Pertama kali aku mendengar anime Death Note adalah ketika aku masih SMA. Tidak ada ketertarikan. Tidak ada rasa penasaran.

Hingga beberapa waktu yang lalu, aku meluangkan waktu untuk menontonnya. Di luar ekspektasi, aku menemukan sesuatu yang lebih dari sekedar hiburan. Aku menemukan pelajaran yang mengubah cara pandangku terhadap kehidupan, terutama uang.

Jika kamu belum pernah menontonnya, cerita itu bermula ketika seorang anak SMA, Light Yagami, menemukan Death Note—sebuah buku catatan milik Shinigami, dewa kematian, yang bernama Ryuk.

Ada beberapa aturan di dalam Death Note tersebut, tetapi secara garis besar, sang pemilik buku bisa membunuh seseorang hanya dengan menuliskan nama dan membayangkan wajah orang tersebut.

Setelah menguji kebenaran buku tersebut, keinginan Light untuk menciptakan utopia—dunia tanpa kejahatan—ada di depan mata. Dia kemudian menghabisi nyawa para penjahat yang dianggapnya seperti sampah masyarakat.

Tenang, aku tidak akan menceritakan cerita itu sampai akhir. Fokus kita di sini adalah pelajaran yang aku dapatkan di dalam salah satu adegan di mana Ryuk menawarkan sebuah kesepakatan kepada Light. Kesepakatan itu dikenal dengan Shinigami Eye Deal.

Kesepakatan itu menjelaskan bahwa Shinigami akan membagi kekuatannya—mata Shinigami—kepada pemilik Death Note agar dia bisa melihat nama dan sisa hidup orang lain.

Mengapa Light ditawari hal semacam itu? Jika mau mencocokkan alur cerita, mata Shinigami sangat berguna jika sang pemilik Death Note ingin melenyapkan seseorang, tetapi tidak mengetahui namanya.

Sayangnya, hal itu tidak gratis. Sebagai imbalannya, pemilik Death Note harus merelakan setengah dari sisa umurnya kepada Shinigami. Artinya, jika sisa hidup Light 10 tahun, setelah kesepakatan itu dibuat, sisa umurnya menjadi 5 tahun. Hal yang harus dipertimbangkan lainnya adalah jika Light kehilangan kepemilikan Death Note, dia akan kembali menjadi manusia normal, tidak memiliki mata Shinigami, dan memiliki sisa hidup yang lebih sedikit.

Tentu saja, Light tidak menerima tawaran tersebut karena dia sadar bahwa untuk menciptakan utopia, dia harus tetap hidup selama mungkin.

• • •

Shinigami Eye Deal di Dunia Nyata

Shinigami eye deal adalah istilah yang ada di Death Note, sedangkan di dunia nyata, istilah tersebut lebih kita kenal sebagai jual beli.

Andai saja Light menerima tawaran dari Ryuk, maka akan terjadi sebuah transaksi. Ada yang mendapatkan dan ada yang memberikan. Dalam Shinigami eye deal, sisa umur Light dijadikan alat pembayaran, maka di dunia nyata, uanglah yang akan berbicara.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kita hanya kehilangan lembaran kertas atau koin saja ketika sebuah transaksi terjadi? Tentu saja tidak!

Untuk memahaminya, kita bisa memulai dari bagaimana seseorang menghasilkan uang. Kita tahu setiap orang akan memiliki caranya sendiri-sendiri, tetapi pada dasarnya, seseorang memiliki dua cara—melalui pendapatan aktif dan pasif.

Pendapatan aktif adalah pendapatan yang diperoleh dari hasil kerja sehari-hari. Orang tersebut harus beraktivitas untuk menghasilkan uang. Guru, tukang ojek, pengacara, polisi, karyawan, adalah contoh kecil orang-orang yang menghasilkan uang dari pendapatan aktif.

Sebaliknya, pendapatan pasif adalah pendapatan yang diperoleh tanpa bekerja. Investor adalah contoh paling umum.

Kehidupan memang akan lebih mudah jika kita berada di kategori kedua karena uang yang bekerja untuk kita. Menghabiskan waktu dengan mengopi atau membaca buku sewaktu-waktu juga bukan lagi menjadi masalah.

Sayangnya, tidak semua orang berada di kategori kedua. Kebanyakan orang yang kita temui, atau termasuk diri kita sendiri, masih berada di kategori pertama untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Katakanlah kamu mendapat gaji sebesar Rp4.000.000,00 per bulan dengan rincian 40 jam per minggu. Itu berarti dalam per hari kamu menghasilkan Rp200.000,00. Itu berarti di setiap satu jam kamu menghasilkan uang sebanyak Rp25.000,00.

Lihat di sana! Di dalam uang Rp25.000,00 tersebut ada keringatmu, ada pertengkaran yang melibatkan orang lain dan emosimu. Mudahnya, uang itu adalah bentuk lain dari usahamu. Bukan, bukan! Lebih tepatnya, uangmu adalah bentuk lain dari waktu di hidupmu.

