Sunk Cost Fallacy : Membuat Keputusan Lebih Baik

Sunk Cost Fallacy : Membuat Keputusan Lebih Baik

Case 1

Pagi hari, rasanya belum lengkap kalau tidak mengecek handphone, dan mungkin sudah jadi agenda rutin bangun pagi.

Oh ternyata ada beberapa pesan yang masuk selama kalian tidur semalam.

Seketika rasa syukur, dan senyum bahagia terpancar dari seorang manusia yang lagi jatuh cinta. Bukan bersyukur karena masih diberikan umur panjang dan kesempatan untuk bertaubat, tetapi melainkan bersyukur karena pasangannya tidak lupa memberikan perhatian berupa ucapan selamat pagi. So sweet kan?

Beranjak dari tempat tidur, meninggalkan mimpi dan bergerak ke realita. Matahari yang tetap pada porosnya, dan bumi yang berputar mengikutinnya, membuat hari ini begitu panas, malas, bete karena pekerjaan, dan makanan favoritpun menjadi sesuatu yang tak membuatmu berselera.

” Siang sayang, gimana tadi seharian?”, Sssst, notifikasi menepuknya, ternyata sang pacar lagi tanya kabar.

Dengan semangat kalian membalas pesannya, tak jarang juga langsung menelpon, bercerita A sampai kembali ke A lagi, dan menjadikan hari itu semakin tambah panas.

Tapi, bagaikan sebongkah es, pengertian dan kata-kata lembut pacarmu membuat hati dan pikiranmu dingin kembali. Panas mataharipun diterpa kalian, terasa kembali berenergi, dan kembali bahagia karena dia. So sweet kan?

Sampai suatu ketika kalian berdua sadar bahwa telah 4 tahun kalian menjalin cinta. Kamu, si cewek dengan bahagianya meminta kejelasan kepada sang cowok. Dengan harapan dan bayang-bayang masa depan indah yang sebenarnya masih diragukan seperti oasis dihamparan gurun pasir. Kamu memulai menagih janji yang dulu pernah terucap oleh pacarmu.

” Jadi kapan kita menikah? “

Dan seperti biasa, jawaban yang kalian dapat adalah ” Tunggu ya! bla….bla….bla…..”

(Behind The Scene)

Janji yang kalian tagih itu adalah lantaran karena suatu hari kalian menemukan pasanganmu bermain dibelakangmu. Bukan satu kali, dua kali, ini sudah yang ke tiga kalinya dia menampar ketulusanmu. Setelah bertahun-tahun menjaga hubungan yang kalian anggap suci itu, kalian menemukan hari dimana itu semua akan berkahir dalam waktu sekejap.

Tapi sekali lagi, kalian berpikir kalau hubungan yang kalian jalin sudah sampai sejauh ini, keluarga kalian sudah saling kenal, banyak waktu yang sudah dilalui bersama, dan kalian tidak mau kehilangan itu semua.

Yang terjadi? Kalian tetap ingin mempertahankan hubungan kalian, memperbaiki yang ada. Padahal kalian tahu bahwa hubungan ini tidak akan menjadi lebih baik jika diteruskan.

Satu hal yang aku tahu bahwa keromantisan tidak berbanding lurus dengan harapan

———

Case 2

Semalam, aku mengadakan polling di instagramku. Pertanyaannya adalah seperti ini

Sunk Cost Fallacy : Membuat Keputusan Lebih Baik

Kalian juga bisa menjawabnya dalam hati jika kalian tidak ikut dalam polling ini. Sayangnya dari 107 viewers hanya 36 yang memilih. Well, it’s okay, karena mungkin pilihan mereka tidak ada disitu. Dari 36 orang yang memilih, hasilnya adalah seperti ini.

Sunk Cost Fallacy : Membuat Keputusan Lebih Baik

Dari persentase diatas, didapat data bahwa 24 orang memilih untuk tetap menonton filmnya. Dan 9 orang memilih pulang.

Bagian menariknya adalah bukan semua angka itu, bagian terbaiknya adalah mereka sebenarnya tahu bahwa mereka memilih untuk tetap menonton atau bahkan tidur di bioskop karena mereka merasa rugi jika meninggalkan bioskop sebelum selesai. Kok tahu? Karena beberapa dari mereka langsung DM aku 😛

Bagi yang pulang? Good job folks!

