Sebagai seorang pengajar, aku menemukan berbagai macam tantangan saat harus menghadapi para penimba ilmu.

Salah satunya adalah bagaimana cara menyampaikan materi yang tidak monoton, yang bisa menghidupkan suasana, dan yang paling penting adalah bagaimana cara membuat semua peserta tetap fokus pada materi tanpa merasa bosan.

Maka, kreativitas sangat diperlukan.

Cerita ini kembali saat aku mendapat kesempatan mengajar di Lombok.

Selama disana, aku ditemani seorang partner yang aku rasa sangat membantuku tidak hanya dalam penyusunan materi dan teknis, tetapi juga bagaimana cara mengajar yang lebih baik.

Disini aku juga belajar bahwa satu sama lain, apapun profesinya, tidak seharusnya saling sikut untuk menunjukkan “Ini lo, aku yang terbaik”, tetapi lebih bagaimana cara berbagi satu sama lain sehingga bersama-sama bisa mencapai potensi masing-masing secara maksimal.

Saat itu, kita membicarakan materi hari pertama tanpa ditemani makanan sama sekali. Dimana kita harus bisa mengolah emosi satu sama lain, karena kita tahu betul arti dari “Lo resek kalo lagi laper”.

Sebuah ide muncul dari kepalaku.

Ide tersebut ternyata tidak bersambut dengan persetujuannya. Kita bersebrangan pendapat. Kita bertolak belakang. Kita saling memegang ego masing-masing. Kita juga dalam mode yang sama yaitu “Aku lebih tahu daripada kamu dan akulah yang benar”.

Setelah memberikan waktu kepada logika kita masing-masing. Aku kemudian mengalah dengan alasan bahwa…

  • Cara yang dia ajukan adalah cara yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Artinya, aku akan mendapatkan pelajaran baru yang bisa aku terapkan dilain tempat.
  • Cara yang dia ajukan sebenarnya lebih baik dari caraku.

Dan di poin kedualah aku sadar akan sesuatu.

Kenapa aku ( dibaca : kita ) sering menutup mata kepada kemungkinan lain untuk memecahkan suatu masalah?

Kenapa kita seringkali mengambil keputusan terlalu cepat bahwa apa yang kita ketahui adalah hal yang terbaik?

Dan kesimpulan akhirku adalah…

Ternyata apa yang kita ketahui terkadang membuat kita menjadi tidak kreatif.

Ada apa dengan kita?

• • •

MASALAH ADALAH TEMAN

Iya, setiap hari, kita akan menemukan masalah, dari yang sepele hingga yang paling sulit.

Reaksi yang pasti akan muncul adalah “kita akan berpikir”. Berpikir bagaimana cara menyelesaikannya, bahkan kalau bisa secara cepat. Secepat bersembunyi saat ditagih utang.

Seperti gayung yang bersambut, otak kita memang dirancang untuk itu. Menemukan cara yang paling cepat dengan mengeluarkan energi seminimum mungkin. Maka yang dilakukan oleh otak adalah mencari informasi yang ada, dan menggunakannya. Langsung.

cara menjadi kreatif

Akhirnya, kita selalu terpaku pada kalimat “semua persoalan pasti ada solusinya”.

Itu memang benar. Tapi, kita melewatkan beberapa pertanyaan penting, seperti “Apakah solusi yang sudah kita punya adalah solusi yang bagus? Bagaimana jika ada solusi yang jauh lebih baik yang tidak pernah kita pikirkan?.

Yang harus kita garis bawahi adalah bahwa kita tidak memiliki visibilitas terhadap setiap solusi. Kita semua memiliki hal yang tidak diketahui. Yang lebih parah, terkadang apa yang kita ketahui tidak menyelesaikan apapun dengan baik.

Eits, tidak usah menyalahkan diri sendiri, karena otak kita memang memiliki 2 sistem.

• • •

Aku pernah membaca sebuah cerita seperti ini…

CERITA PERTAMA

Suatu ketika, sebuah perusahaan sabun sedang mengalami masalah. Selama proses pengemasan, satu kotak sabun dari ratusan kotak yang melewati jalur perakitan, kosong. Perusahaan kemudian meminta para insinyur untuk memecahkan masalah tersebut.

Para insinyur kemudian mempelajari masalah ini langkah demi langkah dan merancang mesin sinar-X dengan monitor resolusi tinggi yang dijaga oleh dua orang untuk mengawasi semua kotak sabun yang melewati garis.

