Pada tahun 1947, beberapa manajer personalia diminta mengikuti sebuah tes kepribadian oleh seorang psikolog bernama Ross Stagner. Setelah tes tersebut selesai, tanpa sepengetahuan peserta, Stagner memberikan hasil yang sebenarnya bukan berdasarkan jawaban tes mereka, tetapi berdasarkan horoskop.

Menariknya, ketika ditanya tentang keakuratan hasil tes tersebut, lebih dari setengah mengatakan bahwa tingkat keakuratan hasil sangat baik, dan hampir tidak ada yang salah.

Satu tahun kemudian, percobaan serupa dilakukan. Kali ini, psikolog bernama Bertram R. Forer memberikan tes yang dia sebut sebagai “Diagnostic Interest Blank” kepada 39 mahasiswa psikologi. Seperti apa yang dilakukan Stagner, para peserta hanya tahu bahwa mereka akan menerima hasil yang menggambarkan kepribadian mereka berdasarkan tes yang diikuti.

Satu minggu kemudian, Forer memberi setiap siswa hasil tes mereka dan meminta untuk menilai keakuratannya. Dari skala 0 (sangat buruk) hingga 5 (sangat baik), rata-rata nilai keakuratan yang diberikan peserta mencapai 4,3. Setelah diberitahu, para peserta baru sadar bahwa hasil yang diberikan sama sekali tidak bersifat personal—karena setiap orang mendapatkan hasil yang sama. Bahkan itu diambil dari buku astrologi yang Forer beli di kios koran.

Apa yang dialami manajer personalia, dan mahasiswa tidak ada bedanya dengan kita di masa lalu atau bahkan sekarang yang mengesahkan ramalan zodiak. Kita terjebak the forer effectfenomena ketika kita percaya bahwa deskripsi kepribadian sangat mencerminkan siapa kita, meskipun pada kenyataannya deskripsi tersebut berisi informasi yang cukup umum untuk berlaku pada kebanyakan orang.

Dalam tes yang dilakukan Forer, misalnya, setiap peserta menerima deskripsi yang sama.

Kamu sangat membutuhkan orang lain untuk menyukai dan mengagumimu.

Kamu memiliki kecenderungan untuk mengkritik diri sendiri.

Kamu memiliki banyak kecakapan tidak terpakai yang belum kamu manfaatkan.

Meskipun kamu memiliki beberapa kelemahan kepribadian, kamu secara umum dapat mengimbanginya.

Penyesuaian seksualmu menimbulkan masalah bagimu.

Disiplin dan terkendali di luar, cenderung khawatir dan tidak aman di dalam.

Kadang-kadang kamu sangat ragu apakah kamu telah membuat keputusan yang benar atau melakukan hal yang benar.

Kamu lebih suka sejumlah perubahan dan variasi dan menjadi tidak puas ketika dikelilingi oleh larangan dan batasan.

Kamu bangga dengan diri sendiri sebagai pemikir independen dan tidak menerima pernyataan orang lain tanpa bukti yang memuaskan.

Kamu merasa tidak bijaksana untuk terlalu jujur ​​mengungkapkan dirimu kepada orang lain.

Terkadang kamu ekstrover, ramah, mudah bergaul, sementara di lain waktu kamu introver, waspada, pendiam.

Beberapa aspirasimu cenderung tidak realistis.

Keamanan adalah salah satu tujuan utamamu dalam hidup.

Tanpa memberi tanda astrologi ikan, kalajengking, atau kambing jantan, kamu pasti membenarkan beberapa pernyataan di atas karena adanya relevansi dengan siapa dirimu sekarang. Positivity bias atau juga dikenal sebagai pollyanna principle menjadi alasannya. Bias itu menyatakan bahwa kita memang cenderung mengingat daftar hal yang positif dengan lebih akurat daripada yang tidak.

Beberapa orang menganggap bahwa energi, uang, atau emosi yang diinvestasikan untuk mengiyakan ramalan zodiak bisa memberikan mereka panduan kepada sesuatu yang tepat. Kenyataannya, mereka sedang berada di sisi gelap forer effect.

