Pentingnya Emotional Intelligence

pentingnya emotional Intelligence

Story begins

Pukul 07:00 WIB, dihari Senin 11 September 2017, seperti biasa polisi melakukan salah satu kewajibannya yaitu pemantauan dan pengaturan lalu lintas.

Kali ini Polisi bertugas di pintu masuk contraflow KM 1700 tol Cawang arah Semanggi

Semua berjalan normal tanpa kendala.

Sampai akhirnya cerita pemantauan yang diharapkan lancar menjadi sedikit terganggu karena ulah pengendara mobil yang melintas

Mobil Toyota fortuner tiba-tiba melintas, membuka kaca dan meneriakki polisi yang sedang bertugas dengan kata-kata tidak sopan.

Brigadir Robi bintang tergerak, dan melakukan pengejaran terhadap mobil tersebut.

Waktu dan kecepatan bersahabat dengan Brigadir Robi, terhadanglah mobil seharga 500 juta lebih itu.

Ditanyakanlah surat-surat kendaraan dan identitas pemilik mobil, tapi pengendara tidak bersedia untuk menunjukkannya.

Pertanyaanpun dilontarkan kepada si pengendara ”  Kenapa? salah kami dimana? “

Pengendara menjelaskan ” ada orang yang melanggar lalu lintas, tolong ditangkap dong “

“Bapak bisa kasih tau kami kalau ada yang melanggar, kenapa bapak ngatain kami kotor?” Jawab tegas Pak Polisi

“Apakah pantas bapak disamping perempuan ngata-ngatain begitu ( menunjuk didalam mobil ), jika bapak sebagai kami, kami ini salahnya dimana? Pantas nggak bapak berkata seperti itu?

Dengan menyesal pengendara meminta maaf kepada polisi.

Karena menimbulkan kemacetan akhirya yang bersangkutan pergi tanpa mau diperiksa dokumen dan identitasnya.

Story Over

• • •

PELAJARAN YANG BISA DIAMBIL

Bapak pengendara mobil tersebut memiliki masalah. Itu adalah Emotional Intelligent ( EI or EQ – Emotional Quotient )

Banyak diantara kita yang hanya peduli denga IQ ( Intelligence Quotient ). IQ ini menentukan untuk mengukur kecerdasan seseorang melalui sederetan tes.

Semakin tinggi IQ maka semakin baik orang tersebut dalam hal akademis tanpa melihat bagaimana mental mereka jika dibandingkan dengan mereka yang ber-IQ rendah.

Asumsi yang ada di masyarakat adalah orang yang memiliki IQ tinggi akan lebih sukses didalam pekerjaan dan kehidupan mereka, padahal hal ini terbukti salah. Ada yang lebih bisa membuat orang menjadi sukses dibanding orang yang hanya  bertumpu pada “kepintaran”

• • •

PERBEDAAN EQ DAN IQ

EQ – Emotional Quotient

TOPIC

IQ – Intelligence Quotient

Ukuran kemampuan seseorang untuk mengenali dan mengatur emosi diri mereka, dan orang lain, baik secara individu atau dalam kelompok

APA ITU?

Ukuran kemampuan seseorang untuk belajar, mengerti, dan menerapkan informasi dan kemampuan secara benar

Memahami emosi

PERBEDAAN

Memahami Informasi

Semakin tinggi EQ sesorang mengartikan kepercayaan diri seseorang, dan bisa mengatasi permasalahan emosi yang sulit

JIKA MEMILIKI NILAI TINGGI

Semakin tinggi IQ seseorang mengartikan bahwa semakin mudah seseorang untuk belajar, cepat mengerti.

EQ sulit diukur dan tes EQ tidak pernah dikembangkan sampai tahun 1990-an.

Dibandingkan dengan IQ yang sudah ada sejak permulaan abad 20

BATASAN

Banyak orang yang memiliki IQ tinggi tetapi terlihat lemah jika berbicara tentang kemampuan bersosialisasi dan pendekatan emosi

sebuah test EQ sulit untuk dibuat, karena ini bersangkutan dengan informasi yang sulit ditampilkan dalam bentuk nilai. tes EQ lebih ke arah subjektif

PENGUKURAN

Test IQ melibatkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah dibakukan dan hasilnya berupa skor yang menentukan kecerdasan seseorang

• • •

HUBUNGAN ANTARA IQ DAN EQ

IQ tidak ada hubungannya dengan bagaimana cara orang memahami  dan menangani emosi mereka sendiri dan emosi orang lain. Pernah nggak sih kita menjumpai orang-orang pintar yang tidak tahu bagaimana cara berhubungan dengan masyarakat atau dengan kata lain memiliki masalah dalam hal bersosialisasi? Kalian yang bisa menjawab.

