Bagaimana Otak Bekerja : Alasan Kenapa Kita Memiliki Rasa Malas

Bagaimana Otak Bekerja : Alasan Kenapa Kita Memiliki Rasa Malas

Berapa hasil dari 2×4 ?

Yup, kalian benar!

Sekarang, berapa hasil kali dari 43×54?

Hmmm, butuh waktu ya untuk menghitung? Atau malah malas untuk menghitungnya?

Tidak usah merasa sendiri, karena banyak orang yang seperti kamu, termasuk aku!

Sebagai manusia, rasa malas adalah sesuatu yang normal.

Kita akan dibuat berdiam diri, tidak bergairah dan hanya ingin menghabiskan waktu untuk berguling-guling diatas kasur.

Akan ada banyak contoh dalam kehidupan sehari-hari, tentang bagaimana rasa malas menjadi pemenang di setiap pertarungan dalam diri kita.

  • Daftar tugas yang sistematis yang hanya menjadi pelengkap papan deadline.
  • Tumpukan lembar kerja yang terhias di atas meja.
  • Keinginan berolahraga yang berakhir dengan kulit ayam yang super renyah.
  • Semangat yang berkobar untuk mengerjakan skripsi yang berakhir dengan pulau di bantal.
  • Persiapan hati untuk memulai membaca Al-Qur’an yang berakhir dengan membaca Whatsapp.

Jika masih kurang, kalian bisa mengingat kembali hal-hal yang sudah kalian tunda, dan semua itu hanya karena keinginan kalian untuk menikmati kesenangan yang sesaat.

Tapi, kenapa kita malas? Adakah cara untuk mengatasinya?

Note: Hai, sebelum melanjutkan membaca, aku ingin memberi tahu bahwa aku telah menyelesaikan sebuah buku tentang minimalisme – seni melepaskan dan merelakan. Ingin lebih tahu tentang apa itu minimalsime?  Klik disini untuk mendownloadnya secara gratis 

• • •

2 SISTEM DALAM OTAK KITA 

Kembali ke soal perkalian yang tadi, kenapa kalian bisa menjawab soal pertama dengan mudah dan mendapatkan kesulitan ketika menjawab pertanyaan kedua?

Kebanyakan orang akan mengatakan karena soal pertama adalah soal yang mudah, sedangkan yang kedua sulit atau membutuhkan waktu untuk berpikir.

Itu memang betul, tetapi mari kita lihat dari sudut pandang yang berbeda.

Dalam bukunya “Thinking Fast and Slow”, Daniel Kahneman, seorang yang memenangkan Hadiah Nobel tahun 2002 dalam bidang ekonomi untuk pekerjaan yang berkaitan dengan pengambilan keputusan ekonomi dengan psikologi, menjelaskan bahwa otak kita memiliki 2 sistem dalam berpikir.

  • Sistem 1 ( Berpikir cepat ).
  • Sistem 2 ( Berpikir lambat ).

Sistem 1, adalah cara berpikir intuisi yang intuitif dalam mengambil keputusan. Cara berpikir sistem ini membentuk “kesan pertama” dan merupakan alasan mengapa kita mengambil kesimpulan. Sistem ini bekerja otomatis ( tidak membutuhkan banyak waktu untuk memerintahkan tubuh melakukan sesuatu ).

Sistem 2, adalah cara berpikir analitis, “berpikir kritis” dalam membuat keputusan, melakukan refleksi, pemecahan masalah, dan analisis. Kahneman juga menambahkan, bahwa ketika kita berpikir di sistem ini, pupil kita akan membesar. Denyut jantung meningkat dan menurunnya tingkat glukosa darah dalam tubuh.

Kita menjadi mudah tersinggung jika ada seseorang atau sesuatu yang mengganggu fokus kita. Kita menjadi tuli dan buta sebagian terhadap rangsangan yang biasanya memerlukan perhatian kita.

