ringkasan the great mental models

The Great Mental Models: General Thinking Concepts adalah buku yang membahas tentang mental models—penjelasan proses pemikiran seseorang tentang bagaimana sesuatu bekerja di dunia nyata.

Tujuannya jelas: Dengan memiliki mental models yang lebih baik, kita juga akan berpikir lebih baik. Kita akan bisa memutuskan sesuatu lebih objektif dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana dunia ini bekerja.

My Reading Notes

1. The Map is Not the Territory

Peta di sini bisa diartikan kepercayaan yang kita pegang, apa pun itu. Kita bisa mengatakan bahwa itu adalah peta realitas, tetapi kita harus ingat bahwa peta realitas bukanlah realitas yang sesungguhnya. Ini seperti mengatakan deskripsi benda bukanlah benda itu sendiri.

Dalam penggunaannya, kita harus bijaksana dalam keterbatasan yang dimilikinya karena peta adalah pengurangan dari sesuatu yang diwakili, sesuatu yang sebenarnya lebih kompleks.

Peta adalah model yang nilainya terkait dengan kemampuannya untuk memprediksi atau menjelaskan realitas. Untuk menggunakan peta seakurat mungkin, kita harus mempertimbangkan:

  1. Realitas adalah pembaruan yang sebenarnya – jika kenyataan berubah maka peta harus berubah
  2. Pertimbangkan pembuat peta – peta mencerminkan nilai, standar, dan batasan pembuatnya
  3. Peta dapat memengaruhi wilayah yang mereka wakili – kenyataan dapat diubah agar sesuai dengan harapan peta

Kita harus ingat bahwa peta tidaklah sempurna dan akan selalu melibatkan elemen subjektivitas untuk menciptakan momen tertentu dalam suatu waktu.

Ini bukan berarti kita tidak bisa mengandalkan peta yang kita miliki. Kita tetap bisa menggunakannya, tetapi kita tidak boleh membiarkannya mencegah kita utuk menemukan hal baru atau hal yang bisa memperbarui peta sebelumnya.

The map appears to us more real than the land.

D.H. Lawrence

2. Circle of Competence

Dengan memahami pengetahuan yang dalam, kita akan mampu merespon tantangan karena kita memiliki lebih dari satu solusi di setiap masalah.

Lingkaran kompetensi dibangun dari usaha bertahun-tahun dan pembelajaran dari kegagalan. Jadi, jangan terkecoh dengan pengetahuan dasar yang memberi ilusi bahwa diri kita telah menguasai suatu subjek dengan sangat baik. Kita harus bisa jujur kepada diri sendiri di mana saja pengetahuan yang masih kurang.

Ada tiga latihan utama yang harus dibangun dan dipertahankan untuk sukses dalam mengoperasikan lingkaran kompetensi kita:

  1. Keingintahuan dan keinginan untuk belajar – belajar dari pengalaman sendiri dan pengalaman orang lain
  2. Pemantauan – melacak keputusan kita sehingga dapat diukur
  3. Umpan balik – membuat jurnal tentang kinerja kita dan mencari umpan balik dari orang lain untuk mengatasi bias

Ada tiga cara untuk sukses dalam mengoperasikan sesuatu di luar kompetensi kita:

  1. Mempelajari tentang hal dasar dari apa yang kita kerjakan – Informasi dasar yang kita pelajari bisa menuntun kita untuk melangkah lebih jauh, tetapi juga bisa memberi kepercayaan diri dalam bentuk berbeda—kepercayaan diri untuk melanjutkan pembelajaran atau kepercayaan diri untuk menyombongkan kemampuan. Jauhkan diri dari yang kedua!
  2. Berdiskusi dengan seseorang yang sudah ahli dalam kompetensi tersebut – Luangkan waktu untuk bertukar pendapat tentang apa yang kamu butuhkan untuk membuat keputusan yang lebih baik. Tanyakan pertanyaan yang detail dan berbobot agar kita tidak hanya diberi ikan, tetapi juga bisa cara memancing.
  3. Mempelajari mental model dasar – Ini akan membantu kita mengidentifikasi konsep fundamental yang paling berguna dalam kompetensi yang kita pelajari.

