“Kamu kok pinter banget sih, aku kok masih aja nggak bisa pelajaran ini”

“Aku nggak bisa deh, aku nggak berbakat kayak dia”

“Ah, itu mah karena dia anak orang kaya, kalau nggak mana mungkin dia sukses”

“Betul kata guruku, aku mah butiran debu di kelas”

Ada yang belum?

Kalimat di atas adalah kalimat yang sering kita gunakan ketika menghadapi sesuatu (yang dianggap) masalah.

Terlihat sepele, tetapi tidak!

Jika kita perhatikan, semua reaksi di atas lahir dari pola pikir kita. Dengan kata lain. pola pikir akan memengaruhi bagaimana kita mengambil keputusan dan melihat dunia.

• • •

Perkenalkan seorang profesor psikologi Lewis dan Virginia Eaton di Universitas Stanford, dikenal karena karyanya pada sifat psikologis pola pikir dan telah mengajar di Universitas Columbia, Universitas Harvard, dan Universitas Illinois sebelum bergabung dengan fakultas Universitas Stanford pada tahun 2004.

Kita sambut, Carol Dweck.

pola pikir yang harus dimiliki setiap orang

Selama dua puluh tahun, Dweck telah meneliti dan menemukan bahwa bagaimana cara kita melihat sesuatu sangat memengaruhi cara kita menjalani hidup.

Dalam bukunya yang berjudul Mindset, Dweck membagi pola pikir ke dalam 2 jenis :

1. Fixed Mindset

Adalah pola pikir di mana orang-orang percaya bahwa kualitas mereka atau orang lain adalah sifat yang pasti, mutlak dan tidak dapat berubah. Orang-orang ini lebih percaya bahwa pembelajaran dan kecerdasan adalah bawaan alam, bukan hasil dari kerja keras. Mereka juga percaya bahwa bakat adalah faktor yang mengantar seseorang pada kesuksesan, sedangkan usaha tidak diperlukan.

2. Growth Mindset

Adalah pola pikir di mana orang-orang memiliki keyakinan mendasar bahwa pembelajaran dan kecerdasan dapat tumbuh dari pengalaman seiring waktu. Mereka percaya bahwa usaha yang dilakukan dengan benar dan dengan waktu ekstra akan memberikan efek kepada kesuksesan yang ingin mereka capai.

• • •

Pengaruh Pola Pikir dalam Kehidupan

Sadar atau tidak, tingkah laku yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari adalah cerminan dari pola pikir kita.

Jika kamu masih belum yakin apa pola pikir yang kamu miliki, mungkin contoh-contoh berikut ini bisa menjadi bahan renunganmu.

Siapkan sabuk pengaman, pikiran jernih, dan kejujuran terhadap diri sendiri!

1. Dalam Melihat Kemampuan

  • Fixed mindset

Dalam menilai orang lain, mereka akan mudah melihat seseorang berdasarkan apa yang dia tahu dan langsung melabelinya dengan “pintar atau bodoh”. Itu semua karena mereka percaya bahwa setiap orang dilahirkan dengan tingkat kecerdasan atau kemampuan yang tetap dan tidak dapat dimodifikasi.
Dalam menilai diri sendiri, mereka akan selalu ingin tampil cerdas. Orang-orang ini takut terlihat bodoh dihadapan orang-orang. Ingat dengan mereka yang sok pintar? Nah!

  • Growth mindset

Dalam menilai orang lain, mereka percaya bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat dikembangkan dengan upaya, pembelajaran dan kegigihan. Mereka tidak akan melabeli orang dengan kata “bodoh atau pintar”. Itu semua karena setiap orang memiliki kemampuan dasar atau potensi yang bisa dikembangkan.
Dalam menilai diri sendiri, mereka tidak akan malu untuk mengakui ketidaktahuan terhadap sesuatu. Orang-orang seperti ini justru akan menjadikan ketidaktahuan mereka sebagai alat untuk berkembang.

