Persepsi kita terbentuk dari akumulasi pengetahuan eksternal dan internal. Eksternal berupa buku, atau umpan balik dari individu lain. Internal berupa pola pikir alam bawah sadar yang terbentuk dari respon kita terhadap sebuah pengalaman yang terjadi di masa lalu.

Permasalahannya, hasil akhir dari pengolahan dua sumber pengetahuan tersebut tidak menjamin diri kita untuk dekat dengan kebenaran yang berlaku dalam realitas. Semakin tidak efektif sebuah pengetahuan yang kita internalisasi, semakin jauh diri kita dari titik kenyataan. Semakin jauh diri kita dari titik kenyataan, kepercayaan diri yang lahir hanya akan menjadi alat untuk mengulang pola tindakan yang tidak efisien.

Dalam pola pengasuhan misalnya, kita akan mudah menemukan orang tua yang mendidik anak-anak mereka untuk tidak cengeng, harus kuat, atau selalu bahagia. Sekilas semua itu terlihat normal, tetapi jika mau melihat sisi lain yang jarang disadari, pengulangan tindakan tersebut mengartikan orang tua yang sedang mengajari anaknya untuk melakukan represi—memisahkan emosi dari kesadaran dan membuangnya ke alam bawah sadar—ketika mempunyai masalah. Akibatnya, mekanisme koping yang diambil anak di masa depan adalah menutup diri—tidak membuka ruang diskusi untuk mencoba menyelesaikan masalah yang mereka miliki—hanya demi melindungi perasaan orang tua mereka. Bukankah itu artinya anak menyembunyikan emosi, mengeksploitasi diri, dan menghiraukan kebutuhannya untuk dimengerti?

Anggapan bahwa represi adalah sesuatu yang wajar membawa biaya yang tidak gratis. Gabor Maté, seorang dokter yang meneliti perkembangan masa kanak-kanak, trauma, dan potensi dampak seumur hidup pada kesehatan fisik dan mental, menjelaskan dalam bukunya yang berjudul When The Body Says No bahwa represi memicu stres, terlepas dari apakah kita sadar atau tidak. Berulang kali dan berlipat ganda selama bertahun-tahun, stres itu berpotensi merusak homeostasis—mekanisme otomatis yang dilakukan makhluk hidup untuk mempertahankan kondisi konstan agar tubuhnya dapat berfungsi dengan normal—dan pertahanan kekebalan tubuh memiliki resistensi yang lemah terhadap penyakit.

Kita bisa melihat bahwa pengetahuan yang diterapkan di sana memiliki konsekuensi berbahaya karena menciptakan jarak antara persepsi—didikan seperti itu akan menjadikan anak kuat dalam menghadapi masalah—dan realitas—anak tidak mampu mengekspresikan dirinya karena percaya bahwa menangis, tidak kuat, dan tidak bahagia adalah bentuk ketidakmampuan diri yang tidak bisa diterima orang tua dan hanya membuat mereka sedih. Dengan kata lain, didikan seperti itu membuat anak menempatkan kepentingan orang tuanya pada tingkatan tertinggi bagaimanapun kondisinya meskipun harus merugikan diri mereka sendiri. Hal semacam ini seharusnya bisa dihindari jika orang tua memiliki pengetahuan yang tepat untuk diterapkan.

Menariknya, terciptanya jarak antara persepsi kita dengan realitas sering kali bukan disebabkan ketidakmampuan kita dalam menerapkan pengetahuan, tetapi disebabkan ketidakmampuan kita dalam memanfaatkan waktu yang tersedia untuk mengevaluasi pengetahuan yang telah dipilih sebelumnya dengan pengetahuan baru yang lebih kongruen dengan tujuan.

Itu juga menyiratkan bahwa untuk mencapai sebuah perubahan yang lebih baik, individu dituntut untuk memperlakukan pengetahuan secara dinamis atau aktif—terus melanjutkan proses dengan cara mengumpulkan data dan informasi baru, menganalisa, hingga tercipta sebuah keputusan yang objektif. Bukan secara pasif yang hanya menunggu datangnya sebuah pencerahan.

