Tidak ada lagi mager? Ah, bahkan kata “mager” sendiri menduduki posisi puncak dalam buku “1001 cara menunda pekerjaan dengan profesional”.

Mager juga sudah menjadi sahabat paling nyaman ketika kita dihadapkan pada pekerjaan yang besar, berat dan tampak menakutkan. Bahkan untuk pekerjaan sepele pun, kita masih saja menggunakan kata itu dengan baik.

Otak kita memang dirancang untuk mencegah kita melakukan sesuatu yang “menyakitkan”. Dia lebih suka mencari sesuatu yang instan dan memberi kebahagiaan. Makanya tidak heran, kita lebih suka mengeksplor Instagram daripada mengeksplor halaman buku, kita lebih suka menonton video lucu daripada menonton video yang menambah wawasan, kita lebih suka tidur daripada beraktivitas.

Kegiatan tersebut tidaklah salah, yang salah adalah diri kita yang tidak bisa menempatkannya di waktu yang tepat. Kita masih sering ke mode autopilot untuk hal-hal yang sebenarnya hanya membakar detik dalam hidup. Kita masih sering mengharapkan kebahagiaan jangka pendek—hiburan instan—daripada kebahagiaan jangka panjang—pencapaian yang kita harapkan.

Sadar atau tidak, ada satu bagian otak yang masih sulit kita gunakan secara maksimal setiap hari. Bagian otak itu dinamakan dengan Executive function. Dia memilik kemampuan untuk mengontrol pikiran kita secara sadar, emosi dan aksi. Artinya, dia memiliki peran dalam hidup kita untuk memantau perilaku mana yang memfasilitasi pencapaian tujuan yang dipilih.

• • •

ANAK, WARNA DAN BENTUK

Sabine Doebel menyelesaikan Ph.D. dalam psikologi perkembangan di Institute of Child Development di Minnesota dan melakukan penelitian postdoctoral di Departemen Psikologi dan Neuroscience di University of Colorado, Boulder.

cara mengatasi sifat malas

Di tahun 2019, tepatnya pada saat musim gugur, dia bergabung dengan Departemen Psikologi di Universitas George Mason sebagai Asisten Profesor.

Salah satu penelitian yang dilakukan Sabine dan timnya adalah melakukan permainan yang dinamakan “dimensional change card sort” kepada beberapa anak kecil untuk melihat sebaik apa mereka menggunakan executive function.

Anak-anak tersebut memiliki 2 buah kotak dan kartu bergambar.

mengusir rasa mager

Pada putaran pertama, mereka diminta memasukkan kartu tersebut berdasarkan bentuk sampai mereka terbiasa melakukannya (membentuk kebiasaan).

Pada putaran kedua, mereka diminta untuk melakukan sebaliknya. Mereka harus memasukkan kartu berdasarkan warnanya.

mengusir rasa mager

Hasilnya? Sangat menarik!

Anak-anak tersebut mengalami kesulitan di putaran kedua. Mereka tetap melakukan kebiasaan lama (memasukkan kartu berdasarkan bentuk) meskipun sudah diingatkan berkali-kali tentang apa yang seharusnya mereka lakukan.

• • •

ANAK DAN MARSHMELLO

Ini adalah percobaan lain yang dilakukan Sabine.

Kamu pasti tahu eksperimen ini, bukan? Pada dasarnya eksperimen ini akan memberikan pilihan kepada anak-anak—memilih mendapatkan satu marshmello langsung atau mendapatkan satu marshmello tambahan jika mereka mau menunggu Sabine ke ruangan lainnya sampai dia kembali.

Selain bisa melihat seberapa jauh anak-anak menahan gratifikasi instan, eksperimen ini juga akan menunjukkan kita bagaimana kemampuan mereka dalam menggunakan executive function.

Anak-anak sangat menginginkan marshmello kedua, tetapi pertanyaan yang mereka punya adalah “berapa lama aku harus menunggu?”

Meskipun pada intinya sama, Sabine melakukan sedikit perbedaan pada eksperimen marshmello klasik di atas.

Dia menyuruh anak-anak tersebut mengenakan kaos berwana hijau dan mengatakan “Grup kamu (grup hijau), menunggu untuk mendapatkan 2 marshmello. Dan grup lain (grup oranye), tidak menunggu.”

