Kita punya akal, tetapi tidak selalu kita gunakan. Terutama ketika kita terjebak dalam sunk cost fallacy.

Beberapa waktu lalu, aku akhirnya menghapus lebih dari 30 artikel yang ada di blog ini. Jika kamu pikir itu adalah tugas yang hanya melibatkan mouse dan tombol delete, nampaknya kamu terlalu menggampangkan.

Kalau boleh jujur, itu adalah pekerjaan yang sulit. Ketika aku membaca ulang artikel lamaku, ada dua kesadaran yang membuat pikiran dan hatiku bertengkar.

Pertama, kesadaran atas tulisan yang jelek. Aku melihat masih banyak kesalahan dalam pengetikkan atau tanda baca. Selain itu, beberapa pilihan kata membuatku mengatakan “meh“. Membuat artikel baru juga lebih masuk akal daripada menghabiskan waktu untuk memperbaikinya secara total.

Kedua, kesadaran atas usaha yang sudah aku berikan. Dalam satu artikel, ada satu cangkir kopi, mata yang memerah karena menatap layar, atau juga pantat yang panas karena terlalu lama duduk.

Dua kesadaran itulah yang membuatku sulit merelakan artikel yang sebenarnya bernilai 2/10.

Tetapi, aku tidak sendirian, karena kamu juga mengalami hal yang sama, bukan? Mungkin tidak dalam bentuk tulisan, tetapi dalam hal lain, cinta misalnya. Aku tidak tahu tentang kisah cintamu, tetapi dari beberapa orang yang aku kenal dan berdasarkan pengalamanku sendiri, salah satu kejadian yang dilalui dalam sebuah hubungan adalah ungkapan basi yang nyata adanya—sulit mengakhiri hubungan yang sebenarnya toksik karena sudah terlalu cinta.

  • Ada yang masih bertahan dalam hubungan meskipun pasangannya sangat kasar.
  • Ada yang masih percaya dalam hubungan meskipun pasangannya sering selingkuh.
  • Ada yang masih tinggal dalam hubungan meskipun pasangannya sangat posesif.

Aku bisa menuliskannya lebih panjang lagi, tetapi kita sudah dapat poinnya—merelakan memang satu kata yang sulit untuk diterapkan.

• • •

Apa Itu Sunk Cost Fallacy?

Sunk cost adalah konsep yang dipakai di dunia ekonomi dan bisnis di mana biaya yang dikeluarkan tidak bisa dikembalikan. Dalam penerapannya di kehidupan, sunk cost membuat kita tidak mau menyerah hanya karena kita sudah mengeluarkan biaya yang berupa uang, tenaga, waktu, dan juga emosi di masa lalu.

Kita akhirnya terdorong untuk melanjutkan usaha pada hal yang sebenarnya membuat kita tidak bahagia bahkan lebih buruk.

Sama seperti dalam hubungan yang toksik tadi. Kita sudah tahu bahwa tetap tinggal di dalam hubungan hanya akan membuat kita makan hati, tetapi karena kita merasa sudah menginvestasikan uang untuk kado ulang tahunnya, tenaga untuk mengobrol di tengah malam, waktu untuk menemani si doi, atau emosi untuk kesalahan besarnya, kita sulit merelakannya.

Jadi, pengambilan keputusan untuk tetap bertahan adalah hal yang tidak seharusnya kita lakukan. Yakali menjalin hubungan tetapi kaga bahagia. Lagian, jumlah investasi di masa lalu tidak selalu sejalan dengan apa yang kita inginkan.

Meskipun kita percaya bahwa konsisten melakukan sesuatu adalah hal yang baik, kita juga harus ingat bahwa itu harus diimbangi dengan konteks yang baik juga. Jika konteksnya sudah kacau dan mengubah keadaan adalah hal yang tidak mungkin, menyerah pada rencana yang sudah tidak bisa bekerja adalah keputusan yang lebih baik daripada tetap melanjutkan rencana dengan perasaan yang buruk.

• • •

Alasan Kita Sulit Merelakan

Kita memang memiliki pikiran. Kita juga menyebut diri kita sebagai makhluk rasional. Mungkin, sekarang sudah saatnya kita melepaskan identitas tersebut.

Kita berpikir bahwa kita selalu memutuskan segala sesuatu berdasarkan data atau konsekuensi jangka panjang, tetapi yang terjadi justru sebaliknya. Kita lebih sering memutuskan sesuatu berdasarkan emosi dan investasi yang sudah kita berikan.

Sekarang, mari kita bermain!

Katakanlah aku mempunyai sebuah koin. Jika setelah aku lempar koin itu jatuh dalam keadaan angka di atas, maka kamu akan aku beri uang Rp. 50.000, tetapi jika sebaliknya, kamu harus membayarku Rp. 50.000. Mau?

Kebanyakan orang akan menolak taruhan tersebut karena tidak kehilangan Rp.50.000 lebih menyenangkan daripada mendapatkan Rp. 50.000 yang belum pasti.

Bagaimana kalau karier? Bayangkan kamu sudah bekerja selama 15 tahun di sebuah perusahaan. Baiknya pengabdianmu tidak sejalan dengan baiknya kehidupanmu. Pekerjaanmu tidak memberikan kebahagiaan, tidak memberikan kepuasan dan membuatmu lupa arah.