Alasan basi seperti “Aku tidak memiliki waktu untuk belajar” sebenarnya adalah bentuk penyamaran dari motif asli “Aku tidak menjadikan pembelajaran sebagai prioritas”. Itu merupakan tanda bahwa kita telah menyerahkan kontrol diri kepada insting yang lebih mengutamakan kenyamanan di waktu sekarang daripada kenyamanan jangka panjang. Jika itu dilakukan terus-menerus, kita akan semakin sering melihat informasi baru sebagai keacakan yang bisa mengancam sehingga mematikan fokus yang mencoba mencapai tujuan yang kita targetkan.

Kita tahu bahwa memperkaya pengetahuan memang mengundang kompleksitas dalam berpikir. Tidak heran jika beberapa dari kita lebih memilih untuk menghindari kerumitan dalam menyambung titik-titik karena melihatnya sebagai alat untuk menyamankan diri. Namun kepasifan semacam itu bisa membuat kita memiliki ketergantungan pada nilai yang diberikan orang lain dan menganggap setiap hal yang mereka berikan sebagai jawaban yang kita cari.

Itu bukanlah hal yang salah, tetapi kita juga harus selalu ingat bahwa tidak semua hal yang diberikan orang lain selaras dengan kebutuhan diri. Memang sudah seharusnya kita menyambut kerumitan dalam berpikir. Bukan untuk menambah beban, tetapi untuk menemukan keteraturan pola yang lebih akurat dalam realitas sehingga membuat kita lebih bijak dalam mengambil keputusan ketika apa yang tidak sesuai dengan diri terjadi.

Mengakuinya atau tidak, diri kita ini memang masih payah dalam banyak kesempatan. Kita tahu konsekuensi buruk apa yang akan terjadi jika melakukan tindakan tertentu, tetapi kita juga yang memberikan izin diri untuk melakukannya. Dalam psikologi, fenomena ini dinamakan cognitive dissonance—keadaan di mana kita memegang keyakinan, gagasan, atau nilai yang kontradiktif. Itu menempatkan kita pada ketidaknyamanan mental dan menuntun kita secara alami untuk mencari perubahan sikap, keyakinan, atau perilaku yang dianggap bisa menyelesaikan kontradiksi tersebut. Contohnya, kita lebih memilih bermedia sosial daripada mengerjakan kewajiban, atau lebih memilih bersantai daripada berolahraga.

Keputusan berkualitas rendah yang lahir di sana disebabkan oleh: (1) tindakan yang tidak sejalan dengan keinginan, (2) pengambilan keputusan yang buruk, (3) beratnya usaha yang dikerjakan.

Kabar baiknya, selalu ada cara untuk membuat siklus yang ada tidak berkesinambungan. Kita bisa memutusnya dengan (1) kesadaran diri untuk mengevaluasi sikap yang diambil dan dampak yang diberikan, (2) mempertimbangkan nilai yang diberikan dalam jangka panjang, bukan pada keatraktifan kegiatan saja, (3) dan memulai segala aktivitas dari yang termudah agar otak tidak melihatnya sebagai kemustahilan.

Ketiga solusi itu memang menghidupkan asa bahwa mengubah keputusan buruk yang telah diambil menjadi keputusan yang lebih baik di masa depan bukanlah sesuatu yang tidak mungkin, tetapi kebenaran lain yang tidak boleh dilalaikan adalah kita telah kehilangan waktu untuk menyusun formasi yang pas sesuai dengan tujuan kita.

Seneca, seorang filsuf Stoa, menjelaskan dengan sangat baik tentang bagaimana kita dalam menggunakan waktu. Dalam esainya yang berjudul On the Shortness of Life, dia menuliskan, “Bukan karena kita memiliki waktu hidup yang singkat, tetapi kita menyia-nyiakan banyak waktu. Hidup itu cukup lama, dan jumlah yang cukup dermawan telah diberikan kepada kita untuk pencapaian tertinggi jika semuanya diinvestasikan dengan baik. Namun, ketika disia-siakan dalam kemewahan yang ceroboh dan dihabiskan untuk aktivitas yang tidak baik, kita akhirnya dipaksa oleh batasan akhir kematian untuk menyadari bahwa waktu telah mati sebelum kita menyadarinya telah lewat. Jadi begitulah: kita tidak diberi kehidupan yang pendek, tetapi kita membuatnya pendek, dan kita tidak kekurangan persediaan, tetapi menyia-nyiakannya. Hidup itu panjang jika kamu tahu bagaimana menggunakannya.”

