5 Second Rule : Katakan Selamat Tinggal Kepada Penundaan

5 Second Rule : Katakan Selamat Tinggal Untuk Penundaan

Berniat ingin mencari tugas tetapi kalian menunda dan berhenti disini?

Aku ucapkan selamat datang! Setidaknya, penundaan kali ini akan sedikit berbeda.

Penundaan kali ini, kalian akan mendapatkan sesuatu yang bisa membuat kalian tidak akan menunda pekerjaan lagi.

Memang sudah menjadi kebiasaan kita untuk menunda sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan. Kita mungkin belum bisa memprioritaskan tugas sehingga berakhir dengan stalking idola di instagram.

Masalah yang lebih besar sebenarnya bukanlah menunda pekerjaan, lebih dari itu adalah ketidaksadaran kita saat di mode menunda.

Kita beranggapan bahwa apa yang kita lakukan adalah hal yang kita butuhkan, apa yang kita lakukan adalah hal yang dibenarkan, dan apa yang kita lakukan adalah hal yang bisa membawa kita kepada kebahagiaan yang ingin kita cari.

Tetapi saat kita sadar, kita telah kehilangan banyak waktu, dan berakhir dengan penyesalan. Lagi-lagi kita lupa betapa terbatasnya waktu yang kita punya.

Berbahagialah, karena dengan aturan ini kita akan bisa mengucapkan selamat tinggal kepada penundaan.

Bahkan aturan ini juga bisa dibuktikan dengan ilmu sains.

Aturan itu bernama ” 5 Second Rule “. 

Procrastination is like a credit card. It’s lot of fun until you get the bill.

— Christopher Parker

• • •

PENUNDAAN DARI SUDUT PANDANG BERBEDA

Sebelum kita membahas tentang penundaan dari sudut pandang yang berbeda, mari kita cari tahu siapa orang dibalik 5 second rule.

Dia adalah Mel Robbins, komentator CNN Amerika, pembawa acara televisi, penulis, dan seorang motivator.

5 Second Rule : Katakan Selamat Tinggal Kepada Penundaan

Mel Robbins menjelaskan 5 Second Rule di buku yang ditulisnya dengan judul, “The 5 Second Rule”.

Lalu apa arti penundaan menurut Mel Robbins?

Dikutip dari penjelasnya, Mel Robbins mengatakan bahwa kita hanya tahu menunda itu apa, tetapi tidak mengerti menunda itu apa.

Menurutnya, penundaan tidak ada hubunganya dengan pekerjaan. Karena penundaan adalah penghilang rasa stres.

Dengan kata lain, penundaan adalah alat yang bisa memberi kita rasa lega dari stres yang kita rasakan. Stres karena uang, kesehatan, hubungan, atau pekerjaan.

Itulah kenapa kita selalu berakhir ke dunia maya saat stres menyerang. Tidak usah heran, karena memang dunia maya yang menyajikan berbagai kebahagiaan yang bisa didapat dalam waktu yang sangat singkat.

Dan karena pelarian itu, kita akan merasa tenang, santai, dan nikmat. Tetapi ingat, itu hanya sesaat!

Jadi penundaan tidak ada hubungannya dengan pekerjaan, atau rasa malas. Itu semua karena rasa stres.

Seperti istilah Layman…

When you associate more PAIN with taking action than you do with procrastinating, you are GOING to procrastinate.

Jadi kenapa kita menunda pekerjaan?

Karena kita merasa stres atau  kalau mau dibuat kedalam rusmus menjadi…

Kesenangan yang didapat ketika menunda > Rasa sakit yang didapat ketika take action = Penundaan.

Your life comes down to your decisions. If you change your decisions, you’ll change your life.

— Mel Robbins

• • •

KENAPA 5 SECOND RULE BEKERJA

Menurut Robbins, aturan ini sangat sederhana, mudah dan lugas untuk dilakukan.

Sekarang, mari kita bermain dengan imajinasi kita.

Katakanlah kalian adalah seorang yang memiliki jiwa petulang yang tinggi. Kalian memutuskan untuk mendaki sebuah gunung bersama teman-teman kalian.

Semua tampak sangat menyenangkan, sampai ada sesuatu yang menuntut kalian untuk mengambil keputusan secara cepat dan tepat.

Teman anda tiba-tiba tergelincir dari sebuah medan yang curam. Dia terluka dan tidak bisa melanjutkan perjalanan. Pertanyaannya adalah, apa yang akan kalian lakukan?

Tidak usah berbasa-basi, kalian dengan cepat akan segera menghentikan perjalanan dan memilih untuk membantu teman anda yang sedang terluka.

