• Alarm yang berbunyi keras membuatku terbangun. Bukan untuk memulai aktivitas, tetapi untuk menambah jatah tambahan selama 10 menit. Pernah? Sudahlah, tidak usah berbohong, kita ada di perahu yang sama.
  • Setelah tenaga terisi penuh, nyawa telah kembali ke tingkat maksimal, kaki mencoba untuk melangkah dan memulai hari.
  • Berangkat ke kantor adalah aktivitas yang haram untuk ditinggalkan.
  • Sepulang kerja? Sesegera mungkin kembali bercinta dengan layar telepon pintar. Oh, atau sudah aku lakukan bahkan ketika bekerja? Udah, kita sama lagi kok.
  • Scrolling, Scrolling, Scrolling, yang awalnya berniat mencari informasi, kemudian terjun dalam spiral Instagram dan berakhir dengan menonton seekor monyet yang sedang lomba lari.
  • “Okay, cukup, saatnya mengerjakan tugas!” tekad kuat yang diharapkan tidak menjadi wacana lagi.
  • Akhirnya, aku bisa mulai mengerjakan tugas yang sudah di depan mata.
  • Eiittss, mungkin akan jauh lebih bisa berkonsentrasi jika ditemani seember kopi.
  • Hmmm, sebaiknya aku mencari referensi dulu di internet.
  • Laptop ku buka, dan kujelajahi hutan amazon virtual itu.
  • Wow, disana aku bertemu dengan “bagaimana setrika bekerja”, “cara memandikan kucing dengan benar”, “cara mengingatkan teman yang bau badan”…….
  • Cukup! Saatnya memulai meskipun sudah jam 11 malam.
  • Selesai! dan waktu menunjukkan tepat jam 1 malam. Sebelum mata ini mendapatkan jatah istirahatnya, aku bertanya kepada diriku “Apakah hari ini produktivitasku berada pada level terbaik?”
  • Iya! -.-

• • •

APA ITU PRODUKTIVITAS?

Baik, kita cari tahu dulu apa itu produktivitas. Apakah produktivitas itu sama dengan kesibukan? Bukan.

Kesibukan tidak berjalan linear dengan produktivitas.

Jadi, apa produktivitas itu?

Produktivitas adalah ukuran keefisienan seseorang dalam menyelesaikan pekerjaan, mendapatkan output yang sama atau lebih besar daripada input, dan hanya menyelesaikan pekerjaan yang terpenting.

Dari pengertian diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa mengerjakan banyak hal dalam sehari tidak mengartikan orang itu produktif.

Bahkan ada orang yang hanya mengerjakan beberapa hal saja, tetapi bisa di cap dengan label “sangat produktif.”

Kemudian, bagaimana cara kita agar kita selalu produktif di Waktu yang terbatas ini?

• • •

KENAPA KITA HARUS PRODUKTIF?

Sebelum kita ke topik utama, ada hal yang harus kita bahas terlebih dahulu. Yaitu “Kenapa kita harus produktif?”

Jawabannya: Kamu tidak harus!

Aku tahu akan banyak orang diluar sana yang masih menjalani hari yang hanya tanpa adanya pembaruan. Menjalani hari seperti air yang mengalir, tanpa adanya usaha untuk melawannya. Dan itu sah-sah saja. Tidak ada yang salah sama sekali.

Ada juga mereka yang tidak memiliki keinginan untuk mencapai sesuatu yang lebih tinggi lagi karena memang mereka sudah nyaman dengan keadaan yang sekarang. Dan itu tidak masalah.

Tapi, bagaimana kalau kita lihat dari sudut pandang yang berbeda?

Sadar nggak sih kalau dalam 24 jam, kita lebih banyak mengkonsumsi sesuatu daripada menciptakan sesuatu. Dengan kata lain, di zaman sekarang ini kebanyakan dari kita lebih banyak bertindak pasif.

Padahal, harusnya kita juga harus mengikuti perkembangan yang ada ini. Karena, jika tidak, kita akan semakin tertinggal dan semakin sulit untuk mencapai hal-hal yang kita impikan.

Dan disinilah peran besar produktivitas.

Dalam menerapkannya, kita harus bisa menciptakan atau menghasilkan sesuatu dari apa yang kita dapatkan. Input itu bisa berupa informasi, dan outputnya bisa berupa uang, atau karya.

Oh ya, kita disini bukan membahas tentang produktivitas yang hasilnya ditujukan kepada orang lain (bekerja untuk orang lain), tetapi produktivitas yang hasilnya ditujukan kepada diri kita sendiri.