Seperti apa yang aku katakan di awal tadi, ketika ada sebuah transaksi, kita tidak hanya kehilangan uang yang kita hasilkan, tetapi juga kehilangan hidup kita. Kita membeli sesuatu dengan waktu di hidup kita.

Kurang seru jika pernyataan di atas tidak kita terapkan dalam kehidupan nyata.

  • Biasa membeli satu cangkir kopi dengan harga Rp25.000,00? Itu senilai 1 jam dalam hidupmu.
  • Suka membeli makanan cepat saji dengan harga Rp125.000,00? itu senilai 5 jam dalam hidupmu.
  • Telepon pintarmu sudah ketinggalan zaman? Tenang, keluarkan saja Rp7.000.000,00 di mana itu senilai 280 jam atau 11,6 hari dalam hidupmu.

Tentu saja angka-angka itu hanya disederhanakan, tetapi masih menarik, bukan? Jika belum puas, kamu bisa menghitung sendiri berapa waktu dalam hidupmu yang sudah berubah menjadi barang atau pengalaman.

• • •

Hiduplah Sesukamu!

Kita sama-sama tahu bahwa uang yang kita hasilkan dalam bekerja hanya berupa kertas, tetapi apa yang ada di dalamnya lebih dari nilai nominal yang tertera. Aku di sini tidak akan menyuruhmu untuk berhemat atau menyuruhmu untuk bijak dalam membelanjakan uangmu karena aku tahu setiap orang memenuhi kebutuhannya secara berbeda.

Kamu bisa menghabiskannya di sebuah mall ketika hari gajian, atau membawanya ke sebuah toko buku, atau juga memberikannya kepada seseorang. Kamu bisa melakukan apa pun dengan uang yang kamu punya dan aku tidak akan ikut campur.

Ketika mengetahui kebenaran di balik uang yang kita hasilkan, aku sendiri lebih bisa mengontrol diri dalam membelanjakan sesuatu. Oh, aku juga mendengarmu yang mengatakan, “kita kan merasakan kepuasan ketika bisa membeli sesuatu dari hasil jerih payah kita sendiri.

Aku setuju dengan hal itu, tetapi jangan lupa, ada beberapa pertanyaan yang harus kita jawab terlebih dahulu untuk mendapatkan kejelasan.

  • Apakah sesuatu yang kita beli memang ditujukan kepada diri sendiri? Atau sebenarnya ditujukan orang lain? Banyak kok orang-orang yang membeli sesuatu hanya karena takut dicap “nggak gaul,” atau “ketinggalan zaman” atau hanya karena gengsi.
  • Apakah sesuatu yang kita beli memang masuk ke dalam prioritas kita? Jika tidak, bukankah itu menjelaskan bahwa kita hanya ingin memuaskan ego sendiri tanpa memikirkan konsekuensi jangka panjang?

Ketika kita tidak mendapat jawaban atas pertanyaan itu, kita akan tahu bahwa hidup ini terkadang memang lucu. Kita bekerja (baca: memangkas sisa hidup kita) untuk mengesankan orang lain dan secara sadar mengabaikan akibat jangka panjang.

Setiap orang memiliki gaya hidupnya masing-masing. Apa yang kita lihat menarik atau membahagiakan dari kehidupan orang lain, belum tentu berlaku di kehidupan kita. Sebenarnya, alasan utama seseorang tidak mampu “membuktikan” dirinya kepada orang lain atau juga tidak bisa mengikuti gaya hidup orang lain adalah bukan karena mereka tidak memiliki uang, tetapi karena mereka tidak menghargai kemampuan—paham dengan batasan diri —  mereka sendiri.

Kamu pernah melihat orang yang membeli barang tidak bermerek, tetapi sangat bangga dan bahagia sekali ketika memakainya? Apa yang dilakukan orang tersebut tidak menggambarkan bahwa orang itu rendah atau seleranya murahan, tetapi karena memang hal itulah yang mereka hargai. Mereka menghargai kemampuan diri mereka sendiri dan barang yang dibelinya—barang-barang yang memberi kepuasan pada diri mereka.

Ini semua tentang apa yang berharga dalam hidup seseorang dan apa yang tidak, jadi tidak ada hubungannya dengan merek atau nilai nominal yang melekat pada hal itu.

Terakhir, aku ingin mengakhiri ini dengan sebuah kebenaran menarik.

Ketika uang yang kita hasilkan, kita tukarkan dengan sesuatu, poof! Waktu hidup kita dalam uang tersebut berubah menjadi “apa” yang kita dapatkan. Dan, semua yang kita dapatkan—barang, jasa atau pengalaman—pada akhirnya juga akan: poof! Mereka semua akan menjadi kenangan.

Kenangan seperti apa yang kita buat dan dampak seperti apa yang kita dapatkan adalah hal yang hanya bisa dijawab oleh diri sendiri.