ngeri; ini adalah kamu dan sejauh ini kamu memperpanjang dan tidak lebih jauh. Dia membawa makanan di dalam dirinya, kemarin itu adalah binatang yang dapat dengan sendirinya berlari-lari, sekarang aku menyedotnya dan menjadikannya bagian dari diriku, dan di mana aku memulai dan mengakhiri? Semua hal berantai bersama dalam sebab dan akibat, dan segala sesuatu yang ingin dia pegang larut sebelum pengujian berpikir. Segera dia melihat mekanik bahkan sejauh ini secara keseluruhan dan sayang, dalam senyum kekasihnya ada senyuman lain juga, sepatu bot robek dengan jari kaki. Akhirnya, ciri-ciri benda hanyalah ciri-ciri dirinya sendiri. Tidak ada yang ada tanpa dirinya sendiri, setiap baris menunjuk ke arahnya, dunia hanyalah gema hantu dari suaranya—dia melompat dengan keras dan berteriak dan ingin menceburkan dirinya ke bumi bersama dengan makanannya yang tidak murni, dia merasakan kegilaan dan keinginan yang membayangi untuk menemukan kematian bahkan sebelum kehilangan kemampuan seperti itu.

Gambaran pahit tentang manusia di mata Zapffe tidak selesai sampai di sana. Kesimpulannya yang lebih suram di mata kita adalah “Selama umat manusia dengan ceroboh melanjutkan angan-angan fatal yang ditakdirkan untuk menang secara biologis, tidak ada hal esensial yang akan berubah. Ketika jumlahnya meningkat dan atmosfer spiritual mengental, teknik perlindungan harus memikul karakter yang semakin brutal. Dan manusia akan terus memimpikan keselamatan dan penegasan dan Mesias yang baru. Namun, ketika banyak penyelamat telah dipaku ke pohon dan dilempari batu di alun-alun kota, maka Mesias terakhir akan datang.”

Mudahnya, solusi terbaik menurut Zapffe agar manusia tidak lagi merasakan penderitaan dan kekejaman dunia yang dirasionalkan oleh kesadaran adalah dengan berhenti memiliki anak. Keadaan itu menempatkan kita sebagai Mesias terakhir di mana hidup dalam realitas terakhir di dunia ini—dengan segala kesusahan, penderitaan, kesakitan, ketidakadilan—dalam garis keturunan masing-masing.

Kehidupan dunia adalah sungai yang menderu, tetapi bumi adalah kolam dan air terpencil.

Tanda malapetaka tertulis di alismu—berapa lama kamu akan menendang tusukan jarum?

Tapi ada satu penaklukan dan satu mahkota, satu penebusan dan satu solusi.

Kenali dirimu—mandul dan biarkan bumi menjadi sunyi setelah kamu.

Pandangan antinatalisme—sebuah filosofi yang merekomendasikan agar kita berhenti melanjutkan keturunan—yang dipegang Zapffe memang masih beresonansi dengan beberapa orang di zaman ini, tetapi dalam kenyataannya, kebanyakan manusia di bumi ini masih belum mampu atau memang tidak ingin menjalani kehidupan seperti itu.

Bagi kita sendiri, keresahan Zapffe mungkin sama sekali tidak mendekati realitas yang kita bangun selama ini, tetapi jika mau melihatnya lebih dalam lagi, ada peringatan penting yang tidak bisa kita abaikan begitu saja bahwa meneruskan keturunan bukanlah sebatas mempertemukan sperma paling tangguh dengan sel telur yang telah menunggu untuk dibuahi.

Ada tanggung jawab yang harus bisa kita aplikasikan tidak hanya kepada diri sendiri, tetapi juga kepada orang lain—pasangan atau anak kita, dan ini membutuhkan tindakan yang cukup sehat, atau jalan cerita yang dibangun memiliki kemungkinan yang tinggi untuk kacau.