Jika kita bekerja selama 8 jam sehari. Tidur 8 jam sehari. kita masih memiliki waktu yang berlum terpakai sebanyak 8 jam.

Masalahnya kita belum menghitung kegiatan lainnya seperti makan, bersih-bersih rumah, dll. Katakanlah kegiatan lainnya ini membutuhkan waktu 4 jam. Itu artinya kita hanya memiliki waktu 4 jam saja untuk melakukan hal produktif.

Tapi, bagaimana kalau kegiatan lainnya membutuhkan waktu lebih dari 4 jam? Oh, Itu sangat memungkinkan.

Tidak percaya? Coba lihat statistik pemakaian telepon pintarmu, berapa jam kamu menghabiskan waktumu? Jika kamu menghabiskan 3 jam hanya untuk menghibur diri di telepon pintar, waktu yang tersisa sekarang hanya tinggal 1 jam.

1 jam!

Sudah lihat? Kita hanya mempunyai 1 jam untuk melakukan hal yang kita inginkan, untuk melakukan sesuatu yang kita sukai, untuk melakukan kegiatan yang mengasah keterampilan kita. Jadi, bagaimana kalau itu terbuang begitu saja?

Tidak masalah!

Dunia tidak akan menangisi kita, waktu tidak akan pernah menyadarkan kita. Karena semua hal yang terjadi adalah murni karena keputusan kita.

Semua hal yang kita lakukan selalu memiliki konsekuensi. Tinggal konsekuensi apa yang akan terjadi.

• • •

 

5 KOMPONEN UTAMA UNTUK SELALU PRODUKTIF

Baik, jika memang yang tersisa hanya 1 jam, tidak usah bersedih atau juga frustasi. Tenang, dan lakukan saja apa yang tersisa dengan sebaik mungkin.

Tetapi, ada hal yang harus kita tahu, bahwa untuk menjadi produktif, kita membutuhkan 5 komponen utama. 5 komponen inilah yang akan membuat kita selalu menghasilkan sesuatu secara maksimal. Ke lima komponen ini adalah:

  1. Waktu.
  2. Tujuan.
  3. Energi.
  4. Fokus.
  5. Feedback.

cara meningkatkan produktivitas

Kabar buruknya, kita tidak akan pernah produktif jika kehilangan satu dari komponen diatas. Alasannya adalah karena satu sama lainnya saling berkaitan.

Mari kita bahas satu per satu.

1. WAKTU

Seperti yang sudah kita bahas tadi bahwa waktu adalah komponen utama dalam melakukan kegiatan produktif. Tanpa hal ini, kita seperti tidak memiliki ruang untuk melakukan sesuatu.

Sekali-kali, ambilah secarik kertas dan tulis berapa waktu rata-rata yang tersisa setiap harinya. Alokasikan waktu itu untuk melakukan kegiatan yang bisa membawamu untuk menjadi lebih baik.

Waktu tersebut bisa kamu isi dengan membaca buku dan menuliskan idenya, membuat lukisan, mengedit video, menulis artikel (yakinlah, aku juga sempat menemukan kesulitan dalam hal ini), dll.

Tapi, yang harus selalu digarisbawahi adalah, pastikan kegiatan tersebut memiliki timbal hasil yang besar. Maka, disini kemampuan untuk memprioritaskan tugas adalah hal yang sangat penting. Karena jika salah mengambil, kita sama saja membuang waktu dan tenaga untuk hasil yang tidak signifikan.

Kan lebih baik daripada tidak melakukan sesuatu?” Tanyamu.

Kenapa harus memilih yang baik jika bisa mendapatkan yang terbaik?

 

2. TUJUAN

Semua akan menjadi hal yang tidak berarti jika tidak ada tujuan yang ingin dicapai. Untuk apa kita melakukan A jika tidak mendapat B. Untuk apa kita melakukan C jika tidak mendapat D.

Tujuan ini bisa bersifat konkret dan abstrak. Konkret seperti uang atau barang jadi. Atau jika abstrak bisa berupa kebahagiaan, kesenangan, kepuasaan, dll.

Dua bentuk tujuan tersebut adalah modal kita untuk memulai sebuah tugas. Jika kita tidak memilikinya, sama saja kita memulai balap motor tanpa tahu kapan dan dimana garis akhirnya. Kita hanya terus berjuang dan berjuang dengan timbal balik yang nihil.

Jadi, selalu tanyakan pada dirimu…

“Apa tujuanku mengerjakan ini?”