We can be blind to the obvious. And we are also blind to our blindness

— Daniel Kahneman

• • •

PENERAPAN SISTEM 1 ATAU SISTEM 2?

Kita menganggap, bahwa kita adalah makhluk hidup yang rasional, berpikir kritis, dan berkeyakinan bahwa kita sebenarnya menjalani kehidupan dengan otak sistem 2.

Nyatanya, justru kebalikannya.

Sebenarnya, dalam menjalani kehidupan sehari-hari, kita lebih menghabiskan waktu dengan sistem 1 (Berpikir cepat).

Lalu kapan sebenarnya kita menggunakan sistem 2 (Berpikir lambat)?

 Kahneman menulis :

Systems 1 and 2 are both active whenever we are awake. System 1 runs automatically and System 2 is normally in comfortable low-effort mode, in which only a fraction of its capacity is engaged. System 1 continuously generates suggestions for System 2: impressions, intuitions, intentions, and feelings. If endorsed by System 2, impressions and intuitions turn into beliefs, and impulses turn into voluntary actions. When all goes smoothly, which is most of the time, System 2 adopts the suggestions of System 1 with little or no modification.

You generally believe your impressions and act on your desires, and that is fine — usually. When System 1 runs into difficulty, it calls on System 2 to support more detailed and specific processing that may solve the problem of the moment. System 2 is mobilized when a question arises for which System 1 does not offer an answer… System 2 is activated when an event is detected that violates the model of the world that System 1 maintains.

Sistem 1 dan 2 sama-sama aktif setiap kali kita bangun. Sistem 1 berjalan secara otomatis dan Sistem 2 biasanya dalam mode rendah-usaha yang nyaman, di mana hanya sebagian kecil dari kapasitasnya yang digunakan. Sistem 1 terus menghasilkan saran untuk Sistem 2: tayangan, intuisi, niat, dan perasaan. Jika didukung oleh Sistem 2, tayangan dan intuisi berubah menjadi keyakinan, dan impuls berubah menjadi tindakan sukarela. Ketika semua berjalan lancar, Sistem 2 akan mengadopsi saran dari Sistem 1 dengan sedikit atau tanpa modifikasi.

Anda umumnya percaya pada kesan Anda, dan bertindak sesuai keinginan Anda, dan itu baik-baik saja – biasanya. Ketika Sistem 1 mengalami kesulitan, itu panggilan pada Sistem 2 untuk mendukung pengolahan lebih rinci dan spesifik yang dapat memecahkan masalah saat ini. Sistem 2 dimobilisasi ketika muncul pertanyaan yang Sistem 1 tidak menawarkan jawaban. Sistem 2 diaktifkan ketika suatu peristiwa terdeteksi melanggar dunia yang Sistem 1 pertahankan.

Jika kembali ke soal tadi, soal pertama adalah hal yang sudah biasa, tidak sulit, dan sudah menjadi hal yang otomatis. Maka sistem 1 lah yang bertugas.

Tetapi, saat menghadapi soal kedua, sistem satu tidak menemukan jawabannya, makanya dia menyerahkan tugas ke sistem 2 untuk bekerja.

Hal ini akan sama ketika kita hendak melakukan sesuatu. Mungkin bisa belajar, bekerja, atau apapun.

Jika sistem 1 sudah mengenalinya dan telah terbentuk kebiasaan, maka pekerjaan tersebut akan kita lakukan dengan otomatis atau tanpa berpikir lagi.

Jika kita mendapatkan sesuatu hal yang baru, dan hal itu tidak dapat diterjemahkan sistem 1, maka akan terjadi 2 hal.

Pertama, kita memilih untuk mempekerjakan sistem 2, atau yang kedua adalah, membiarkan sistem 2 tetap bersantai dan membiarkan sistem satu menjawab sesuai dengan apa yang dipercayanya.

• • •

WYSIATI: WHAT YOU SEE IS ALL THERE IS DAN KENAPA KITA MALAS

Maksud kalimat diatas adalah “apa yang kamu lihat adalah yang harus dipercaya”.