Jika hasil sinar-X menunjukkan kotak kosong, mereka mengambilnya.

CERITA KEDUA

Sebuah perusahaan kecil juga memiliki masalah yang sama dan seorang karyawan senior diminta untuk menyelesaikannya. Karena dia bukan seorang insinyur, dia memiliki solusi lain untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Dia membeli kipas angin industri yang kuat dan mengarahkannya ke jalur perakitan. Saat dia menyalakan kipas angin, kotak kosong akan terdorong keluar dari garis, dan dia bisa langsung memisahkannya.

Setelah mengetahui bagaimana cara seorang insinyur dan non-insinyur bekerja, kita menemukan bahwa sebenarnya mereka terjebak dalam bias kognisi yang disebut dengan Einstellung Effect.

adalah kecenderungan seseorang untuk memecahkan masalah yang diberikan dengan cara tertentu ( pengalaman sebelumnya ketika memecahkan masalah ) meskipun ada metode penyelesaian masalah yang lebih baik atau lebih tepat.

Einstellung berasal dari bahasa Jerman yang berarti pengaturan, pola pikir, atau sikap.

Ketika efek ini terjadi kepada kita, hal itu akan mencegah kita untuk mempertimbangkan solusi-solusi lain yang sebenarnya tersedia dan memiliki hasil yang mungkin jauh lebih optimal.

Hasilnya, kita akan kehilangan kekreativitasan dan inovasi.

Seperti yang aku katakan tadi, bahwa otak berusaha bekerja secara efisien dengan merujuk pada solusi masa lalu tanpa banyak memberikan tenaga terhadap masalah saat ini.

Akhirnya kita menerapkan metode sebelumnya untuk masalah yang tampaknya serupa. Alih-alih mengevaluasi solusi yang sudah ada dengan dengan solusi lain, efek ini kemudian hadir dan membatasi tingkat keterampilan kita.

Oh iya, ada satu berita baik buat kamu, bahwa kita semua pasti mengalaminya.

Always look for simple solutions. Devise the simplest possible solution that solves the problem So, learn to focus on solutions not on problems.

• • •

EKSPERIMEN

Pada tahun 1942, Abraham Luchins melakukan eksperimen yang disebut dengan Luchins water jar experiment.

Partisipan eksperimen diberi masalah berikut :

  1. Mereka diberi 3 toples air, yang masing-masing memiliki kapasitas untuk menampung jumlah air yang berbeda.
  2. Peserta disuruh mencari tahu bagaimana mengukur sejumlah air menggunakan toples tersebut.

Hasilnya ditemukan bahwa subyek menggunakan metode yang telah mereka gunakan sebelumnya untuk menemukan solusi, walaupun ada metode yang lebih cepat dan lebih efisien tersedia.

Eksperimen ini menyoroti bagaimana pengetahuan masa lalu dapat menghambat pemecahan masalah baru.

Hasil percobaan toples air menggambarkan konsep Einstellung. Mayoritas subjek eksperimental mengadopsi keadaan pikiran yang mekanis dan bergantung pada perangkat mental yang dibentuk melalui pengalaman sebelumnya.

Namun, subjek eksperimental akan lebih efisien jika mereka menggunakan metode berbeda untuk memecahkan masalah daripada menerapkan solusi yang sama dari contoh sebelumnya.

Efek ini sangat sering terjadi kepada pemain catur, ilmuwan, guru, dll. Mengingat pengalaman dan pengetahuan mereka yang luas, secara kognitif membuat mereka tidak mampu memikirkan solusi lain di luar wilayah dan keahlian mereka.

Mereka terbiasa dengan pola pemecahan masalah yang sama dan jarang berpikir di luar kotak itu.

Inilah sebabnya mengapa dalam beberapa kasus, orang awam bisa memecahkan suatu masalah lebih cepat daripada para ahli karena mereka tidak terikat oleh keahlian khusus apapun.

In the beginner’s mind, there are many possibilities. But, in the expert’s, there are few.

— Shunryu Suzuki

• • •

KATAKAN SELAMAT TINGGAL

Dengan terjebaknya kita ke dalam efek einstellung, otak kita menghambat kemampuan kita untuk menghasilkan ide-ide baru. Satu-satunya cara untuk menghindari efek itu adalah dengan menghancurkan polanya.