 

3. ENERGI

Ambilah minuman berion tinggi dan campurkan dengan minuman penambah stamina. Itu adalah cara ampuh untuk menyelesaikan masalah yang sering kita jumpai, yaitu kekurangan energi.

Ayolah, aku hanya bercanda di bagian minumannya.

Tapi, memang benar kalau kebanyakan waktu yang sia-sia adalah karena kurangnya energi, bukan waktu. Ya karena pada dasarnya, kita selalu memiliki waktu tersebut, tinggal bagaimana kita menggunakannya. Masalahnya, tanpa energi semua waktu itu tidak akan berguna.

Jadi bagaimana solusinya?

Hanya bisa aku jawab dengan jawaban klise: mulailah dengan gaya hidup yang sehat!

Mulai dari apa yang kita makan, bagaimana kita berolahraga sampai bagaimana kita tidur adalah faktor penting dalam penyediaan energi ini. Bagaimana bisa kita mempunyai energi yang besar jika makanan kita bukanlah makanan yang bergizi? Bagaimana bisa kita mempunyai energi yang baik jika kita tidak pernah berolahraga? Bagaimana bisa kita mempunyai energi yang cukup jika tidur kita hanya 3 jam sehari?

Jadi untuk mendapatkan energi di tingkat maksimal, pastikan kita menginvestasikan beberapa waktu kita ke:

  1. Makanan yang bergizi.
  2. Olahraga yang cukup.
  3. Pola tidur yang baik.

Energi kita terbatas, maka gunakanlah hanya untuk sesuatu yang patut diperjuangkan.

 

4. FOKUS

Kita mempunyai waktu, kita sudah menentukan tujuan, kita juga sudah menyiapkan energi. Sekarang saatnya untuk bekerja.

Eitts, jangan sampai lupa bahwa bekerja tidak selalu akan membawa kita kepada hasil maksimal. Lalu bekerja seperti apa yang menghasilkan sesuatu yang maksimal?

Fokus!

Kita ini sudah terjangkit yang namanya Phantom vibration syndrome, yaitu anggapan bahwa ponsel kita bergetar atau berdering, padahal kenyataannya tidak. Kita hanya merasa sok penting dengan selalu mengecek apakah ada notifikasi yang masuk? Padahal jika dilihat itu hanyalah pesan yang berisikan “Selamat Anda mendapatkan Truk lengkap dengan supirnya.”

Maka, jauhkan semua gangguan yang mungkin akan memakan fokus kita, dan gangguan terbesar itu adalah telepon pintar kita.

Selain itu, pahamilah lingkungan seperti apa yang bekerja untuk kamu. Jika kamu tidak bisa bekerja di lingkungan yang ramai, cari tempat yang tenang. Begitupun sebaliknya.

Intinya, temukan lingkungan yang mendukungmu untuk hanya berpacaran dengan fokus.

Gangguan dan ketidaksadaran diri akan lingkungan yang dibutuhkan adalah faktor utama kenapa kita tidak bisa fokus dalam bekerja.

 

5. FEEDBACK

Kita sampai pada komponen terakhir, yaitu feedback atau umpan balik. Feedback ini sangat vital dalam melakukan kegiatan produktif karena dia bisa memengaruhi bagaimana kita selanjutnya.

Feedback dibagi menjadi dua:

  1. Internal feedback, ini adalah umpan balik dari dalam diri sendiri yang berupa perasaan yang di dapat setelah mengerjakan sesuatu.
  2. External feedback, ini adalah umpan balik dari luar yang dihasilkan dari mengerjakan sesuatu. Dia juga bisa bersifat negatif (cacian, ejekkan, hasil yang buruk) dan positif (pujian dari orang lain, hasil yang baik). External feedback ini sangat memengaruhi internal feedback. Jika dia negatif maka internal feedback yang di dapat juga negatif, vice versa.

Feedback ini juga bisa disebut sebagai indikator baik buruknya hasil kita. Dan yang perlu diperhatikan bukan apa yang di dapat, tetapi lebih kepada bagaimana kita mengolah apa yang kita dapat.

Jika kita mendapatkan feedback positif, maka jangan jadikan itu sebagai alat pemuas, tapi jadikan itu sebagai bahan bakar baru untuk melakukan hal yang sama dengan lebih baik lagi.

Jika kita mendapat feedback negatif, maka jangan jadikan itu sebagai alasan untuk berhenti, tapi jadikan itu sebagai bahan refleksi, bagian mana yang harus diperbaiki.

Jujurlah kepada diri terhadap feedback negatif yang di dapat. Karena ketika kita buta akan hal itu, titik perbaikan tidak akan pernah kita temui.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.