Bebapa orang memiliki IQ yang tinggi tapi memiliki kemampuan emosi yang rendah, ada yang memiliki IQ rendah tetapi memilki kemampuan emosi yang tinggi, ada yang memiliki IQ dan EQ yang sama-sama tinggi, atau yang terakhir memiliki IQ dan EQ rendah, yang mana yang mencerminkan kita? 😀

———

SEJARAH SINGKAT EQ ( EMOTIONAL QUOTIENT )

1920-an

Edward Thorndike mendeskripsikan konsep “social intelligence” yaitu kemampuan untuk memahami dan mengatur pria dan wanita, anak laki-laki dan anak perempuan, utuk berperilaku didalam hubungan secara bijak

1940-an

David Wechsler berpendapat bahwa ada faktor selain kemampuan intelektual terlibat dalam perilaku intelektual

1950-an

Abraham Maslow, seorang psikolog humanistik, menjelaskan bagaimana orang bisa membangun kekuatan emosional

1980-an

Howard Gardner menerbitkan Frames of Mind : The Theory of Multiple Intelligences which introduces the concept of multiple intelligences. Menurut Gardner, manusia memiliki beberapa proses informasi yang berbeda dan cara ini relatif independen antara satu satu dengan yang lain (1983)

Wayne Payne mengenalkan “emotional intelligence” untuk pertama kalinya dalam disertasi doktornya yang berjudul ” A Study of Emotion : Developing Emotional Intelligence ” (1985)

1990

Psikolog Peter Salovey dan John Mayer menerbitkan artikel yang menjadi tonggak mereka ” Emotional Intelligence”, di Journal Imagination, Cognition and Personality. Mereka menunjukkan sebuah model yang menggambarkan 4 faktor Emotional Intelligence yang berbeda

1995

Psikolog dan penulis sains New York Times, Daniel Goleman, membuat Emotional Intelligence menjadi booming dengan penerbitan bukunya yang berjudul ” Emotional Intelligence : Why It Can Matter More Than IQ “. Tapi, buku ini didominasi hasil kerja Salovey dan Mayer tahun 1990 pada area sosial dan  Emotional Intelligence

• • •

FUNDAMENTAL EMOTIONAL INTELLIGENCE

 

Daniel Goleman membagi Emotional Intellegence menjadi 2, kompetensi “Personal” dan “sosial”

Personal Competence

  • Terbentuk dari self-awareness dan self-management, yang mana lebih memfokuskan pada diri kita secara individu, daripada interaksi kita denga orang lain.
  • Personal Comptence adalah kemampuan untuk sadar akan emosi dan bisa mengendalikan perilaku

Self-Awareness adalah kemampuan untuk menyadari emosi kita dan menyadari ketika emosi itu terjadi

Self-Management adalah kemampuan untuk menggunakan kesadaran akan emosi untuk tetap berperilaku secara positif

Social Competence

  • Terbentuk dari social-awareness dan relationshiop-management
  • Social-management adalah kemampuan untuk memahami mood, perilaku orang lain untuk memperbaiki kualitas hubungan kita

Social-Awareness adalah kemampuan untuk menilai secara benar emosi pada orang lain dan mengerti apa yang terjadi

Relationshiop-Management adalah kemampuan untuk menggunakan kesadaran akan emosi kita dan emosi orang lain untuk menjaga hubungan yang baik

• • •

BAGAIMANA EMOSI MEMBANTU KITA

Belajar dari ingatan – otak menyimpan fakta dan emosi

Pernah nggak sih ketika kita sedang dimarahi guru karena tidak mengerjakan tugas, kita akan  merasa takut dan akan menghindari kejadian yang sama dimasa yang akan datang, aku tahu kalian bukan murid yang suka mencontek untuk menghindarinya 😀

Mengerti perasaan orang lain – membantu kita untuk memprediksi tindakan mereka

Ketika melihat guru marah karena kita tidak mengerjakan PR membuat kita bisa memprediksi apa yang akan dilakukan guru. maka bersiaplah kita untuk menerima hukuman, atau jam kosong 😛

