Setelah beradu argumen, si A yang akan hendak menyampaikan opininya mendapat sebuah peringatan untuk mengunci mulut—si B dengan lantang meneriakinya dengan seruan, “Open minded lah jadi orang!

Tanpa mengetahui konteks pembicaraan mereka, ungkapan si B kepada A sudah bisa menunjukkan ketidakinginannya melihat progres dari percakapan yang sedang mereka bangun.

Kasus seperti itu akan sangat mudah kita temui sekarang ini. “Open minded” atau pikiran terbuka nampaknya sudah tidak lagi sebatas istilah, tetapi juga sebagai senjata bagi para pengucapnya yang tertekan dalam menghadapi argumen kontradiksi dari lawan bicaranya.

Kita bisa setuju bahwa ungkapan seperti itu tidak akan lahir dari seseorang yang benar-benar open minded karena mereka selalu bisa menerima ide dari siapa pun sekalipun itu tidak cocok dengan dirinya.

Mereka tidak memaksakan kebenaran versi mereka, atau juga memiliki keinginan agar orang lain melihat suatu permasalahan dari jendela yang sama.

You can learn a lot from your mistakes when you aren’t busy denying them.

― Anonim

• • •

Anak Kecil dan Pikiran Tertutup

Akan sangat mudah untuk melihat anak-anak yang bertengkar karena hal sepele, dari berebut mainan, hingga perdebatan tentang ketidaksesuaian peran dalam permainan yang mereka buat.

Ketika perselisihan itu terjadi, tak jarang dari mereka kemudian berteriak, menangis, dan menyalahkan teman-temannya.

Bahkan dengan orangtua, perselisihan itu terkadang masih ada. Mereka menangis ketika dilarang makan permen. Mereka marah ketika tidak dibelikan mainan.

Sikap seperti itu terjadi karena anak-anak gagal mencocokkan apa yang dunia luar berikan dengan apa yang dunia mereka miliki. Umpan balik yang tidak sesuai membuat mereka merasa terancam dan akhirnya tidak bisa melihat dunia orang lain yang berbeda. Mereka berego besar. Menyalahkan segala sesuatu yang tidak sejalan dan membenarkan apa yang mereka yakini.

Secara sederhana, anak kecil memiliki pikiran tertutup.

Seiring berjalannya waktu, anak-anak kecil akan tumbuh dengan input-input baru yang bisa memberi mereka gambaran tentang luasnya kehidupan.

Pemahaman yang lebih berwarna memang bisa menjadikan beberapa orang memiliki pikiran terbuka. Mereka sadar bahwa kehidupan tidak hanya tentang “aku”. Tetapi, beberapa yang lain justru masih hidup dalam pikiran dan tindakan yang sama. Mereka hanya mau melihat dunia mereka sendiri ketika dihadapkan realitas orang lain.

Mungkin, kamu mendapatkan perasaan superior ketika mengiyakan kenyataan seperti itu, tetapi apakah kamu yakin dirimu sudah memiliki pikiran yang terbuka? Atau sebenarnya kamu juga menghadapi kesulitan dalam mengembangkan pikiran? Bukankah itu artinya kamu hanya dewasa secara angka tetapi tidak secara mental?

Untuk mengetahui jawabannya, kita bisa menanyakan pertanyaan-pertanyaan ini kepada diri sendiri:

  • Apakah aku tetap bersikap tenang ketika menghadapi sudut pandang yang bertolak belakang?
  • Apakah aku mau menerima fakta yang bertentangan dengan keyakinan terbesarku?
  • Apakah aku membenarkan diri ketika melihat perbedaan yang ada pada orang lain?

Jika salah satu jawaban dari pertanyaan-pertanyan itu adalah iya, kita harus menerima bahwa pikiran kita masih belum terbuka sepenuhnya. Bukan karena tidak mau, tetapi karena ketidakmampuan kita untuk keluar dari kebiasaan yang memprioritaskan keegoisan diri.

• • •

Pikiran Terbuka Adalah Menerima Benih Baru

Sekarang, mari kita analogikan pikiran kita sebagai lahan kosong. Sedangkan input—ide, gagasan, pengetahuan, pengalaman—adalah benih.

Di saat masih bayi, lahan itu memang milik kita, tetapi peran kita dalam merawatnya masih terbatas sekali. Kita hanya bisa menerima benih yang diberikan orang-orang terdekat kita.

Benih itu kemudian dirawat setiap hari oleh mereka agar bisa menjadi pohon yang kokoh. Dalam dunia nyata, pohon itu adalah norma sosial yang berlaku, keyakinan terhadap Tuhan, budaya, konsep baik dan buruk, dll. Lahan yang sebelumnya kosong, sekarang memiliki pohon-pohon besar yang memberi kita keteduhan, kenyamanan, dan ketenangan.

Semakin bertambahnya usia, pengalaman, dan pengetahuan, kita akhirnya memiliki kuasa penuh atas lahan kita sendiri. Sekarang, setiap ada benih baru, kita bisa memilih untuk menerimanya atau menolaknya.

Seorang dengan pikiran tertutup akan lebih memilih untuk menolaknya. Mereka menganggap benih baru sebagai ancaman sehingga menjaga kebunya untuk tetap dalam kondisi yang sama adalah pilihan yang tepat. 