We all have ability. The difference is how we use it.

— Stevie Wonder

• • •

2. Dalam Melihat Kegagalan

  • Fixed mindset

Ketika mereka menghadapi kegagalan, mereka tidak akan mau mengeluarkan energi dan usaha lebih karena mereka menganggap bahwa kegagalan adalah sesuatu yang final.

  • Growth mindset

“Temukan cara lain!” Itulah semangat orang dengan growth mindset. Mereka akan melihat kegagalan sebagai pembelajaran, sebagai latihan untuk berkembang dan bukanlah sesuatu yang final. Bayangkan saja jika Thomas Alva Edison memiliki fixed mindset. Mungkin kita tidak akan pernah melihat seperti apa lampu itu.

I have not failed. I’ve just found 10,000 ways that won’t work.

— Thomas A. Edison

• • •

3. Dalam Melihat Tantangan

  • Fixed mindset

Jika tantangan itu sesuai dengan kemampuan mereka, itu adalah hal yang perlu diapresiasi. Tetapi, jika tantangan itu di luar kemampuan mereka, mereka akan berhenti, berbalik arah dan menyerah. Dan inilah penyebab kenapa kita suka materi perkalian daripada algoritma.

  • Growth mindset

Tantangan mudah akan dilihat sebagai hal yang tidak akan memberikan banyak perkembangan kepada diri mereka. Sedangkan ketika mereka menemukan tantangan sulit, mereka tidak akan mengeluh dan justru akan bersemangat untuk menemukan cara menyelesaikannya.

We don’t grow when things are easy. We grow when we face challenges.

• • •

4. Dalam Mendidik Anak

  • Fixed mindset

“Kamu belajar dengan sangat cepat, kamu anak pintar” Itulah pujian orangtua yang memiliki fixed mindset. Padahal jika kita selami lebih dalam, pujian tadi diartikan oleh anak kecil menjadi “Jika aku tidak belajar dengan cepat, berarti aku bodoh”. Maka sebagai orangtua jangan puji anak berdasarkan intelegensi mereka, itu akan mempengaruhi performa mereka.

  • Growth mindset

Orangtua dengan growth mindset akan memuji berdasarkan usaha anak mereka. “PR adek banyak dan tidaklah mudah, ayah dan ibu mengagumi cara adek berkonsentrasi dan usaha adek dalam menyelesaikannya”.

Anak yang dididik oleh orangtua yang memiliki fixed mindset akan menghasilkan pribadi dengan fixed mindset juga. Begitu juga sebaliknya.

Pujian yang sebenarnya seharusnya ditujukan untuk hasil jangka panjang (pujian terhadap usaha), bukan jangka pendek (pujian terhadap intelegensi).

Praise should deal, not with the child’s personality attributes, but with efforts and achievements.

— Carol Dweck

• • •

5. Dalam Mencari Pasangan

  • Fixed mindset

“Kamu yang salah”. Pasangan yang sama-sama memiliki fixed mindset justru tidak akan menemukan solusi terhadap suatu masalah karena mereka lebih berfokus kepada siapa yang salah, bukan apa masalahnya. Mereka lebih suka menjalani hubungan yang biasa-biasa saja—tidak ada dorongan dari satu sama lain untuk menjadi lebih baik.

  • Growth mindset

Sebaliknya, ketika dihadapkan pada suatu masalah, pasangan dengan growth mindset akan fokus kepada solusi, bukan kepada siapa yang salah. Mereka selalu mendorong satu sama lain untuk menjadi versi yang lebih baik. Mereka tidak keberatan untuk belajar banyak hal yang tidak diketahui. Hal semacam itu justru akan menjadikan hubungan mereka bukan hanya sekedar alat untuk menjalin cinta, tetapi juga sebagai alat untuk berkembang. Asseeek!

If you kiss my neck. I’m not responsible for what happens next.