Ketika kita terlalu cinta pada jawaban yang bisa memberi kepastian, terlepas dari apakah itu layak untuk diketahui atau tidak, kepercayaan kita akan mengakar semakin kuat dan berkembang semakin besar. Ini kemudian mengarahkan diri kita untuk mengikuti instruksi yang ada. Masalahnya, dalam forer effect, realitas yang kita bangun dipusatkan pada sesuatu yang tidak bisa dijadikan ukuran pasti.

Misalnya, beberapa orang membatasi dirinya ketika hendak membangun sebuah hubungan, atau bahkan menilai orang lain yang baru ditemui hanya bersandarkan karakteristik zodiak, seperti zodiak A tidak cocok dengan zodiak B, atau penilaian bahwa zodiak D memiliki sifat romantis, setia, dan pendiam, sedangkan zodiak Y memiliki sifat keras kepala, bermuka dua, tetapi baik dalam memimpin.

Dengan kata lain, narasi yang kita buat dibatasi konteks yang sangat sempit, dan jawaban yang ada hanya mewakili kita yang memperlakukan manusia berdasarkan apa kata zodiak, bukan berdasarkan sejarah atau proses mereka menjadi individu.

Tidak berhenti di sana, keterikatan kita pada pesan yang dibawa ramalan zodiak membuat kita lebih mudah mengabaikan umpan balik lain. Saran atau kritik yang menunjukkan jalan lain yang lebih menguntungkan menjadi sesuatu yang mudah diabaikan. Kita buta terhadap hal lain yang sebenarnya tidak dapat dipisahkan karena penjelasan yang ada tidak semenarik penjelasan yang dibawa kambing bertubuh ikan, atau laki-laki yang menumpahkan air.

• • •

Kekuatan Pertanyaan yang Tepat

Pada titik tertentu, kehidupan akan memasangkan kita dengan masalah. Insting bertahan hidup kemudian menyetir kita untuk mencari rumus yang bisa menjamin kepastian untuk merasakan kebahagiaan.

Kita sebenarnya tahu bagaimana sebuah masalah membentuk perasaan kita. Kita juga tahu usaha apa yang harus kita keluarkan untuk mencapai garis akhir. Sayangnya, kita masih tidak memusatkan diri pada solusi yang paling signifikan. Mengapa? Karena kita mudah dikaburkan oleh jawaban yang memberi kejelasan dengan instan—seperti jawaban pada ramalan zodiak—meskipun kemungkinan besar hanya memberikan sedikit arti bagi jalannya kehidupan kita.

Contoh lain yang berlaku universal adalah momen patah hati. Saat seperti itu, kebanyakan orang, termasuk kita, cenderung berfokus pada penenangan diri yang didapat dari motivasi, syair-syair bermakna dalam, atau juga rangkaian kata-kata puitis yang dihubungkan dengan Tuhan. Iya, kita memang mendapatkan obat pereda rasa sakit untuk perasaan kita yang sedang berkecamuk atau juga mendapatkan langkah konkret yang mampu membesarkan “aku” di dalam diri. Namun, apakah itu bisa menjawab penyebab dan solusi untuk tidak mengulangi siklus di masa yang akan datang?

Ini mempertegas sisi lain bahwa kehidupan yang optimal tidak terbentuk dari pertanyaan acak—pertanyaan yang menghasilkan jawaban yang menjauhi konteks paling krusial dan sulit menjadi berarti di kemudian hari—tetapi terbentuk dari pertanyaan tepat—pertanyaan yang mendekatkan kita dengan konteks paling penting, yang mematikan ruang repetisi kesalahan di masa depan.

Dalam definisi lain, kita lebih sering menghabiskan waktu untuk mencari jawaban tanpa menyadari apa permasalahan terpenting yang harus kita pecahkan.