Fenomena ini adalah istilah yang dibuat Kahneman, karena kebanyakan orang sering mengambil kesimpulan atas dasar informasi yang terbatas.

Karena fenomena ini, kita akan lebih fokus pada bukti yang ada dan mengabaikan bukti yang tidak ada (absen).

Dengan kata lain, sistem 1 sering dengan cepat menciptakan hubungan dan membuatnya dapat dipercaya, meskipun cerita tersebut hanya memiliki bukti terbatas.

Tetapi, hal itu bisa saja berubah, ketika kita bisa mengaktifkan sistem 2. Dengan sistem 2 perkiraan dan intuisi  kemudian dapat berubah menjadi nilai-nilai dan keyakinan yang berakar dalam.

WYSIATI dapat menyebabkan Sistem 1 untuk “menyimpulkan dan menciptakan penyebab dan niat,” meskipun kita sebenarnya tidak tahu, apakah sebab atau niat itu benar atau tidak. Kita akan melompat ke kesimpulan, mengambil niat buruk, dan menyerah pada prasangka atau bias.

Kita fokus pada bukti terbatas yang tersedia dan tidak mempertimbangkan bukti yang tidak ada.  Kemudian, dengan cepat sistem 1 membentuk penilaian atau kesan, yang pada gilirannya dengan cepat didukung oleh sistem 2.

Kenapa kita malas?

Karena adanya pertentangan antara sistem 1 dan sistem 2. Pertentangan ini terjadi karena mereka memiliki perilaku yang berbeda.

Sistem 1 tidak keberatan bekerja sepanjang waktu, misalnya, karena pekerjaannya tidak terlalu sulit.

Sedangkan, ketika Sistem 2 dijalankan, dia membutuhkan begitu banyak upaya di seluruh tubuh, sehingga dia enggan untuk bergerak dan bekerja.

Sebenarnya orang malas bukanlah orang yang menghindari untuk menemukan pemecahan masalah yang membutuhkan reaksi cepat dan otomatis.

Tetapi, karena mereka mengantisipasi ketegangan fisik yang dihasilkan sistem 2. Akhirnya, mereka menunda pekerjaan yang membutuhkan pemikiran yang cermat.

Tidak heran banyak diantara kita yang membenci kelas matematika.

• • •

AKIBAT JIKA SISTEM 1 YANG BEKERJA

Sistem 1 dan 2 sebenarnya selalu kita butuhkan. Tetapi, kita saja yang terkadang masih belum bisa memaksimalkannya.

Jika kita terus dan selalu menggunakan sistem 1 dalam berpikir di  kehidupan sehari-hari, kita akan mendapatkan banyak sekali hal negatif :

  • Law of small numbers, Kita tidak akan memahami statistik dengan sangat baik. Akibatnya, kita akan melompat ke kesimpulan yang didukung beberapa poin data atau bukti yang terbatas. Mendengarkan tiga orang mengatakan sesuatu memiliki kemungkinan kita mendapatkan jawaban yang benar. Berbeda dengan hanya mengamati satu insiden secara pribadi. Karena kita akan lebih cenderung menggeneralisasi kejadian ini.
  • Ilusi pemahaman, Orang sering membuat penjelasan yang salah tentang peristiwa masa lalu, sebuah fenomena yang dikenal sebagai kekeliruan narasi. Yaitu fenomena dimana jika kita yakin penjelasannya benar, kita akan memiliki perasaan pemahaman yang lebih kuat. Padahal penjelasan yang kita dapatkan adalah penjelasan yang samar-samar dan tidak memberikan pemahaman yang sebenarnya.
  • Bias Konfirmasi, Di ​​dalam WYSIATI, orang akan cepat menangkap bukti terbatas yang menegaskan perspektif yang ada. Dan mereka akan mengabaikan atau gagal mencari bukti yang bertentangan dengan cerita koheren yang telah mereka ciptakan dalam pikiran mereka.
  • Terlalu percaya diri, Karena ilusi pemahaman dan WYSIATI, orang mungkin menjadi terlalu percaya diri dalam prediksi, penilaian, dan intuisi mereka. Pikiran yang mengikuti WYSIATI akan mencapai kepercayaan diri yang tinggi dengan sangat mudah dengan mengabaikan apa yang tidak diketahui. Oleh karena itu tidak mengherankan bahwa banyak dari kita cenderung memiliki kepercayaan diri yang tinggi terhadap intuisi yang tidak berdasar. 