Klise. Itulah hal pertama yang kita tangkap ketika memahami pesan Seneca. Jika seperti itu, mengapa kita tidak mencoba mencari pendekatan lain? Lupakan dulu tentang aktivitas yang diperlukan karena kita akan memulainya dari bagaimana kita melihat waktu.

• • •

Dua Cara Melihat Waktu

Kebanyakan dari kita pasti pernah mengalami hal ini: merasa waktu lebih cepat berlalu ketika menjalani pengalaman yang menyenangkan, atau merasa waktu berjalan lebih lambat ketika mengalami kesakitan. Inilah yang disebut dengan waktu subjektif—persepsi kita tentang jalannya waktu dalam sebuah pengalaman.

Masih ada banyak hal yang belum diketahui oleh para peneliti tentang waktu subjektif ini, tetapi setidaknya ada kejelasan bahwa persepsi tersebut lahir tidak hanya dari waktu, tetapi juga hubungan antara informasi dari pengalaman yang berlangsung dengan emosi kita.

Tidak heran jika nenek moyang kita berusaha menciptakan alat penunjuk waktu—yang difungsikan sebagai alat ukur durasi dan interval—mulai dari Sundial, karya orang Mesir, yang mengukur berlalunya waktu melalui bayangan yang dihasilkan dari pergerakan matahari, kemudian jam air, hingga kemajuan teknologi mengubahnya menjadi lebih praktis seperti yang kita gunakan sekarang ini: jam analog dan digital, semata-mata untuk membantu otak kita dalam melihat semua kejadian agar menjadi lebih jelas karena dia mendapatkan satuan yang disepakati—di mana di dalamnya memiliki ukuran detik, menit, atau jam, tanggal, atau waktu persisnya. Tanpa patokan pasti, otak kita mendapatkan keambiguan dan hanya bisa membagi waktu ke dalam masa lalu, sekarang, dan masa depan.

Bentuk jam yang kita gunakan sekarang memang tidak memberikan perbedaan fungsi, tetapi hal yang sering tidak kita sadari adalah adanya perbedaan dampak yang diberikan.

Coba lihat jam analog berikut, pukul berapa ini?

Jam 10 lebih 8 menit.

Bagaimana dengan jam digital ini?

Dengan mudah kamu akan mengatakan bahwa itu adalah jam 4 lebih 48 menit.

Antarmuka yang dimiliki jam digital memang mampu menunjukkan tanda berangka sesuai dengan apa yang kita butuhkan secara tepat, tetapi itu tidak mengartikan bahwa jam analog tidak mampu. Dengan menambah kadar ketelitian dalam melihatnya, kita masih bisa mendapatkan hasil yang akurat.

Di satu sisi, kedua jam tersebut sama-sama bisa meningkatkan kesadaran kita dalam membuat rencana secara sistematis untuk mendapatkan keuntungan atas pengalaman yang kita lakukan. Di sisi yang lain, perbedaan kepraktisan yang ada membuat kualitas penggunaan waktu kita juga berbeda.

Dengan menggunakan jam digital, kita merasakan keinstanan pemenuhan kebutuhan. Kemampuannya yang hanya bisa menunjukkan satu pandangan waktu—sekarang—mengakibatkan kita menyepelekan waktu lebih mudah karena visualisasi kita tentang durasi di masa depan menjadi terbatas.

Jam analog menawarkan hal yang berbeda. Di balik ketidakpraktisannya, tanda numerik pada jam analog mampu menggambarkan lebih jelas tentang jam, menit, hingga detik berikutnya. Kita tidak hanya mendapatkan kejelasan waktu di saat sekarang, tetapi juga lebih sadar tentang ‘waktu yang terpakai’, dan ‘waktu yang tersisa’.

bijak menggunakan waktu

Antarmuka yang dianggap sebagian orang sebagai hal yang kuno justru mampu memberikan ruang analisis tentang siapa diri kita dalam memperlakukan waktu dan tindakan apa yang harus diinvestasikan untuk mendapatkan keuntungan paling optimal.

Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ketika kita terbiasa melihat waktu dengan cara digital, kesempatan merasionalkan tindakan menjadi sempit karena perhitungan kita terhadap waktu menjadi kabur. Sebaliknya, ketika kita bisa melihat waktu dengan cara analog, kesempatan meletakkan usaha pada tempat yang tepat semakin terbuka lebar.