Sabine kemudian keluar dan melihat mereka dari webcam. Hasilnya?

apa itu mager

Anak-anak yang percaya bahwa mereka ada di grup yang akan mendapatkan 2 marshmello lebih mudah untuk menunggu, padahal mereka tidak pernah melihat orang-orang di grup tersebut.

• • •

PERBEDAAN

Perbedaan yang muncul dari anak-anak pada eksperimen pertama dan kedua adalah;

  • Anak-anak dalam eksperimen pertama belum bisa menggunakan executive function mereka dengan baik.
  • Sedangkan anak-anak dalam eksperimen kedua mampu menggunakan executive function dengan baik.

Namanya juga anak-anak, masih belum paham.”

Hei, baik anak-anak maupun orang dewasa, jika tidak bisa memaksimalkan penggunaan executive function, ya akan lebih mudah untuk keluar jalur—memutuskan sesuatu secara tidak maksimal.

Masih ingat mengapa kita lebih memilih mematikan alarm daripada bangun dan langsung beraktivitas?

Masih ingat hari di mana kita lebih memilih menunda pekerjaan daripada segera menyelesaikannya?

Sekarang tahu kan, kalau kita ini mager karena kurang baiknya kita dalam mengambil keputusan. Kurang baiknya kita mengambil keputusan karena kita belum bisa memaksimalkan penggunaan executive function.

Jadi, bagaimana cara agar kita bisa memaksimalkannya?

• • •

CARA MENIGKATKAN KEMAMPUAN EXECUTIVE FUNCTION

Dalam pengambilan keputusan, kita akan selalu melibatkan motivasi (sesuatu yang mendorong kita melakukan sesuatu), strategi apa yang kita butuhkan untuk mencapai target tersebut, dan tentunya executive function.

Sadarkah kamu apa yang menyebabkan anak-anak pada percobaan kedua bisa menggunakan executive function lebih baik?

Karena mereka menggunakan KONTEKS.

Ya, konteks sangat memengaruhi kita dari bermain hingga belajar, dari mengerjakan A hingga mengerjakan Z, memikirkan perasaan yang sedang terlibat dalam diri kita hingga memikirkan perasaan orang lain. Konteks akan selalu hadir dalam setiap pengambilan keputusan.

Mari kita terapkan!

Katakanlah kamu sedang belajar bahasa Inggris. Agar kamu bisa konsisten dalam belajar, kamu membutuhkan konteks. Konteks dalam hal ini adalah kamu bisa belajar teman yang memiliki kemampuan lebih baik atau bergabung dengan komunitas bahasa Inggris, dll.

Katakanlah kamu memiliki pekerjaan dari kantor. Agar kamu bisa fokus dalam menyelesaikannya, kamu membutuhkan konteks. Konteks dalam hal ini adalah kamu menyingkirkan telepon pintarmu sehingga kamu jauh dari gangguan, kamu mengerjakannya di dalam ruangan yang sepi dan tenang, dll.

Katakanlah kamu ingin berangkat bekerja. Agar kamu tidak merasa malas dan bosan, kamu membutuhkan konteks. Konteks dalam hal ini adalah kamu berangkat dengan jalur yang berbeda jika memungkinkan, kamu mendekorasi meja kerjamu agar mendapat suasana baru, kamu mengingat tujuan mengapa kamu harus bekerja, dll.

Dengan memberikan konteks—lingkungan, waktu, suasana, tujuan, peralatan, aturan—yang sejalan dengan apa yang ingin kamu capai, kamu pasti akan lebih termotivasi dan pada akhirnya mengatakan “Not mager anymore!

Ingat! ini bukan tentang baik buruknya executive function yang kita miliki, tetapi ini tentang bagaimana konteks bisa membuatnya bekerja lebih baik.

Your life changes the moment you make a new, congruent, and commited decision.

— Tony Robbins


FOOTNOTES

  1. Penjelasan Sabine tentang executive function bisa kamu tonton di How your brain’s executive function works and how to improve it. Di sana kamu juga akan melihat bagaimana reaksi anak kecil yang sedang dalam eksperimen.
  2. Jika ingin membaca lebih lanjut tentang executive function, kamu bisa membacanya di sini.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.