  • Over-optimisme, Orang memiliki kecenderungan untuk membuat rencana dan prakiraan yang “mendekati secara tidak realistis untuk skenario terbaik.” Ketika memperkirakan sesuatu yang berisiko. Orang cenderung membuat keputusan “berdasarkan ilusi optimisme” daripada pada pencarian data untuk tujuan rasional keuntungan, kerugian, dan probabilitas. Mereka melebih-lebihkan manfaat dan meremehkan kerugian. Mereka memutar skenario kesuksesan sambil mengabaikan potensi kesalahan dan salah perhitungan. Dalam pandangan ini, orang sering (tetapi tidak selalu) mengambil sesuatu yang berisiko karena mereka terlalu optimis tentang peluang. 

• • •

CARA TERBAIK MEMBUANG KEMALASAN

Harus kita pahami lagi, bahwa sistem 1 dan 2 memiliki fungsi dan memberikan manfaatnya masing-masing. Kita tidak bisa hidup dengan menggunakan salah satu sistem saja.

Ada waktunya kita menggunakan sistem 1 ( berpikir cepat ). semisal ketika kita dalam bahaya dan membutuhkan tindakan cepat atau hal-hal yang sudah menjadi kebiasaan ( tidak memerlukan waktu lagi untuk berpikir ).

Sedangkan sistem 2 ( berpikir lambat ) akan kita gunakan ketika untuk memecahkan masalah yang sulit, masalah yang membutuhkan data dan fakta, atau hal-hal baru yang belum menjadi sebuah kebiasaan.

Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk membuang kemalasan :

  • Pahami apa yang dibutukan tugasmu, dengan memahami karakteristik setiap tugas, kita akan bisa memilah kapan harus menggunakan sistem 1 atau sistem 2. Jika tugas yang akan dikerjakan adalah tugas yang ringan, maka sistem 1 yang akan bekerja. Begitupun sebaliknya.
  • Sistem 1 ( berpikir cepat ) akan berjalan secara otomatis, artinya kita mungkin saja tidak sadar kapan dia mulai bekerja. Yang bisa kita lakukan adalah menyadari kapan harus mengaktifkan sistem 2 ( berpikir lambat ). Keaktifan sistem 2 akan bisa kita lakukan ketika kita tahu betul bahwa sistem 1 tidak memiliki jawaban untuk persoalan yang dihadapi.
  • Mulai jalankan sistem 2, tahap terkahir adalah menjalankan sistem 2, dimana itu akan membutuhkan energi, waktu, dan mental untuk berhasil menyelesaikannya. Tak jarang, kita juga akan membutuhkan data dan fakta yang mendukung. Hal-hal yang kontradiktif atau tidak diketahui jawabannya oleh sistem 1, akan menuntun kita kepada subuah kebenaran.

Mari kita pahami betul bagaimana otak kita berpikir. Dengan cara ini, kita akan bisa mengusir kemalasan dan penundaan.

Those who avoid the sin of intellectual sloth could be called “engaged.” They are more alert, more intellectually active, less willing to be satisfied with superficially attractive answers, more skeptical about their intuitions.

—  Daniel Kahneman

 


FOOTNOTES

1. Veritasium menjelaskan konsep ini dengan sangat baik dan mudah untuk dimengerti. Silahkan cek videonya disini.

2. Keterangan tambahan pada artikel ini, aku ambil dari artikel yang ditulis oleh Ameet Ranadive di Medium.