Sayangnya, ini belum selesai. Tercapainya keselarasan keinginan dan tujuan tidak bisa hanya didasarkan pada cara pandang kita terhadap waktu. Lebih penting dari itu adalah bagaimana kualitas usaha yang diinvestasikan di sana.

• • •

Menyambung Rantai Realitas

Dalam bukunya yang berjudul Phaedo, Plato menuliskan bahwa gurunya, Socrates, pernah menyampaikan poin penting di ujung hayatnya, “Mereka yang benar-benar memahami filsafat tidak mengejar studi tentang apa pun kecuali hampir mati dan mati.” Dalam bahasa latin, renungan tentang kematian seperti itu disebut dengan Memento Mori.

Itu tidak menyuruh kita untuk memupuk ketakutan, tetapi justru menyuruh kita untuk menerima apa yang tidak bisa dikontrol, dan tetap menjalani hidup dengan sepenuhnya.

Pemahaman kita tentang apa saja hal yang tidak bisa kita kontrol—bagaimana tindakan orang lain kepada kita, hasil dari usaha kita, atau apa yang terjadi di sekeliling kita—memang sudah jelas, tetapi bagaimana dengan menjalani hidup dengan sepenuhnya?

Untuk memahaminya, mari kita lihat kotak-kotak berikut ini.

Bijak menggunakan waktu

Setiap kotak yang ada di sana merepresentasikan tiap jam dalam sehari—oh, atau lebih tepatnya, itu merepresentasikan momen sekarang. Sedangkan garis yang menyambung tiap kotak adalah waktu yang sudah dilalui dan waktu yang belum dilalui.

Kita tahu bahwa semua orang memiliki ukuran waktu yang sama dalam satu hari, tetapi sisa waktu yang tersisa di hari itu sangat bervariasi. Seorang pelajar memiliki sisa waktu yang berbeda dengan seorang CEO, seorang selebriti memiliki sisa waktu yang berbeda dengan seorang guru. Artinya, perbedaan sisa waktu yang dimiliki setiap individu ditentukan oleh aktivitas yang dikerjakan.

Untuk membuat perhitungan kita menjadi lebih mudah, mari kita buat ukuran yang sama. Jika 8 jam kita gunakan untuk bekerja, dan 8 jam yang lain kita gunakan untuk tidur, maka 8 jam terakhir menjadi tempat yang tersisa bagi kita untuk bermain media sosial, makan, bersih-bersih rumah, belajar hal baru, berkumpul dengan teman-teman, dll. Tentu saja ini hanya hitungan kasar karena kehidupan kita tidak sekaku itu, bukan?

Poin yang ingin aku sampaikan di sini adalah berapa pun sisa blok waktu yang kita miliki, jika kita tidak bisa mengisinya dengan sesuatu yang sejalan dengan tujuan, semakin lebar jarak antara persepsi kita dan realitas.

Tidak ada yang salah dengan menginginkan karier yang hebat, tetapi tanpa adanya informasi yang cukup, kita akan kekurangan pengetahuan. Jika kekurangan pengetahuan, kita tidak memiliki jawaban pasti, atau tidak memiliki jawaban yang paling bisa mendekatkan kita dengan tujuan. Alhasil, kita terkurung dalam ketidaktahuan yang mendikte langkah per langkah kita berdasarkan asumsi yang tanpa peduli membiarkan kita jauh dari realitas sesungguhnya.

Pola itu hanya bisa kita ubah ketika kita bisa menghargai setiap blok waktu dengan keringat, dan air mata pembelajaran—menyambung rantai realitas dengan menyesuaikan usaha yang bisa memberikan hasil yang diinginkan. Ini memang akan membutuhkan proses yang tidak sebentar, tetapi itu bisa dibangun kapan pun dan di mana pun hanya dengan memaksimalkan satu kotak secara berkelanjutan.

cara menggunakan waktu dengan baik

Kotak sekarang adalah titik temu masa lalu dengan masa depan. Di sinilah, masa lalu kita dibentuk, di sini jugalah masa depan dibangun.

Setiap orang memiliki tujuannya masing-masing, tetapi di sini, kita akan membahas salah satu tujuan atau keinginan yang dimiliki oleh kebanyakan orang di dunia: menikah.