Jika aku bertanya padamu apakah kamu mampu untuk keluar dari pekerjaan itu, apa yang akan kamu jawab? Aku tidak yakin kamu akan melakukannya karena pertimbangan terbesarmu adalah jumlah investasimu selama 15 tahun.

Dalam psikologi kognitif dan teori keputusan, Daniel Kahneman, seorang pemenang hadiah Nobel 2002 dalam ilmu ekonomi bersama temannya Amos Tversky menamakan fenomena di atas dengan Loss aversion—kecenderungan di mana keinginan untuk menghindari rugi lebih besar daripada keinginan untuk mendapatkan keuntungan. Itu jugalah yang menjelaskan mengapa kita sulit merelakan dan akan lebih memilih melanjutkan keadaan yang tidak bisa membaik.

apa itu sunk cost fallacy

Kita tetap menonton film yang payah daripada pulang yang sebenarnya memberi kesempatan untuk melanjutkan pekerajaan yang tertunda.

Kita tetap mempertahankan hubungan yang toksik daripada mengakhiri kisah yang sebenarnya memberi kesempatan untuk mengenal batasan dan belajar cara mencintai diri.

Semakin lama kita tinggal, semakin sulit kita merelakan. Kita pengambil keputusan yang buruk, bukan?

• • •

Cara Keluar dari Sunk Cost Fallacy

Sunk cost fallacy tidak hanya memperburuk pengambilan keputusan, tetapi juga kehidupan kita. Sayangnya, kita tidak bisa terbebas sepenuhnya dari bias ini bukan karena tidak mampu, tetapi karena itu sudah menjadi hal yang wajar di dalam diri kita.

Ada beberapa cara yang bisa kita gunakan untuk keluar dari bias ini.

1. Be present!

Kesadaran untuk hidup di satu waktu adalah keahlian yang sulit diterapkan di zaman yang penuh gangguan ini. Fokus kita terganggu oleh dunia luar yang bisa berupa teknologi dan juga dunia dalam yang berupa pikiran. Kita terbiasa untuk menikmati masa lalu yang juga merupakan faktor terbesar mengapa kita sulit keluar dari sunk cost fallacy.

Tugas pertama kita adalah hidup di waktu sekarang, melihat realitas di depan mata dan menimbang konsekuensi yang diberikan. Jika realitas itu memberitahu kita bahwa melanjutkan adalah hal yang percuma atau bahkan salah, berhenti adalah prioritas.

Apa pun yang kita pilih akan menentukan kualitas hidup kita. Kita harus memastikan bahwa semua keputusan diambil dengan sadar agar tidak ada ruang untuk mengeluh.

2. Jangan Terlalu Yakin!

Optimis itu perlu, tetapi dalam dosis yang sesuai. Jika tidak, kita akan menemukan penyesalan.

Kita seringkali meyakinkan diri sendiri dengan mengatakan, “Tahan sebentar lagi, pasti akan berbuah manis.” Pertanyaannya, apakah itu berdasarkan fakta? Atau hanya prasangka?

Kejujuran atas pertanyaan itu adalah salah satu bukti bahwa kita memang mengusahakan kebahagiaan diri. Kejujuran memang tidak selamanya menyenangkan, tetapi di sanalah kita akan disajikan sesuatu yang memang bekerja dan sesuai untuk diri kita.

Bagaimana dengan membohongi diri? Mungkin hal itu akan bekerja dalam waktu yang singkat sebelum akhirnya meledak dan membuat diri berantakan.

3. Menerima Masa Lalu

Kesempurnaan itu tidak akan pernah kita capai. Sekeras apa pun kita berusaha, akan ada kalanya kita masuk ke lubang. Di sanalah kemampuan menerima diri sedang diuji.

Dalam sunk cost fallacy, investasi yang sudah kita keluarkan tidak akan pernah bisa kembali lagi. Jika kita memfokuskan diri pada hal yang telah berlalu, kita kemungkinan akan melihatnya sebagai kesalahan yang patut dikeluhkan. Padahal, jika kita mau memusatkan perhatian pada masa depan yang menjanjikan kesempatan perbaikan, kita juga mengubah cara pandang kita terhadap masa lalu—kita melihatnya sebagai kebenaran yang harus diterima.

It’s the truth i’m after, and the truth never harm anyone.

— Marcus Aurelius

Tetapi, kehidupan ini kompleks. Ada hal-hal yang memang memaksa beberapa orang untuk bertahan pada sesuatu yang membuat mereka sulit bahagia. Lihat saja orang di sekitarmu yang masih bertahan dalam perkerjaan dengan lingkungan toksiknya. Mereka melakukannya bukan karena mereka mau, tetapi karena keadaan. Ada mereka yang membutuhkan waktu lebih lama sebelum akhirnya keluar. Ada juga mereka yang terus melanjutkannya di sisa hidup mereka.

Kejelasan berpikir sebelum mengambil keputusan adalah hal yang krusial. Jika kesempatan yang menyelamatkan diri itu datang, jangan pernah berpikir dua kali untuk mengambilnya.

Pada akhirnya, apa pun keputusan seseorang, diri mereka sendirilah yang bertanggung jawab atas pilihan hidupnya.

Terakhir, kita harus selalu ingat bahwa sunk cost fallacy memberikan gambaran jelas bahwa menyerah bisa menjadi pilihan terbaik.