Aku pernah melihat seorang gadis menangis di depanku. Dengan berkali-kali mengusap pipi merahnya yang basah, dia bercerita tentang bagaimana orang tuanya. Kebutuhannya dalam pendidikan, fashion, atau elektronik terbaru sangat bisa dipenuhi, tetapi kebutuhannya dalam emosi tidak.

Aku pernah melihat seorang anak laki-laki tertawa lepas dengan satu nampan besar berisi nasi dan lauk sederhana yang dimakan bersama dengan teman-temannya. Kebutuhannya dalam pendidikan terbatas, fashion juga tidak masuk dalam daftar kewajiban yang harus dipenuhi, apalagi telepon pintar yang memiliki kerapatan piksel yang tinggi, tetapi kebutuhan emosinya tercukupi.

Aku sadar betul bahwa penilaianku atas kedua realitas tadi tidak menjamin kenyataan yang sebenarnya karena adanya bias yang terlibat. Namun di sisi lain belahan dunia ini, realitas seperti itu memang ada. Itulah yang membuatku terusik selama beberapa minggu ke belakang. Berbagai input baru dari lingkungan sekitar dan media seperti buku, membuatku tidak hanya melihat memori itu sebagai titik-titik pewarna sudut pandang, tetapi sebagai titik-titik refleksi tentang sesuatu yang sering kali digambarkan indah: Menikah dan kehidupan di dalamnya.

Pandangan seperti itu semakin diperkuat dengan keharmonisan kehidupan rumah tangga orang lain di dunia maya. Di sana, kita bisa melihat kehidupan pernikahan mulai dari mereka yang masih berusia muda hingga mereka yang mengikat sebuah pernikahan tanpa berlandaskan jumlah usia. Gambaran indah yang mereka bagikan melalui foto keluarga dan caption romantis membuat kita mengambil kesimpulan bahwa mereka memiliki kehidupan pernikahan yang sempurna. Bahkan kita juga menginginkan posisi dan kondisi yang serupa.

Hanya saja, ketika disuruh memberikan detail tentang apa yang membangun kesempurnaan itu, jawaban kita tidak akan jauh dari materi, cinta, dan agama. Ketiga jawaban itu dianggap sebagai kunci pernikahan yang kuat dan dia lahir dari kebiasaan mental.

Untuk memahaminya lebih jauh, mari kita mulai dari diri kita yang dulu di mana tidak tahu apa pun tentang pernikahan—tidak tahu mana yang hal yang efektif dan mana yang tidak efektif untuk diterapkan dalam sebuah hubungan.

Sekilas, fase itu merupakan hal buruk karena tanpa mengetahui aspek-aspek yang ada di dalam pernikahan, kesempatan untuk mencapai kebahagiaan dalam menjalin hubungan juga semakin kecil. Sisi positifnya, di fase inilah kebebasan kita berada pada tingkat tertinggi. Pergerakan kita luas karena tidak ada aturan yang harus diikuti selain keinginan diri sendiri. Namun, apa artinya kebebasan jika itu bisa memperburuk pengalaman hidup kita di masa depan—sulit membangun hubungan yang sehat?

Untungnya, kita selalu bergerak maju menuju ke fase baru—pemahaman. Di fase ini kita diajari atau mencari input dari luar untuk mengetahui pentingnya memiliki hubungan, bagaimana memperlakukan pasangan, bagaimana bersikap dalam sebuah hubungan, tata cara untuk menghargai batasan, atau juga ajaran tentang hak dan kewajiban seorang pasangan.

Di fase pemahaman, kita memang mendapatkan ilmu yang bisa meningkatkan kualitas pengalaman hidup, tetapi kita juga memperkecil kebebasan yang kita miliki. Pergerakan kita terbatas karena keinginan kita ditekan oleh aturan yang disetujui bersama dengan orang lain atau ideologi yang diturunkan. Namun, bukankah pelarian seperti itu yang membantu kita mengontrol insting untuk mendapatkan keuntungan yang lebih sehat—keterikatan dengan orang lain yang bisa memenuhi kebutuhan emosi?

Meskipun kedua fase tersebut merupakan alur alami yang pasti dilalui setiap orang, jalannya kehidupan pernikahan terbentuk di fase kedua.

Jika lingkungan mengajarkan bahwa pernikahan yang bahagia dibangun hanya dengan kecukupan materi, dan kesiapan mental—yang sering kali didasarkan pada cinta dan agama—dengan standar yang berlaku di sana, maka pernikahan yang ada tidak lebih dari menyalin instruksi orang lain. Tidak ada pertimbangan lain karena kita hanya bergantung pada sumber yang bersifat turun-temurun. Kita mengikuti pola dari luar tanpa ada niat membentuk pola baru dari dalam yang sebenarnya lebih bisa menyajikan keidealan sebuah pernikahan berdasarkan kebutuhan diri sendiri.