Dalam persepsi kita, tujuan ideal sebuah pernikahan adalah keluarga yang harmonis. Pertanyaannya, sudah berapa kotak yang kita isi dengan kegiatan/pengalaman/pengetahuan yang membantu mendekatkan kita dengan tujuan tersebut? Apa saja pemahaman kita tentang kehidupan dalam pernikahan sejauh ini?

Beberapa di antara kita pasti ada yang merasa tertampar karena pertanyaan itu. Bagaimana bisa kita mengerti tentang kehidupan pernikahan jika selalu mengisi waktu kosong dengan hiburan? Bagaimana bisa kita mengerti tentang kehidupan pernikahan jika selalu mengisi waktu kosong dengan pekerjaan? Tentu saja ini tidak mengartikan bahwa kita tidak boleh mengonsumsi hiburan atau bahkan melarang kita untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan bekerja. Ini mengartikan bahwa semakin kita membangun kekuatan pada satu hal, semakin tinggi kelemahan kita pada hal lainnya.

Maka untuk membuatnya lebih baik, kita harus bisa mengisi blok waktu yang kosong secara sehat—kita harus bisa mendapat kejelasan dari pertanyaan: apa yang aku lakukan di masa lalu? Apa akibat yang aku dapat sekarang? Apakah bisa diperbaiki/ditingkatkan/lakukan sekarang untuk mendapatkan hasil yang ingin aku capai di waktu selanjutnya?

Sekarang, masalah lanjutan yang harus bisa kita selesaikan adalah perwujudan dari tindakan. Memproyeksikan keuntungan, atau pencapaian sebagai alat pendorong motivasi untuk bertindak sering kali tidak bekerja untuk kita. Sebagai alternatifnya, melakukan sebaliknya adalah pilihan yang lebih tepat. Ketika kita bisa menerjemahkan kerugian atau kehilangan—jika tidak mengambil tindakan yang diperlukan—ke dalam otak, di sanalah kita sedang membangun katalisator sesungguhnya.

• • •

Pentingnya Peta Sedikit Salah

Socrates pernah mengatakan, “Aku tahu bahwa aku tidak tahu apa-apa.” Itulah garis besar yang bisa kita ambil bahwa kita tidak seharusnya menutup diri dengan hanya terpaku pada ilmu yang sudah kita miliki. Kita harus terus menggerakkan akal pikiran kita untuk mencari ilmu baru karena ada lebih dari satu cara untuk mengartikan sebuah kejadian yang sama. Jika semua pilihan masuk akal, kita bisa memilih yang menyediakan panduan perbaikan paling efektif. Selain untuk mendapatkan ketenangan, tentu saja untuk memperkecil takaran rasa sakit hati di kemudian hari.

Memadukan pikiran dengan pengetahuan secara dinamis memang tidak menjamin kita bisa memahami segala hal yang terjadi dalam kehidupan pernikahan. Namun, memang bukan itu yang menjadi prioritas kita. Prioritas kita adalah menciptakan peta yang bisa menunjukkan jalan kepada kita untuk menjadi sedikit salah. Ukuran minimal kita adalah melakukan tindakan dengan lebih baik tanpa menghiraukan informasi pendukung yang jika belum bisa memberi kebenaran, setidaknya itu secara konsisten menghidupkan proses untuk sampai ke ke sana atau menawarkan substansi yang bisa menanamkan pengertian tentang keadaan kita.

Namun, mengapa ada pernikahan yang baik-baik saja meskipun cara pikir dan tindakan mereka jauh dengan realitas yang berlaku sebenarnya?

Pertama, kita tahu bahwa keputusan untuk menikah adalah bentuk keterbukaan diri untuk menerima kehidupan yang lebih kompleks. Itu karena ikatan status yang ada mengurangi tingkat kebebasan kita. Bukan dalam arti memperburuk diri karena menekan tujuan pribadi, justru itu adalah bentuk transformasi baru untuk mencapai tujuan kolektif yang menawarkan kebahagiaan dalam dimensi berbeda.

Ketika hubungan yang tidak berlandaskan ilmu (terlihat) bahagia, itu karena satu orang dengan yang lainnya menemukan kecocokan hasil pemikiran, terlepas itu benar atau salah, atau juga mewajarkan kesalahan tersebut. Pada dasarnya, kesulitan yang ada dalam sebuah masalah, atau kekacauan yang ada dalam sebuah kejadian, secara alami akan diinternalisasi oleh otak dengan cara mengambil jalan pintas untuk memahaminya. Otak menyambung titik-titik yang ada, membungkusnya dalam sebuah cerita, dan menciptakan akses yang bisa memuaskan pikiran dan hati.