Kita sering mencari jawaban tentang bagaimana cara move on, tetapi hampir tidak pernah mencari jawaban tentang bagaimana cara memperkecil kemungkinan terjadinya masalah di kemudian hari. Padahal, hanya karena kita tahu cara move on paling ampuh, bukan berarti pengalaman tersebut akan meningkatkan kualitas kehidupan di dalam sebuah hubungan selanjutnya.

Jelas, untuk menciptakan jawaban yang mendekatkan diri pada kehidupan yang optimal—menghindarkan gangguan yang mengacaukan arah yang dituju—kita harus membuat pertanyaan yang tepat.

Di dalam pertanyaan yang tepat, ada kekuatan yang memungkinkan kita untuk memahami apa yang terjadi tidak hanya dari satu lensa saja. Cara pandang kita terhadap suatu masalah dan dampak yang diberikan menjadi lebih luas dan jelas di mana jika dikombinasikan dengan tindakan yang sesuai, terciptanya realitas yang sesuai dengan titik target semakin bisa diwujudkan. Secara sederhana, pertanyaan yang tepat akan menunjukkan kita jalan keluar yang sesuai dengan konteks.

Kita tidak memulai pencarian dari bagaimana cara mengobati patah hati, tetapi memulai dari pertanyaan-pertanyaan lebih penting yang sering diabaikan kebanyakan orang—seperti apa hubungan yang baik itu? Mengapa itu sangat penting untuk kehidupanku?

Semakin tepat pertanyaan yang kita ajukan, semakin kita menyadari apa saja hal relevan yang memberikan keuntungan jangka panjang, dan apa yang tidak. Kita tidak akan menjadi seseorang yang percaya zodiak di mana realitas yang tercipta justru membatasi pengalaman mereka dalam melihat bagaimana dunia dan seisinya bekerja.

• • •

Mendapatkan Solusi yang Lebih Presisi

Terpantiknya pikiran untuk memenuhi kebutuhan akan jawaban di saat itu juga sering kali hanya menjawab permasalahan di tingkat permukaan—yang mendorong diri kita ke arah yang kurang efektif.

Jika mengharapkan dunia untuk menunjukkan apa yang harus kita lakukan bukanlah pilihan yang realistis, maka proses pembentukan pertanyaan tepat—yang menghasilkan solusi lebih presisi—bisa kita usahakan.

Tentu saja, kebingungan karena kompleksitas yang dibawa realitas tidak bisa kita hindari. Pencarian jawaban dengan membentuk pertanyaan yang tepat juga menjadi hal yang tidak mudah. Kabar baiknya, kita tidak perlu menjadi seorang yang jenius. Kita hanya diharuskan mengontrol kesadaran secara penuh dalam memerhatikan dan memahami sebuah masalah, lebih waspada, dan tidak terlalu mengikat keyakinan pada solusi yang sudah ada. Pola itu sedikit demi sedikit bisa kita capai mulai dari langkah paling kecil, yaitu memberi diri waktu untuk bertanya.

Tujuannya bukan untuk memperjuangkan kebenaran absolut. Dipandu oleh rasa ingin tahu, kita sebenarnya lebih mengutamakan susunan konteks paling penting dan relevan yang ada di dalam masalah tersebut, yang kemudian mampu mengarahkan kita pada pertanyaan yang tepat sebelum akhirnya memberikan jawaban yang manfaatnya sanggup berlaku dalam rentang waktu yang panjang, bukan jawaban acak yang hanya memenangkan kita di sebagian waktu.

Benang merah yang bisa kita tarik adalah jika kehidupan pernikahan dengan segala fungsinya menjadi salah satu plot yang ingin kita lalui, maka penting bagi kita untuk memulainya dari pertanyaan yang tepat agar ketika ada pukulan kehidupan atau kegagalan di tengah perjalanan, kita mampu bertahan dengan solusi yang dikonfigurasikan sesuai dengan realitas yang berlaku.

PreviousPemikiran Kedua: Jarak Antara Persepsi dan Realitas

Next→ Pemikiran Keempat: Dua Pertanyaan yang Hampir Tidak Pernah Tersentuh (Soon)