Bereaksi – membuat kita mengambil tindakan pada kejadian

Karena tahu bahwa kita bersalah, usaha kita adalah meminta maaf kepada guru dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

• • •

BAGAIMANA EMOSI MENYAKITI KITA

Overly-emotional states – membuat kita dibayangi rasa ingin menghakimi, terlalu berlebihan dalam bereaksi, dan membuat kita menjadi tidak rasional dalam berpikir

Otak kita bisa menahan 3-4 pikiran secara bersamaan tetapi ketika hal itu adalah emosi otak menjadi bermasalah dengan adanya gangguan. Hal ini menyebabkan kita menyesali keputusan yang telah kita buat

Bereaksi terlalu cepat – Terkadang kita bereaksi sebelum otak kita memiliki kesempatan  untuk memproses emosi

Informasi berupa emosi tidak difilter oleh otak rasional kita, sehingga menyebabkan kita melakukan hal yang salah.

Masih ingatkah ketika waktu ujian sudah hampir selesai sedangkan banyak soal yang belum terjawab, kita mencontek tanpa memfilter apakah jawaban itu betul atau tidak, jangan ditiru!

Reaksi yang tidak rasional – kita bereaksi berdasarkan pengalaman masa lalu meskipun sebenarnya keadaan sekarang telah berubah

Jika kita gagal untuk mendapatkan hasil terbaik saat ujian, rasanya kita akan gagal juga pada ujian selanjutnya meskipun sudah menghabiskan waktu untuk belajar berjam-jam.

Persiapkan dirimu sebaik mungkin, dan hasil tidak akan pernah menghianati proses.

• • •

TANDA ORANG YANG MEMILIKI EMOTIONAL INTELLIGENCE YANG TINGGI

  1. Mereka memiliki tujuan hidup yang jelas.
  2. Mereka bisa mengolah self-awareness dengan baik.
  3. Mereka hanya fokus pada sesuatu yang positif.
  4. Mereka adalah pendengar yang baik.
  5. Mereka menunjukkan empathy.
  6. Mereka bisa cepat mengatasi stres.

• • •

CARA MEMPERBAIKI EMOTIONAL INTELLIGENCE

Mendengarkan lebih, berbicara sedikit

Ketika kita mendengarkan, orang lain akan merasa dihargai.

Ini  memberi mereka kesempatan mengeluarkan semua unek-unek yang mengganggu kehidupan mereka.

Minta maaf langsung ketika kita salah

Dengan cara ini  kita membangun kepercayaan orang lain kepada kita, dan bisa membuat hubungan menjadi lebih harmonis.

Letakkan diri kita di posisi mereka

Sebelum melakukan sesuatu seharusnya kita bisa menempatkan diri kita sebagai orang lain. Dengan cara ini kita tahu 2 sisi, bukan hanya perspektif kita saja tetapi juga prespektif mereka.

Berempati dengan yang lain

Semakin kita mengerti respon emosi kita, semakin baik kita akan bisa mengerti emosi orang lain

Membangun lingkungan yang positif

Lingkungan seperti penyakit, jika kita tidak mempunyai imun yang kuat maka kita juga akan menjadi sakit, begitupun sebaliknya.

Maka dari itu sebisa mungkin batasi atau bahkan hindarkan diri kita dari lingkungan yang bisa membuat kita tidak bisa menghargai orang lain, contoh : lingkungan gosip.

Bertanya itu penting

Ketika kita bertanya kepada orang , kita menunjukkan kepada mereka hormat kita. Mereka pun juga akan merasa dihargai

Memuji

Pujilah orang ketika mereka memang melakukan hal yang benar, tidak usah juga memuji dengan berlebihan.

• • •

KESIMPULAN

  • Kita tidak hanya membutuhkan IQ, tetapi juga EQ. Karena faktanya adalah semakin tinggi IQ tidak mencerminkan seseorang mempunyai EQ yang tinggi juga.
  • Semakin tinggi EQ kita maka semakin bisa kita bersosialisasi, menghargai orang lain, berpikir dahulu sebelum bertindak.
  • Dengan memiliki EQ kita tahu bagaimana cara untuk membangun hubungan yang baik dengan orang lain.

 

 


FOOTNOTES