Mereka hanya mau fokus pada pohon-pohon yang sudah ada, atau dengan kata lain, mereka hanya mau percaya pada sesuatu yang sudah dibawanya sejak dulu dan menghiraukan hal-hal lain yang berlawanan dengan itu. Mengapa? Ya karena kumpulan kepercayaan seperti itulah yang lebih dihargai oleh lingkungannya.

Dalam lingkup kecil, mungkin tidak terlihat buruk. Mereka bisa hidup dengan tenang dan akan selalu dihargai. Dalam lingkup besar, konsekuensinya tidak gratis. Sikap seperti itu bisa membawa bahaya yang tidak kecil.

Mereka akan mendapati dunia yang sempit. Mereka tetap membawa label “apa yang aku percaya adalah hal yang benar” sehingga akan mudah untuk menyalahkan orang lain hanya karena memiliki pemikiran berbeda. Pendapat orang lain yang tidak sesuai dengan apa yang mereka pelajari hanya akan mendapat cap salah. Dengan kekurangan informasi, mereka menyimpulkan orang lain sebagai individu yang gagal.

Mereka lupa bahwa dengan pikiran tertutup, mereka sedang berjalan di tempat, dan tidak berkembang.

Bagaimana orang dengan pikiran terbuka? Mereka akan lebih memilih untuk menanam setiap jenis benih baru yang mereka dapat di lahan mereka. Mereka menyandingkannya dengan pohon lain dan tidak melihatnya sebagai ancaman. Mereka yakin bahwa semakin banyak pohon di kebun mereka, semakin banyak hal yang dimengertinya.

Itulah yang harus selalu kita bawa ke mana pun kita berada.

Kita tidak akan pernah menyalahkan orang lain hanya karena mereka memiliki pemikiran yang berbeda, tidak juga mengkotak-kotakkan mereka ke dalam kategori yang kita buat. Kita paham bahwa kebenaran itu adalah hal yang berlaku di dunia nyata. Artinya, sesuatu yang benar bagi kita belum tentu benar bagi orang lain. Kita kemudian akan selalu bisa melihat orang lain sebagai individu yang unik, baik dalam segi pemikiran atau pun tindakan mereka.

Kita mungkin masih menemukan perasaan sakit hati ketika ada hal yang bertentangan dengan kepercayaan kita, tetapi itu bukan menjadi alasan untuk menolaknya karena kita tidak memfokuskan diri pada hal yang sudah kita percayai. Kita memfokuskan diri pada pelajaran apa yang bisa kita dapatkan dari hal tersebut dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi.

Dengan cara itu, kita tidak memberikan ruang untuk menghakimi orang lain, tidak memberikan waktu untuk menyalahkan orang lain, bahkan tidak memberikan kesempatan untuk membenarkan diri sendiri. Orang lain dengan pemikirannya, kita dengan pemikiran kita sendiri. Saling mengerti tanpa harus membenci.

Rumus menjadi seseorang yang open minded itu hanya mendengarkan, menggali lebih dalam, mengedepankan pengertian tentang bagaimana orang lain sampai pada kesimpulan tersebut, memahami, kemudian merefleksikannya ke diri sendiri.

Di sanalah seorang open minded akan menghadapi pertengkaran terbesarnya. Bukan pertengkaran dengan hal eksternal, tetapi dengan hal internal — pertengkaran dengan diri sendiri.

Begini, suatu saat, kita akan mendapatkan benih baru yang mempunyai kebenaran yang bisa memberikan perbaikan lebih banyak. Secara alami, kita kemudian akan melakukan monolog internal untuk mempertanyakan kepercayaan kita sebelumnya.

Dilema perasaan itu kemudian memainkan perannya.

Memilih pohon lama artinya menolak perbaikan. Memilih benih baru dan merawatnya artinya mengakui kekurangan atau bahkan kesalahan yang kita miliki.

Pilihan kedua memang memberikan dampak baik dalam jangka panjang, tetapi itu bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan semua orang.

Melakukan proses transisi dari pohon lama ke pohon baru—berpindah dari kepercayaan lama ke kepercayaan baru—membutuhkan keberanian. Keberanian untuk berhenti mencari validasi orang lain. Keberanian untuk mengambil alih pikiran kita sendiri, dan keberanian untuk tidak disukai orang lain.

If any man is able to convince me and show me that I do not think or act right, I will gladly change; for I seek the truth by which no man was ever injured. But he is injured who abides in his error and ignorance.

― Marcus Aurelius

Membuang benih baru dan tetap tinggal dalam kebun yang sama atau menanam dan merawat benih baru di sebelah pohon-pohon lain adalah pilihan yang selalu tersedia.

Aku tidak memaksamu untuk meninggalkan pohon lamamu, karena inti dari semua ini bukanlah itu. Inti sebenarnya adalah setiap dari kita bisa melihat ketidaksamaan sebagai keberagaman. Itulah satu-satunya alat untuk menghargai dan memperkuat hubungan antara manusia dengan manusia. Dunia juga akan menjadi lebih baik jika tidak ada orang yang saling menyakiti dan tersakiti.

Utopia?