Masalahnya, tindakan itu tidak hanya lahir dari pertanyaan “Mengapa kita ingin memiliki anak?”. Sebelum itu, kita harus menjawab pertanyaan “Mengapa kita ingin menikah?”—2 pertanyaan yang hampir tidak pernah tersentuh.

• • •

Mengapa Kita Menikah?

“Aku akan menjadikanmu pasangan hidupku,” adalah kalimat yang kita harapkan ada sebagai bentuk kepastian dalam hubungan percintaan. Tanpa adanya kepastian, hubungan yang berlangsung masih dianggap tidak serius. Setidaknya, itulah cara kita belajar dari pengalaman. Itulah cara kita mengukur hubungan yang baik.

Dalam pemahaman itu, kita dibuat lupa bahwa sebuah kepastian hanya menjamin keseriusan dalam mengubah status yang disetujui bersama, tetapi jaminan keseriusan dalam membangun kualitas hubungan sangat perlu diperjelas lagi.

Ini menjadi lebih kompleks karena di negara kita, pada umumnya, kepastian yang dimaksud tidak bisa hanya berupa kata-kata manis di depan mata pasangan, tetapi juga harus di depan wali dan penghulu. Iya, kepastian hubungan di budaya kita adalah menikah.

Entah sudah berapa kali kita membayangkan diri berdiri di atas pelaminan dengan seseorang yang kita anggap jodoh. Menandai tanggal tersebut dengan makna yang berbeda. Menjalani tujuan kolektif sebagai langkah menjemput kebahagiaan dalam bentuk yang tidak pernah dilalui sebelumnya.

Sayangnya, kebahagiaan di atas pelaminan tidak bisa berjalan secara konstan karena pemeliharaan hati dalam kehidupan pernikahan dimulai bukan hanya setelah akad, tetapi di setiap realitas baru yang terakumulasi: Ketika kita tahu kebiasaan buruk pasangan kita, ketika kita tahu sifat lain yang sebelumnya tidak pernah ditunjukkan pasangan kita, ketika memiliki anak, ketika menghadapi konflik bersama, ketika anak masuk sekolah pertama kali, ketika kulit pasangan kita berkeriput, bentuk badan berubah, rambut memutih, dan daftar lanjutan yang ada dalam proses berbeda dari kehidupan pernikahan masing-masing orang.

Kenyataan demi kenyataan yang dirasionalkan pikiran kemudian melahirkan tiga realitas yang berbeda. Pertama, jika di tengah perjalanan, perbedaan yang ada tidak bisa ditoleransi, mengakhiri hubungan tanpa melihat lamanya durasi kebersamaan atau kumpulan kenangan indah yang telah disusun lebih dipilih daripada hidup bersama dalam ketidaksesuaian yang menyakitkan.

Kedua, dalam realitas lain yang sudah tidak asing lagi, tinggal dan bertahan dalam hubungan meskipun harus memakan semua perasaan negatif justru dianggap menjadi alternatif terbaik. Memparafrasakan kata-kata Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman, bahwa seseorang berbohong untuk keluar dari kenyataan karena dia telah disakiti kenyataan itu sendiri.

Apa pun masalah yang ada di sana, apa pun alasan seseorang untuk memilih berpisah atau bertahan dalam hubungan yang tidak sehat, itu terjadi karena hilangnya kualitas yang biasanya mereka hargai.

Menariknya, itu sering kali terjadi bukan disebabkan oleh pasangan yang tidak mau berusaha, tetapi disebabkan oleh kurangnya pemahaman tentang hubungan yang dijalani. “Tindakan,” kata Jiddu Krishnamurti, seorang guru spiritual dari India, “hanya memiliki makna dalam sebuah hubungan, dan tanpa memahami hubungan, tindakan di tingkat mana pun hanya akan melahirkan konflik.”

Suguhan yang diberikan realitas semakin membenarkan kutipan tersebut. Ketika orang hanya tahu tentang berusaha, tetapi sedikit memahami makna sebuah hubungan, dia akan buta arah. Akibatnya, keputusan yang dibuat, dan usaha yang dikondisikan tidak akan pernah mendekati target—kualitas hubungan yang diharapkan. Maka jangan kaget jika akhir hubungan tersebut menjadi dua realitas pertama—mengakhiri hubungan, atau tinggal dalam hubungan yang tidak sehat.