Belum lagi budaya kurang sehat yang dijunjung dalam sebuah lingkungan. Misalnya, di beberapa lingkungan, menikah memiliki patokan umur dan mereka yang telah melewati batasan itu dilabeli dengan sesuatu yang bisa membuat siapa pun merasa tidak nyaman. Orang-orang yang tinggal dalam lingkungan seperti ini tidak memiliki banyak pilihan selain bertahan dalam kepungan celotehan orang lain, atau menerima perjodohan dari orang tua untuk menjemput cap ‘anak berbakti’ dan melepas label buruk yang diberikan orang-orang sekitar mereka meskipun harus membohongi diri sendiri. Di sisi lain, lingkungan mereka mengerti bahwa jodoh bisa dipaksakan, tetapi lupa memahami bahwa keterhubungan hati tidak sesederhana ungkapan bahasa jawa witing tresno jalaran soko kulino—cinta tumbuh karena terbiasa.

Lalu, bagaimana jika seseorang tinggal dalam lingkungan yang menjunjung tinggi kemandirian individu dalam menentukan pilihan hidupnya? Bagus. Ini mengartikan bahwa individu memiliki kuasa penuh atas dirinya sendiri dalam memperbanyak referensi. Masalahnya, ketika mereka hanya membangun realitas pernikahan berdasarkan kehidupan orang lain yang (terlihat) sempurna di mana selalu menyuguhkan kenikmatan, dan kebahagiaan hanya dengan materi, cinta, dan agama, kesempatan untuk patah di tengah perjalanan menjadi semakin besar karena mereka buta akan realitas kontradiksi lain yang sebenarnya wajar dan alami untuk terjadi.

Jika itu—menerima ajaran luar begitu saja atau hanya melihat realitas secara sempit—dilakukan tanpa terputus, kebiasaan mental tidak sehat terbentuk hingga tidak ada kesesuaian kebutuhan diri yang diusahakan. Itulah keterbatasan kita sebelum menikah—minimnya ilmu dalam merasionalkan pengalaman yang terjadi.

Itu bukanlah hal yang bisa kita anggap sepele. Semakin minimnya ilmu yang kita punya, semakin dalam diri kita menjalani hubungan dalam ketidaktahuan.

Dalam ketidaktahuan, kita hanya mengulang kesalahan. Dalam ketidaktahuan, kita hanya menciptakan kesalahpahaman. Dalam ketidaktahuan, kita hanya menjemput masalah yang sebenarnya bisa dihindari. Dalam ketidaktahuan, kita hanya menurunkan siklus kehidupan yang sama kepada anak-anak kita.

Kita mungkin memang memiliki ilmu tentang finansial, cinta, atau juga agama, tetapi (1) bagaimana jika kita masih berada dalam permukaannya—yang masih belum memberikan jawaban yang dibutuhkan? (2) Bagaimana jika ada ilmu lain yang tidak kalah pentingnya, tetapi tidak pernah kita sadari?

Prinsip ‘belajar sambil melakukan‘ menjadi salah satu penyebab terbesar mengapa kita tidak mau memperdalam atau mengeksplorasi sebuah ilmu. Akhirnya, kita harus selalu terjun terlebih dahulu ke dalam sebuah masalah untuk melakukan pengobatan yang memakan banyak energi fisik dan mental. Lain halnya jika kita bisa membekali diri dengan ilmu yang jika belum bisa menghindarkan masalah, setidaknya bisa menunjukkan jalan untuk meminimalisirnya dengan lebih baik.

Mengapa kita tidak menyadari adanya kepentingan dari ilmu lain? Karena kita merasa ‘baik’ dengan apa yang sudah kita miliki. Hal itulah yang akhirnya menentukan cara kita dalam memperlakukan ilmu: Kita memperlakukan ilmu berdasarkan suasana hati di mana menuntut kesamaan nilai yang dikandung ilmu baru dengan kepercayaan yang kita pegang, bukan berdasarkan nilai yang diberikan di mana menuntut keberagaman realitas untuk bisa dikaji lebih lanjut.

Ketika kita terlalu mengagung-agungkan satu ilmu dan menyangkal ilmu lainnya, komposisi realitas yang menyajikan pengalaman hidup optimal akan terhenti. Itu berarti pilihan kedua—memperlakukan ilmu berdasarkan nilai—bisa menyajikan tempat yang lebih sehat karena di sana kita memperbanyak potongan puzzle untuk membuat sebuah masalah yang terjadi menjadi lebih masuk akal. Semakin masuk akal, semakin tenang, bijak, dan benar diri kita dalam mencari penyelesaiannya.

Aku belum menikah, bukan juga seorang yang ahli dalam sebuah hubungan. Aku sama sepertimu yang masih memiliki banyak celah kosong yang harus diisi. Esai ini, dan selanjutnya, ditulis bukan untuk menunjukkanmu apa yang harus kamu lakukan karena aku tidak memiliki jawabannya. Esai ini, dan selanjutnya, ditulis untuk menunjukkanmu bahwa ada hal penting lain yang seharusnya kita pikirkan sebelum menikah.

Aku tahu, ini akan jauh dari kata sempurna, tetapi hal penting yang aku maksud bukanlah jalan pasti untuk hidup bahagia dalam sebuah pernikahan, tetapi jalan tambahan untuk mengurangi kesalahan.

Next→ Pemikiran Kedua: Jarak Antara Persepsi dan Realitas