———

Case 3

Suatu ketika, aku bertemu dengan seorang karyawan perusahaan di Batam. Setelah berkenalan dan mencairkan suasana, akhirnya mulut ini memanduku ke sebuah pertanyaan.

” Sudah lama pak kerja disini? “

Tak disangka pertanyaan sederhana itu memberiku jawaban yang begitu banyak.

” Saya sudah kerja disini selama 10 tahun, tapi ya gitu lah dek, sebenarnya nggak enak jadi karyawan itu, atau mungkin memang jiwa saya yang bukan seorang karyawan” Jawab bapak tersebut.

” Kalau disuruh memilih, saya sebenarnya ingin buka usaha, tetapi ya gimana lagi, sudah banyak yang saya lalui, bahkan tidak mudah mencapai jabatan yang saya duduki sekarang ini ” imbuhnya

Dan kalimat terakhir itulah yang menghentakkan pikiranku, dan mempunyai sebuah pertanyaan untuk ketiga case diatas.

” Kenapa tidak mengambil jalan lain jika kalian tahu bahwa jika kamu lanjutkan, itu tidak membuat hidupmu menjadi lebih baik? “

———

ADA APA DENGAN KITA?

Selama ini kita tidak menyadari bahwa sebenarnya kita memiliki kekurangan mental. kekurangan mental tersebut dinamakan Sunk Cost Fallacy. Di dalam dunia ekonomi, sunk cost adalah biaya yang sudah dikeluarkan dan tidak bisa diambil lagi.

Dalam case pertama, kita sulit untuk melupakan dan mengakhiri hubungan karena kita sudah menginvestasikan waktu, energi, perasaan dan uang.

Di case kedua, kita akan lebih memilih tetap menonton film meskipun film tersebut tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Kita merasa akan rugi jika meninggalkan bioskop, karena apa? karena kita sudah membeli tiket, sudah jauh-jauh datang, dan kerugian-kerugian lain yang membayangi kita.

Di case ketiga, kita akan lebih memilih untuk bertahan dalam pekerjaan meskipun sebenarnya kita tidak suka, tidak ada passion. Kita merasa bahwa waktu yang sudah berlalu tidak bisa dikembalikan lagi jadi aku akan melanjutkan pekerjaanku ini dan berharap akan menjadi lebih baik lagi.

Fakta kemudian adalah, kita tidak akan pernah mendapatakan kembali sesuatu yang kita investasikan tersebut ( waktu, uang, energy ), dan itu semua tidak akan menjadi lebih baik, jika kita melanjutkannya sekalipun.

Kalian akan hidup tidak bahagia jika melanjutkan hubungan kalian. Kenapa tidak mengakhiri, menjadi lebih baik dan langsung menikah di kesempatan selanjutnya?

Kalian tidak akan mendapatkan film yang bagus, atau tidak akan bisa menikmati filmnya, sekalipun menontonya sampai habis. Kenapa tidak pulang saja, daripada kalian harus membuatnya lebih buruk karena kalian membuang waktu untuk sesuatu yang tidak ingin kalian dapatkan?

Kalian akan menjadikan pekerjaan sebagai beban jika sebenarnya jiwa dan passion kalian memang bukan untuk bekerja di perusahaan. Kenapa tidak mencoba belajar bisnis, dan memulai membuka usaha daripada hidup penuh tekanan, tak termotivasi dan malas-malasan?

———

PENYEBAB SUNK COST FALLACY

Ada dua hal kenapa sunk cost fallacy ini terjadi

  • Sudah terjadi
  • Tidak bisa dirubah

Dua hal tersebut mungkin sedikit bagi kalian, tetapi sangat mempengaruhi bagaimana kita memutuskan sesuatu. Dua hal tersebut menentukan apakah kita akan mengambil keputusan yang bisa membuat keadaan lebih baik atau justru membuat keadaan semakin buruk.

Mitos yang kita percayai adalah ” Kita membuat keputusan rasional berdasarkan nilai ”

Faktanya ” Kita membuat keputusan berdasarkan emosi yang sudah diberikan ”

Kita merasa bahwa apa yang kita lakukan adalah sesuatu yang sudah benar, tetapi kalian sekarang sadar bahwa itu semua karena keadaan kita di sunk cost fallacy.

Kenapa kita bisa terperangkap cost sunk fallacy?

KONSISTEN

Banyak diantara kita yang percaya bahwa konsisten pada keputusan itu adalah sesuatu yang bagus. Iya, itu benar, jika kalian tahu betul apakah keputusan tersebut memang kalian ambil berdasarkan pikiran rasional atau tidak.