Kita akan bertukar peran dalam kehidupan ini. Meskipun kita telah menjadi ahli dalam bidang tertentu, kita akan menjadi orang baru yang memiliki kemampuan terbatas dalam bidang lainnya.

I’m no genius. I’m smart in spots – but I stay around those spots.

Thomas Watson

3. First Principles Thinking

Ini adalah alat untuk membantu mengklarifikasi masalah rumit dengan memisahkan ide atau fakta yang mendasari sebuah asumsi.

Katakanlah kamu ingin memperbaiki keefisienan energi sebuah kulkas. Maka, first principle di sini adalah hukum termodinamika. Dengan kata lain, first principle adalah sebuah batasan yang kita gunakan dalam situasi tertentu.

Jika kita tidak bisa meletakkan sesuatu secara terpisah, mengetes asumsi kita, dan menyusunnya kembali, kita akan berakhir dengan menuruti apa kata orang lain.

Cara untuk membangun first principle:

  • Pertanyaan Sokrates – Proses tanya jawab yang disiplin dengan enam langkah:
    1. Jelaskan pemikiran kita (Mengapa aku memikirkan ini?)
    2. Tantang asumsi (Bagaimana aku tahu ini benar? Bagaimana jika aku memikirkan sebaliknya?
    3. Cari bukti (Apa hal yang mendasari ini? Apa saja sumbernya?)
    4. Pertimbangkan perspektif alternatif (Apa yang orang lain pikirkan?)
    5. Periksa konsekuensi dan implikasinya (Bagaimana jika aku salah? Apa konsekuensinya jika aku….?)
    6. Tanyakan pertanyaan aslinya (Apakah aku benar? Apa kesimpulan yang bisa aku ambil dari proses pemikiran yang aku lakukan?
  • The five whys – Proses tanya jawab pada diri sendiri dengan pertanyaan “mengapa” sampai kita mencapai “apa” atau “bagaimana.” Jika menghasilkan pernyataan fakta yang dapat dibuktikan, maka kita telah mencapai first principle.

Kreativitas adalah bisa menerapkan first principle dan berpikir untuk diri sendiri sehingga segala hal bisa terlihat mungkin.

I don’t know what’s the matter with people: they don’t learn by understanding; they learn by some other way – by rote or something. Their knowledge is so fragile!

Richard Feynman

4. Thought Experiment

Thought experiment bisa didefinisikan sebagai alat berimajinasi untuk menginvestigasi sifat suatu hal.

Thought experiment lebih dari sekedar melamun. Dia memerlukan ketelitian seperti eksperimen tradisional agar berguna. Umumnya, thought experiment memiliki langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Tanyakan sesuatu
  2. Melakukan penelitian latar belakang
  3. Membangun hipotesis
  4. Uji dengan eksperimen (pikiran)
  5. Menganalisis hasil dan menarik kesimpulan
  6. Bandingkan dengan hipotesis dan sesuaikan

Thought experiment memberitahu kita tentang batasan apa yang kita ketahui dan batasan apa yang kita usahakan. Dia menjadi alat untuk meningkatkan kesempatan agar keputusan yang dibuat lebih baik. Kita diharuskan memikirkan kemungkinan lain dengan membayangkan kembali sejarah, dan membuat intuisi non-intuitif.

Semakin kita menggunakannya, semakin baik pemahaman kita tentang penyebab dan efek sebenarnya, serta semakin banyak pengetahuan tentang apa yang bisa dicapai.

Creativity is intelligence having fun.