Kita tidak perlu terburu-buru untuk tinggal dalam kepastian—menikah. Hal yang seharusnya menjadi prioritas kita sekarang ini adalah mendalami pemahaman tentang hubungan agar pencarian, rencana, atau investasi tindakan yang dilakukan mendekatkan kita dengan tujuan. Tanpa pemahaman yang bisa mendekatkan kita ke sedikit salah, pernikahan hanya menjadi tempat di mana dua orang memperlihatkan kebahagiaan di hadapan orang lain, tetapi menunjukkan gesekan perasaan di hadapan pasangannya sendiri.

Di sinilah realitas ketiga itu berada: Hubungan yang dibangun didasarkan pada pemahaman yang tepat di mana setiap perbedaan yang terjadi di dalam kehidupan berumah tangga, setiap kejutan yang mengaktifkan perasaan, atau bahkan setiap kesalahan yang terjadi, ditanggapi secara dewasa sehingga hasil yang ada tidak memperburuk nilai rapor kehidupan pernikahan, tetapi justru menambah mata pelajaran baru yang harus dipahami dan diselesaikan bersama agar tidak mendapat nilai merah.

Dengan pemahaman yang tepat, kita juga selangkah lebih maju dalam memahami diri sendiri yang masih belum dewasa—yang masih meluapkan perasaan hanya untuk memuaskan emosi—sebelum menjaga dan menemani orang lain dalam status istri atau suami.

Aku sangat sadar bahwa apa yang aku bahas di sini tidak bebas dari potensi jebakan. Bahkan, aku sangat mungkin melewatkan detail-detail lain dengan benar. Namun, untuk permasalahan ini, kita bisa setuju bahwa permasalahannya bukan terletak pada detailnya. Masalahnya adalah kita terlalu meromantisisasi hubungan yang ada di dalam pernikahan hingga lupa tentang pentingnya memahami hubungan pernikahan dengan lebih baik, lebih dalam, dan lebih sehat.

Sebelum menjawab “bagaimana”, mari kita mulai dari pertanyaan yang lebih mendasar: Mengapa kita menikah?

Tentu saja, ada beberapa alasan untuk menjawab pertanyaan itu. Belum lagi latar belakang siapa diri kita yang juga memengaruhi hasil jawaban di sana. Namun, aku melihat ada dua jawaban yang paling bisa diterima oleh kebanyakan orang, dan dua jawaban yang akan sulit diakui.

Pertama, menikah karena perintah agama. Aku tidak bisa membahasnya panjang lebar mengingat bagian ini berakar pada kepercayaan beragam yang didasarkan pada kitab pedomannya masing-masing. Yang pasti, apa pun bentuk aturan itu, garis akhirnya adalah kebaikan, tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga pasangan, dan keluarga—menurut kacamata agama.

Permasalahannya, ketika kita meletakkan label “sangat penting” dan menggantungkan tindakan hanya berdasarkan prinsip-prinsip agama yang kita anut, pikiran kita terkurung dan lupa tentang hal-hal penting lainnya. Tanpa adanya pemahaman tentang ilmu lain, praktik agama yang diterapkan hanya memberikan kekuatan dalam lingkupnya, tetapi membuka pintu gangguan dan melemahkan realitas lain. Jika kualitas keputusan menjadi prioritas utama, kita harus belajar untuk mengintegrasikan ilmu.

Kedua, menikah karena tujuan hidup. Bukan lagi menjadi rahasia bahwa kita dibesarkan dengan gagasan bahwa suatu hari nanti seseorang akan melihat, memilih, dan hidup bersama dengan kita selamanya. Dikotomi cara mendapatkan pasangan antara perempuan dan laki-laki kemudian lahir. Anak perempuan dididik secara berbeda dengan anak laki-laki hanya berdasarkan standar budaya yang berlaku, bukan berdasarkan kebutuhan.