Banyak dari kita yang mengambil keputusan karena si A bilang kalau ambil ini maka itu. Jika dulu benar maka sekarang juga pasti benar. Informasi yang tidak bisa ketahui asal-usulnya dan bukan dari data yang valid bisa menyebabkan kita terperangkap pada sunk cost fallacy.

LOSS AVERSION

Mari kita bermain. Aku mempunyai sebuah koin. Aku akan melemparnya. Jika koin itu jatuh dalam keadaan angka diatas maka kalian akan mendapatkan uang 50.000, tetapi jika tidak, kalian harus membayarku 30.000.

Kebanyakan orang akan menolak melakukan taruhan ini, karena mereka berpikir 30.000 lebih berharga daripada mendapatkan 50.000 yang belum jelas dapat atau tidak.

Loss aversion adalah kecenderungan dimana kita menghindari kerugian daripada mendapatkan keuntungan. Menghindari rasa sakit daripada mendaptakan rasa senang. Inilah kenapa kita sering terjebak sunk cost fallacy.

LUPA TUJUAN KITA

Dalam makalah “Mnemonomics: The Sunk Cost Fallacy as A Memory Kludge”, Sandeep Baliga dan Jeffrey Ely, dua orang ahli teori ekonomi mengatakan bahwa manusia memiliki kapasitas yang terbatas untuk mengingat alasan utama atas keputusan yang mereka buat.

Informasi tersebut bisa menjadi terlupakan dalam ingatan kita jika kita tidak berusaha terus untuk mengingatnya. Atau cara terbaik adalah dengan mencatatnya di buku, atau smartphone sebagai pengingat kita.

Inilah kenapa terkadang kita mengambil keputusan yang berbeda dari keputusan pertama. Terutama saat loss aversion terlibat, dan sunk cost fallacy mengikat. Lengkap sudah.

———

KATAKAN SELAMAT TINGGAL PADA SUNK COST FALLACY

Selalu ada cara untuk mencegah kita di keadaan sunk cost bias ini. Karena kita tahu kalau kita terus-terusan dalam keadaan ini, kita akan mengambil keputusan yang buruk yang bisa berakibat buruk pada kehidupan kita.

Kita tidak bisa sepenuhnya menghilangkan bias ini. Kita hanya bisa mencegah atau mengurangi keadaan kita agar tidak terkena sunk cost fallacy

TULIS PROS DAN CONS

Setiap keputusan akan selalalu memiliki pro dan con. Maka dari itu, tulis semua pro dan con yang ditimbulkan ketika akan mengambil keputusan. Cara ini bisa mencegah kita dari sunk cost bias, karena kita akan tahu gambaran apakah banyak pro atau con. Dengan mengetahui jumlah pro dan con, kita kan lebih mudah memutuskan dengan data dan fakta yang valid.

Dengan cara ini kita akan sedikit mengikuti emosi, dan berpikir lebih rasional dalam memutuskan sesuatu.

TINGGALKAN MASA LALU

Sebagai manusia, sangat wajar jika kita terkadang masih terbayang-bayang masa lalu. Tetapi, kita harusnya juga sadar dan tahu bahwa hal itu bisa memberi efek negatif kepada keputusan yang akan kita ambil.

Kita hanya berpikir kepada masa lalu. Kita berpikir bahwa apa yang sudah kita investasikan ( waktu, perasaan, usaha, uang ) begitu besar. Kita lupa akan hari ini dimana efek buruk dari itu semua jauh lebih besar.

Aku tidak menyuruh kalian untuk berangan-angan tentang masa depan yang tidak kita ketahui. Tetapi, aku mengingatkan kalian bahwa ada hal yang lebih baik jika kalian berhenti dari semua hal yang tidak bermanfaat itu, dan mulai melangkah baru. Hari ini!

DO IT!

Semua akan menjadi percuma jika tidak ada tindakan nyata. Jika kalian sadar berada dalam pengaruh sunk cost fallacy, jangan menunda-nunda lagi untuk berhenti. Sekarang!

Ingatlah, semakin kalian menginvestasikan waktu, uang, usaha terus dan terus kepada hal yang tidak bisa diubah, tidak akan membuat keadaan menjadi semakin baik. Putuskan dengan bijak!

Jika kamu tidak disibukkan dengan yang baik, pasti akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia

~ Imam Syafi’i