Anonymous

5. Second-Order Thinking

Tidaklah cukup hanya mempertimbangkan tindakan kita dan konsekuensi langsungnya. Kita juga harus mempertimbangkan dampak selanjutnya dari konsekuensi tersebut.

Second-order thinking sangat penting karena kita hidup di dunia yang kompleks di mana semuanya sangat terhubung dan memiliki konsekuensi yang luas, sehingga memudahkan kita untuk mengambil tindakan yang bisa mempersempit kerugian berdasarkan informasi yang tersedia.

Ada dua area di mana second-order thinking memberikan manfaat besar:

  • Memprioritaskan kepentingan jangka panjang daripada keuntungan langsung – Mencari kejelasan apakah yang kita lakukan sekarang membuahkan hasil yang benar-benar kita inginkan
  • Melakukan argumentasi yang efektif – Mengevaluasi efek yang paling mungkin dan konsekuensinya.

Berbeda dengan first-order thinking yang mudah karena hanya mencari keuntungan secara langsung, second-order thinking lebih rumit tetapi bisa memberikan keuntungan dalam jangka penjang karena selalu menanyakan, “Lalu apa?”

Tetapi, kita harus hati-hati karena second-order thinking memiliki batasan. Menghiraukan batasan akan membuat kita terjebak slippery slope effect—gagasan bahwa jika kita memulai dengan tindakan A, segala hal setelahnya akan menghasilkan konsekuensi B, C, D, E, dan F yang buruk—yang membuat kita tidak melakukan apa pun

Kita harus bisa menyeimbangkan kebutuhan dan membatasi penilaian dalam kemungkinan yang kita buat untuk meminimalisir kekhawatiran tentang konsekuensi dari konsekuensi tindakan kita.

When we try to pick out anything by itselfwe find it hitched to everything else in the Universe.

John Muir

6. Probabilistic Thinking

Probabilistic thinking adalah perkiraan yang dibuat menggunakan beberapa alat matematika dan logika, tentang kemungkinan hasil tertentu yang akan terjadi. Ini adalah salah satu alat terbaik yang kita miliki untuk meningkatkan akurasi keputusan dalam dunia di mana setiap momen ditentukan oleh serangkaian faktor kompleks.

Ada aspek penting dalam probabilistic thinking:

  1. Bayesian Thinking
    Proses melibatkan apa yang sudah kita ketahui saat kita mempelajari sesuatu yang baru. Proses ini mengizinkan kita untuk menggunakan informasi lama yang relevan dalam membuat keputusan.
    Kita harus ingat bahwa informasi lama adalah kemungkinan yang tidak bisa kita simpulkan benar atau salah. Jadi, setiap kita menghadapkan informasi baru dengan informasi lama, kebenaran yang ada pada informasi lama bisa berkurang sebelum akhirnya diganti sepenuhnya.
  2. Asymmetries
    Berikan kemungkinan pada kemungkinan yang kita buat karena sebagian besar kemungkinan menjadi salah karena “terlalu optimis” daripada “kurang optimis”

7. Inversion

Kebanyakan dari kita cenderung berpikir secara satu arah—ke depan—ketika dihadapkan pada suatu masalah. Inversion menawarkan hal lain. Dia adalah alat untuk mendekati situasi secara terbalik.

Inversion membantu kita untuk berpikir ke depan dan ke belakang, serta memungkinkan kita untuk melihat kenyataan dari berbagai sudut. Contohnya, menghindari kebodohan lebih mudah daripada menjadi seorang yang brilian.

Ada dua pendekatan untuk menggunakan inversion:

  1. Mulailah dengan mengasumsikan bahwa apa yang kita coba buktikan adalah benar atau salah, kemudian cari kemungkinan lain yang juga menunjukkan kebenaran.
  2. Daripada langsung membidik tujuan, kita harus berpikir lebih dalam tentang apa yang ingin kita hindari dan kemudian lihat pilihan apa yang tersisa.