Ironinya, standar itu kemudian dijadikan patokan oleh beberapa orang. Dengan harapan yang tinggi, mereka meletakkan langkah demi langkah sesuai dengan standar yang berlaku agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Dan, lagi, kehidupan memberikan lemon untuknya. Ketika apa yang dilakukan tidak kunjung terjadi, kesadaran menampar mereka untuk mempertanyakan usaha yang telah dikeluarkan dan akhirnya menuntun mereka untuk mengakui jauhnya diri dari keidealan yang dihargai masyarakat.

Semua tekanan ini berat sekali. Ajaran seperti wanita harus bisa memasak, tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, seharusnya tidak lagi berlaku karena memang tidak sejalan dengan hasil yang diharapkan. Ajaran seperti pria tidak boleh cengeng, pemilik kekuasaan yang tidak boleh dibantah, juga tidak lagi valid karena memang tidak selalu bisa menjawab persoalan. Hal yang lebih penting adalah kemampuan individu dalam memenuhi kebutuhan sesuai dengan realitas dan siapa dirinya.

Menjadikan pernikahan sebagai tujuan adalah hal yang seharusnya kita tinggalkan karena kenyataan selalu menemukan cara untuk membengkokkan realitas menjadi jutaan bentuk yang berbeda.

Ketiga—satu dari dua alasan menikah yang sulit diakui oleh kebanyakan orang—adalah menikah karena status. Aku paham bahwa keterhubungan, kecocokan, dan cinta, menjadi landasan kita dalam memilih pasangan. Namun, jika seperti itu, aku bisa mengatakan bahwa tanpa adanya pernikahan pun seharusnya kita bisa hidup dengan seseorang yang kita anggap the one, bukan? Nyatanya tidak. Mengapa? Karena kita membutuhkan validasi orang lain tentang status yang kita miliki.

Apa kata orang-orang di sekitarmu jika kamu tinggal di dalam satu atap tanpa status? Apa kata orang tuamu jika kamu hidup dengan seseorang tanpa status? Apa kata keluargamu jika kamu memiliki anak dari hubungan tanpa status?

Seperti yang ditulis Andrew Cherlin di The New York Times, “Pernikahan telah menjadi simbol statuspenanda yang sangat dihormati dari kehidupan pribadi yang sukses. …Dokumen-dokumen itu mencerminkan, sebagian, asumsi bahwa pernikahan tidak hanya mewakili sekumpulan hak tetapi juga posisi istimewa.”

Meskipun artikel tersebut ditujukan untuk warga Amerika, kita masih bisa melihatnya sebagai salah satu jalan untuk menemukan potongan siapa diri kita dalam menghadapi realitas. Motif tersembunyi ini memiliki agenda untuk memberitahukan kepada orang-orang melalui acara, status, atau foto di media sosial bahwa “Hei, kamu, lihat siapa yang berdiri di sampingku sekarang ini? Bukan dia yang dulu membuangku. Bukan juga dia yang dulu main gila dengan orang lain. Dia yang berdiri di sampingku sekarang ini adalah jodohku.”

Tidak bisa dielakkan lagi bahwa lingkungan kita memiliki andil dalam terciptanya motif tersembunyi tersebut: Kita ingin diakui, diterima, dan dihormati dalam masyarakat. Kita butuh mengamankan “siapa diri kita” agar bisa berfungsi baik dan teratur di mata orang lain. Ini juga menegaskan bahwa kehidupan kita lebih diatur oleh nilai-nilai yang berlaku di masyarakat daripada kebutuhan diri yang bisa menjauhkan penderitaan fisik dan mental.

Sisi gelap dari validasi eksternal seperti itu mengartikan, “Orang-orang menikah untuk menunjukkan kepada keluarga dan teman-teman mereka betapa baiknya kehidupan mereka, meskipun jauh di lubuk hati mereka tidak yakin apakah pasangan mereka akan bertahan seumur hidup.