Kalian bahkan tidak berpikir dua kali atau terbesit dalam pemikiran kalian untuk menunda.

Kenapa itu terjadi?

Cara kita dalam mengambil keputusan sangat dipengaruhi oleh bagaimana otak kita bekerja.

Antonio Damasio, seorang ahli syaraf yang melakukan penelitian tentang bagaimana cara kita membuat keputusan, mengklaim bahwa pengambilan keputusan secara emosional sama pentingnya dengan mengambil  keputusan secara rasional dan analitis.

Jika bagian otak kita yang didedikasikan untuk reaksi cepat (korteks prefrontal) rusak, kita tidak akan bisa membuat keputusan meskipun membuat keputusan yang paling sederhana.

Lalu sebenarnya apa yang terjadi kepada korteks prefrontal ketika kita merasa stres?

Korteks Prefrontal akan berhenti bekerja! yang artinya, kita akan menunda (lagi).

Maka, cara agar kita tidak menunda dan selalu bisa bereaksi secara cepat adalah dengan mengaktifkan bagian korteks prefrontal.

Coba kalian ingat-ingat lagi, pernah nggak sih kita merasa kebingungan, khawatir atau gugup karena waktu untuk mengerjakan tugas akan segera berakhir?

Apa yang akan terjadi?

Korteks prefrontal kita akan aktif, dan kita akan berusaha mengerjakannya, meskipun waktu yang tersisa tinggal sedikit.

Itutlah kenapa kita bisa mengaktifkan prefrontal dengan menggunakan 5 second rule. Aturan ini memberikan rasa urgent kepada otak, dan menggerakkan kita untuk segera mengambil tindakan berdasarkan emosi, bukan pikiran rasional.

• • •

CARA MENERAPKAN 5 SECOND RULE

Setelah kita tahu bagaimana cara mengaktifkan korteks prefrontal, sekarang kita cari tahu bagaimana cara  menerapkan 5 second rule ini.

Langkah yang harus kita lalui untuk mengaktifkan korteks prefrontal hanyalah 2 tahap saja.

STEP 1 : SADARILAH SAAT KITA BERADA DI MODE STRES

Hal pertama yang kita harus lakukan adalah dengan mengakui dan menyadari bahwa kita memang dalam keadaan stres. Gunakan rasa stres ini bukan untuk menunda, tetapi sebagai jembatan untuk mengaktifkan korteks prefrontal kita.

STEP 2 : HITUNG MUNDUR! 5…4…3…2…1 !

Robbins menyebut ini sebagai keputusan keberanian. Keputusan untuk menghitung mundur ini bisa dibilang bertentangan dengan rasa stres yang kita rasakan.

5…4…3…2…1, korteks prefrontal akan aktif, mode keberanian akan hidup, dan kalian akan mengerjakan sesuatu tanpa harus mengetahui data dan analisis.

5 Second Rule : Katakan Selamat Tinggal Kepada Penundaan

Mode ini sama seperti ketika kalian melihat orang yang tenggelam, secara cepat kalian akan menolongnya tanpa ingin tahu seberapa dalam air itu, seberapa besar bahaya yang akan kalian dapatkan. Itu semua karena korteks prefrontal aktif.

Dengan kata lain, daripada mencoba merasionalisasi stres, kita akan berpikir ” Bagaimana aku bisa mengatasinya? “

Hadapilah stres dengan aturan 5 detik.

Jika kalian ingin mulia mengerjakan revisi, 5..4…3…2…1, mulai!

Jika kalian ingin belajar bahasa asing, 5..4…3…2…1, mulai!

Jika kalian ingin mulai berolahraga,  5..4…3…2…1, mulai!

Setelah mulai, jangan berpikir tentang berapa jam kalian akan melakukannya. Cukup lakukan pekerjaan itu selama 5 menit dan kalian akan berakhir dengan mengerjakan tugas secara keseluruhan.

Lagi-lagi kalian menyangkal, bahwa ucapan tidak segampang melakukannya. Semua terdengar sederhana. Yang jelas kita memang butuh waktu untuk membangun kebiasaan yang baru.

Kunci untuk membuang penundaan adalah mengaktifkan dan kemudian melakukan, bukan mengaktifkan dan kemudian berpikir tentang melakukan.

Yang harus kita sadari adalah, hanya dengan 5 detik saja, kita bisa membuat keputusan  dan bertindak untuk mengubah hidup kita. Putuskan dan bertindak.

Sekarang, hitunglah mundur!

5…4…3…2…1 !

Tutup browser ini, dan lakukan tugas yang sudah kalian tunda.

The time is now, stop hitting the snooze button on your life!

— Mel Robbins