Salah satu fondasi teoritis tentang cara berpikir seperti ini berasal dari seorang psikolog bernama Kurt Lewin. Pada tahun 1930, dia mencetuskan ide tentang force field analysis. Inilah penjelasan singkat tentang proses miliknya:

  1. Identifikasi masalahnya
  2. Definisikan tujuan
  3. Identifikasi kekuatan [positif] yang mendukung perubahan menuju tujuan kita
  4. Identifikasi kekuatan [negatif] yang menghambat perubahan menuju tujuan kita
  5. Buatlah strategi solusi (tambahkan kekuatan di langkah 3, hilangkan kekuatan di langkah 4)

Berdasarkan cara tersebut, kita bisa melihat bahwa kebanyakan dari kita berhenti di tahap ketiga ketika ingin memecahkan suatu masalah. Padahal, dengan melengkapi apa saja yang dibutuhkan tujuan, kita lebih mudah untuk memfokuskan diri pada sesuatu yang bisa mempercepat terealisasinya tujuan.

Kita harus bisa memikirkan apa saja hal yang bisa menyelesaikan masalah dan apa saja hal yang bisa memperburuknya, kemudian menghindarinya.

The test of a first-rate intelligence is the ability to hold two opposing ideas in mind at the same time and still retain the ability to function. One should, for example, be able to see that things are hopeless yet be determined to make them otherwise.

F. Scott Fitzgerald

8. Occam’s Razor

Penjelasan yang sederhana—tidak melebihi kebutuhan minimum—mungkin benar daripada yang rumit. Jika dihadapkan pada satu keadaan yang memiliki lebih dari satu penjelasan, hal yang paling baik biasanya adalah penjelasan yang paling sederhana.

Batasan sederhana di sini adalah ketika fungsi kemungkinan bisa bekerja dengan baik pada situasi tersebut. Sebuah penjelasan bisa disederhanakan hanya ketika masih bisa memberikan pemahaman yang akurat.

Dalam keadaan bingung, kita seringkali membuat kemungkinan terburuk yang sebenarnya tidak berkorelasi dengan keadaan sebenarnya. Mengapa kita membuat kemungkinan seperti itu? Karena kita bisa menutupi kekurangan sistematis atau kurangnya pemahaman dengan kemungkinan yang kita ciptakan.

Occam’s razor bisa menjadi alat yang baik untuk menghindari kompleksitas yang tidak perlu dengan mengidentifikasi kemungkinan paling sederhana.

Misalnya, untuk tetap tenang, kamu bisa berpikir bahwa pasanganmu yang telat pulang sedang mengerjakan lemburan dan belum sempat memberi kabar. Itu lebih baik dan lebih sederhana daripada berpikir bahwa dia kecelakaan.

Satu peringatan yang harus diperhatikan: ada beberapa hal yang secara alami memang kompleks dan tidak memiliki solusi sederhana.

Anybody can make the simple complicated. Creativity is making the complicated simple.

Charles Mingus

9. Hanlon’s Razor

Hanlon’s Razor menyatakan bahwa kita seharusnya tidak mengaitkan kebencian jika kondisinya bisa dijelaskan dengan kebodohan. Dengan kata lain, jangan menganggap orang yang menyebabkan kerugian adalah orang jahat ketika kebodohan atau ketidaktahuan lebih mungkin menjadi penyebabnya. Dalam dunia yang kompleks, menggunakan model ini membantu kita menghindari paranoia dan ideologi.

Ketika kejadian buruk terjadi, kita akan lebih mudah menganggap itu disengaja, tetapi kemungkinan tidak. Ini membantu kita untuk mengingat bahwa setiap orang pasti melakukan kesalahan dan jatuh ke dalam perangkap kemalasan, pemikiran buruk, dan insentif buruk.

I need to listen well so that I hear what is not said.

Thuli Madonsela

The great mental models The great mental models The great mental models The great mental models The great mental models The great mental models