Itu memang tidak mudah untuk dicerna. Sebelum menikah, pengalaman yang kita bangun dengan pasangan kita hanya terjadi dalam beberapa bulan. Meskipun telah bepergian bersama, menangis bersama, berbagi keresahan bersama, pasangan kita hanya mengenal diri kita dalam batasan tertentu. Dalam realitas lain, beberapa pasangan justru belum pernah, sama sekali, bertukar aspirasi atau ketakutan terbesar atau trauma masa lalu. Kita harus menerima bahwa, bagaimanapun, kita menikah, dengan seseorang yang sebenarnya belum benar-benar mengenal diri kita.

Memang, menjadi sesuatu yang mendekati kemustahilan untuk benar-benar mengerti siapa pasangan kita. Namun, bukan di sana perhatian kita seharusnya dihabiskan. Poin yang harus bisa kita cermati bersama adalah kita harus bisa menemukan titik-titik penting, fundamental, dan yang paling dekat dengan kebenaran tentang siapa pasangan kita. Sedangkan sisanya akan dijawab melalui pengalaman yang dijalani bersama.

Pernikahan juga membawa keamanan bagi masing-masing individu karena orang-orang yang tinggal di dalamnya terikat dan diatur hukum yang berlaku di sebuah negara. Di satu sisi, ini menjadi hal positif karena regulasi yang ada bisa sedikit menekan kekhawatiran dan bisa menjadi jalan alternatif ketika ada hal buruk terjadi.

Di sisi lain, keamanan itu memberikan kenyamanan, dan kenyamanan membuat kita malas. Karena hubungan membutuhkan usaha yang terus diinvestasikan, kemalasan bisa menjadi penyebab rusaknya pola dalam membangun dan merawat hubungan yang berkualitas. Budaya yang dulu dijunjung tinggi sebelum menikah memudar setelah ada ikatan pernikahan. Terus-menerus membiarkannya akan meningkatkan kemungkinan kita menjadi seseorang yang meminta penjelasan terhadap sesuatu yang sebenarnya kita buat sendiri.

Mengakui atau tidak, kita memang cenderung menginginkan apa yang dimiliki orang lain. “Orang-orang,” kata Robert Cialdini, “akan melakukan hal-hal yang mereka lihat dilakukan orang lain.” Di satu titik, beberapa orang akan menginginkan sebuah pernikahan hanya karena melihat orang lain yang sudah sampai di fase tersebut.

Wajar? Tentu saja, bahkan itu bukan menjadi hal yang harus dipermasalahkan. Ada hal yang lebih membutuhkan perhatian kita dan itu adalah perasaan kita. Apakah pernikahan membuat kita lebih bahagia? Iya dan tidak. Yang kita tahu sekarang ini, seseorang yang belum menikah, adalah kita menghargai keamanan, tetapi kita juga membutuhkan kejujuran hati.

Kejujuran hati inilah yang menuntun kita mendapatkan alasan keempat mengapa kita menikah—kita belum bisa mandiri. Gambaran itu tidak menyuruh kita untuk mengategorikan diri ke dalam negatif atau positif, baik atau buruk, lemah atau kuat. Dalam gambaran itu, kita hanya bisa mengambil kesimpulan bahwa diri kita ini manusia.

Dalam bukunya yang berjudul In the Realm of Hungry Ghosts: Close Encounters with Addiction, Dr. Gabor Maté menuliskan,

Ada kualitas atau dorongan bawaan dalam diri manusia yang oleh psikiater Austria, Victor Frankl, disebut sebagai “pencarian makna”. Makna ditemukan dalam pengejaran yang melampaui diri. Dalam hati kita sendiri, kebanyakan dari kita tahu bahwa kita mengalami kepuasan terbesar bukan ketika kita menerima atau memperoleh sesuatu tetapi ketika kita memberikan kontribusi yang otentik untuk kesejahteraan orang lain atau untuk kebaikan sosial, atau ketika kita menciptakan sesuatu yang orisinal dan indah atau hanya sesuatu yang merepresentasikan hasil kerja cinta.