— Lah, kaga nyambung woi!

• • •

6. Dalam Melihat Kritik

  • Fixed mindset

Mereka hanya akan mengambil sesuatu yang cocok dengan mereka. Yang tidak? Baiii!

  • Growth mindset

Mereka akan mengambil hal yang baik dan yang buruk untuk memandu dan menjadikan mereka orang yang lebih baik.

The trouble with most of us is that we would rather be ruined by praise than saved by criticism.

— Norman Vincent Peale

• • •

7. Dalam Melihat Keberhasilan Orang Lain

  • Fixed mindset

“Alah, itu paling hasil dari ngepet!”. Mereka adalah orang yang iri dalam melihat keberhasilan orang lain. Mereka bahkan menganggap itu sebagai ancaman bagi mereka.

  • Growth mindset

Mereka melihat keberhasilan orang lain dari sisi yang lain. Mereka akan menjadikannya sebagai inspirasi untuk bekerja lebih keras, menjadikannya sebagai motivasi, bahkan memilih belajar dan bertukar ilmu kepada mereka.

People who can’t stand to see the success of others will never experience their own.

8. Dalam Kepemimpinan

  • Fixed mindset

Semua dengar saya!”. Pemimpin dengan fixed mindset akan selalu dan harus terlihat superior diantara yang lainnya. Orang seperti ini harus menjadi pahlawan di setiap masalah yang dihadapi.

  • Growth mindset

Jika semua sudah berpendapat, mari kita diskusikan bersama”. Pemimpin dengan growth mindset akan mengayomi dan tidak mengenal istilah inferior atau superior. Semua dalam tujuan yang sama sehingga bekerja secara tim adalah hal yang lebih bijak untuk menemukan solusi yang terbaik.

Bad leaders believe that they have to project control at all the times.

— Simon Sinek

• • •

Mengubah Pola Pikir = Mengubah Hidup

Berada di fixed mindset?

Tenang, gausah khawatir. Kita sama kok.

Kok bisa? Karena setiap individu pasti memiliki pola pikir fixed mindset dan growth mindset pada hal tertentu. Baik itu saat masih kecil, remaja, atau dewasa.

Contoh:

Si A memiliki fixed mindset ketika melihat keberhasilan seseorang, tetapi memiliki growth mindset ketika melihat kegagalan diri sendiri.

Si B memiliki fixed mindset ketika menjadi pemimpin, tetapi memiliki growth mindset ketika mendidik anaknya.

Langkah pertama yang harus dilakukan fixed mindset adalah kesadaran, kemudian belajar untuk mengubahnya.

Bagaimana cara mengubahnya?

Inilah langkah kedua yang bisa kita gunakan untuk bertransformasi.

Mengubah monolog internal.

Orang-orang dengan growth mindset akan terus-menerus memantau apa yang sedang/sudah terjadi melalui monolog internal.

Bukan tentang menilai diri mereka sendiri dan orang lain, tetapi mereka menilai implikasinya terhadap pembelajaran dan tindakan :

  • Apa yang bisa aku pelajari dari ini?
  • Bagaimana aku bisa meningkatkan sesuatu yang belum maksimal?
  • Bagaimana aku dapat membantu pasanganku melakukan ini lebih baik?

Dengan cara ini (terapi kognitif), kita akan menjadi lebih realistis dan optimis.

Jadi, pola pikir mana yang kamu pilih?

Once your mindset changes, everything on the outside will change along with it.

— Steve Maraboli

pola pikir yang mengubah hidup pola pikir yang mengubah hidup pola pikir yang mengubah hidup pola pikir yang mengubah hidup


FOOTNOTES

  1. Aku sangat menyarankanmu untuk membaca buku ini atau jika kamu ingin mencari tambahan informasi seputar Growth Mindset kamu bisa membaca What Having a “Growth Mindset” Actually Means yang diterbitkan oleh Harvard Business Review.