LUPAKAN APA YANG KITA TAHU DAN COBA HAL LAIN

Para genius, yaitu mereka yang memiliki working memory yang besar, dapat memproses lebih banyak informasi pada satu waktu.

Namun ingatan yang bekerja dapat memblokir ingatan lain dari membuat koneksi di korteks prefrontal, yang akibatnya mencegah kita untuk berpikir kreatif. Padahal proses kreatif itu adalah seperti ini :

  1. Kumpulkan informasi sebanyak mungkin.
  2. Mendapatkan ide ( meskipun terkadang tidak bagus ).
  3. Lupakan proyek dan pikirkan atau lakukan hal lain yang memungkinkan terjadi.

Poin ketiga adalah kunci dalam menghasilkan solusi baru dan bisa menghindari efek Einstellung.

Melepaskan pikiran kita dari tugas untuk sementara waktu secara efektif mengaktifkan korteks serebral dan membuat kita keluar dari ingatan yang bekerja untuk mengeksplorasi ide dan koneksi baru.

INTERLEAVING

Interleaving adalah teknik yang digunakan seseorang untuk beralih antara tugas yang sedang berlangsung ke yang lainnya, untuk meningkatkan memori, retensi, dan pembelajaran. Ini memungkinkan topik meresap dalam pikiran kita.

Ini seperti halnya multitasking, dapat mengakibatkan hilangnya produktivitas karena beralih antara proyek dan mode berpikir dapat memakan waktu.

Tetapi manfaat tambahan dari melompat masuk dan keluar dari suatu masalah dapat jauh lebih besar daripada waktu yang dibutuhkan, jika itu mengarah pada solusi yang lebih baik.

Menjadi fleksibel dan membiarkan diri kita menjelajahi jalur yang tidak selalu terlihat menjanjikan sejak awal adalah cara yang bagus untuk memungkinkan pikiran kita menemukan dimensi baru dari suatu masalah.

KOLABORASI

Adalah metode yang bagus untuk keluar dari kebiasaan. Kita bisa meminta banyak orang untuk mengerjakan suatu konsep secara terpisah, kemudian bertemu dan membahas temuan mereka dan mengeksplorasi ide-ide yang tidak bias satu sama lain. Tetapi, pastikan kita dan mereka memiliki waktu yang cukup untuk mengekslorasi, karena solusi yang disajikan terlalu dini adalah salah satu tanda seseorang terjebak efek Einstellung.

Dalam beberapa kasus mungkin menyebabkan kolaborasi tidak sepadan dengan waktu yang dibutuhkan untuk mencapai solusi yang lebih baik.

Yang pasti, kuncinya adalah mengetahui pengorbanan dan kapan harus menjelajah. Masalah yang berulang adalah indikator terbaik bahwa masalah tersebut layak di eksplorasi untuk menemukan solusi yang lebih baik.

• • •

SAATNYA MENJADI KREATIF

Ketika masalah datang, dan solusi telah diambil secara spontan, tahan dan sisihkan waktu untuk memastikan..

  1. Apakah kita puas dengan solusi yang telah diambil?
  2. Apakah dengan melihat solusi yang lain akan memiliki dampak yang lebih baik?

Ya meskipun pada akhirnya kita tidak mungkin mempertimbangkan semua kemungkinan solusi yang ada. Namun, dengan mengenali dan memahami efek Einstellung dan terbuka terhadap pendekatan baru, akan membantu kita dalam mencapai solusi tersebut di luar cara berpikir konvensional kita dan mengarah pada kreativitas dan inovasi.

The best is the enemy of the good.

— Voltaire

 

 


FOOTNOTES

1. Jika kamu ingin membaca hasil eksperimen efek Einstellung secara lengkap, kamu bisa membacanya di Why Good Thoughts Block Better Ones: The Mechanism of the Pernicious Einstellung (set) Effect dan The Mechanisms and Boundary Conditions of the Einstellung Effect in Chess: Evidence from Eye Movements.

2. Pengertian efek Einstellung aku dapatkan di Wikipedia – Einstellung effect dan beberapa solusi aku dapatkan di Einstellung Effect: What You Already Know Can Hurt You.

3. Cerita perusahaan sabun bisa kamu baca di Empty Soap Box – Simplicity Case Study.

Write A Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.