Dengan kata lain, kita tidak bisa hidup hanya dari nasi yang mengenyangkan, mobil mewah yang berkilau, atau juga pakaian bermerek. Kita memiliki “kekosongan”, perasaan hampa, dan ketidakberartian diri, yang harus diisi melalui hubungan yang bermakna dengan kandungan di alam semesta—alat, atau individu lain—untuk menghidupkan makna diri.

Melalui alat, kita bisa memaknai diri dari hasil kerja cinta berupa kontribusi karya. Melalui individu lain, kita bisa memaknai diri dari hasil kerja cinta berupa kontribusi fisik dan psikis secara dua arah—dengan teman, keluarga, bahkan orang yang tidak pernah dikenal sebelumnya—yang bisa meringankan beban mental kita, yang dapat menerima siapa diri kita, atau yang mampu mengubah cara pandang kita terhadap dunia.

Kebanyakan dari kita akan memiliki pola yang sama bahwa dalam ketidakjelasan dan ketidaktentuan realitas yang dibawa alur kehidupan, kita tidak bisa hanya bergantung pada satu hal saja—alat atau hubungan dengan orang lain. Kita membutuhkan keduanya untuk mendapatkan pengalaman hidup yang optimal.

Namun, jika melihat dalam konteks hubungan, melalui keluarga, atau teman, kita sebenarnya sudah bisa mendapat pemaknaan diri tanpa menikah, tetapi mengapa kebanyakan dari kita masih mengambil jalan tersebut?

Jawabannya adalah karena kita ingin memperpanjang usia manfaat yang kita dapatkan. Keluarga atau teman memang bisa memfasilitasi kita untuk mencapai pemaknaan diri, tetapi itu terbatas ruang dan waktu. Kita tidak bisa menyangkal kenyataan bahwa ada orang yang tidak memiliki lingkungan keluarga yang sehat, atau juga sahabat yang suportif. Bahkan, meskipun kedua keadaan itu ada dan cukup, setiap dari kita masih harus menghadapi momen di mana satu per satu dari mereka pergi dengan kepentingan hidupnya masing-masing.

Tanpa menyadarinya, kita telah membuat sebuah formula bahwa kita membutuhkan tambahan hubungan, menikah, di mana di dalamnya menyuguhkan seseorang yang “selalu” bisa mendukung kita secara konsisten, dan mampu memenuhi dorongan lain seperti menaati perintah agama, memenuhi tujuan, atau mendapatkan validasi orang lain. Meskipun kita masih tidak bisa memastikan berapa lama kebersamaan yang akan terjalin, setidaknya kita telah memperbesar ruang gerak kita untuk mencapai pemaknaan diri.

Dengan penjelasan itu juga, kita bisa melihat dalam sudut pandang yang berbeda dalam menyikapi alasan mengapa kita menikah. Beberapa orang melihatnya sebagai fase, dan beberapa yang lain melihatnya sebagai komplementer.

Jika sebagai fase, alasan yang mereka pegang bisa berubah dan itu bergantung pada bagaimana mereka mengelola pengalaman berbeda yang berlipat ganda. Jika sebagai komplementer, alasan yang mereka pegang tidak berdiri sendiri—satu sama lain saling berkaitan. Apa pun itu, alasan mana yang paling mencerminkan pengambilan keputusan untuk menikah merupakan jawaban yang hanya bisa dikonsumsi secara pribadi, dan cenderung hanya menjawab seberapa baik hubungan kita dengan diri sendiri.

Setelah ini, pertanyaan selanjutnya sudah menunggu. Aku tidak bisa memastikan bahwa jawaban yang ada nanti bisa mengisi ruang kosong yang sedang kamu cari, tetapi setidaknya ada sisi lain yang bisa menunjukkan kepadamu bahwa kita tidak hanya butuh kejelasan tentang mengapa kita menikah, tetapi juga harus memiliki pemahaman yang lebih baik tentang mengapa kita menginginkan kehadiran seorang anak.

Bersambung…