Ahli statistik dan penulis Nassim Taleb menyebutnya sebagai narrative fallacy atau kekeliruan naratif, yaitu kecenderungan pikiran untuk merangkai—atau lebih tepatnya ‘membuat cerita’ berdasarkan standar kita—berbagai fakta yang ada menjadi narasi logis yang membantu kita memahami dunia. Sisi buruknya, jika kita tidak menyadari hal ini, cerita yang kita buat sebagai petunjuk kehidupan membuat kita percaya pada hal yang sebenarnya melenceng dari realitas yang sebenarnya.

Dengan kata lain, kehidupan pernikahan yang tidak memiliki fondasi ilmu yang tepat dan benar hanya melahirkan realitas yang rapuh karena ketika ada masalah besar yang sulit disusun dan sulit dibuat masuk akal, keputusan yang diambil bisa melukai tatanan kehidupan yang ada, sadar ataupun tidak.

Kedua, mengapa kita harus menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran? Pemantasan diri dengan belajar hal yang sejalan dengan tujuan adalah perjalanan pribadi. Maka, akan jauh lebih masuk akal jika kita memprioritas kehidupan dengan pemikiran benar yang didukung pengetahuan yang benar agar bisa memetakan realitas pernikahan kita dengan cukup baik. Tidak ada patokan kehidupan lain karena ukuran kita adalah realitas yang ingin kita jalani, realitas yang sesuai dengan siapa diri kita.

Mengapa harus menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran? Hasil kerja kelima panca indra kita saja masih sering mengelabui diri kita sendiri melalui bias dan regulasi emosi yang buruk, apalagi kita gunakan untuk menentukan kualitas kehidupan pernikahan orang lain. Jika kita memang ingin sampai pada sebuah tujuan, kita dilarang untuk buta arah—kehilangan fokus karena memikirkan kehidupan orang lain, atau berhenti di satu ilmu. Yang harus kita lakukan adalah melatih setiap indra dan regulasi emosi secara bertahap agar bisa mengambil keputusan yang lebih memadai, agar memiliki tingkat kebijaksanaan yang lebih tinggi.

Apakah ini artinya kita hanya berfokus pada teori? Mungkin terlihat seperti itu, padahal sebenarnya tidak. Jika kita hanya menitikberatkan teori, kita memang bisa memiliki arah dalam mengambil tindakan, dan juga mendapatkan waktu yang lebih sedikit dalam berinteraksi dengan masalah. Namun, tanpa adanya pengalaman, kemampuan intuisi yang bisa membantu kita merespon dan bertahan dalam sebuah masalah tak terduga dengan cara yang benar sangat dipertanyakan.

Sebaliknya, jika kita hanya mengandalkan pengalaman—tanpa teori—masalah yang dapat dinavigasikan secara baik tidak bisa memberi tahu kita alasan masuk akal secara universal dan akhirnya melahirkan pola yang keefektifannya dipertanyakan.

Ini berarti kita tidak bisa hanya memfokuskan diri hanya pada satu hal saja. Kita harus bisa mengintegrasikan keduanya—teori dan pengalaman berdasarkan keadaan dan kebutuhan yang berlaku. Dengan memiliki teori, kita memiliki kepercayaan diri yang bisa menuntun kita untuk melakukan kesalahan seminim mungkin. Dengan mengalaminya, kita bisa mendapatkan umpan balik tentang apa usaha yang bisa membuat teori itu bekerja dan apa yang tidak mengingat konteks yang ada dalam teori tidak selalu linier dengan konteks yang berlaku dalam kenyataan.

Selalu, perjalanan yang kita tempuh tidak akan semulus seperti yang kita rencanakan. Di luar sana, ada banyak sekali informasi yang terlihat seperti solusi, padahal sebenarnya belum mampu menjawab permasalahan kita. Maka jangan kaget jika masalah yang kita hadapi akhirnya hanya seperti penyakit yang sering kambuh—tidak bisa sembuh sepenuhnya, dan hanya menyetel ulang emosi negatif dalam waktu yang berbeda.

PreviousPemikiran Pertama: Keterbatasan Sebelum Menikah

Next→ Pemikiran Ketiga: Solusi yang Salah Tempat