Kapan Waktu Yang Tepat Untuk Menyerah?

Kapan Kita Harus Menyerah?

Artikel ini adalah artikel lanjutan dari Jangan Pernah Menyerah : Nasihat Baik Yang Masih Disalah Artikan. Jika kamu belum membacanya, ada baiknya kamu memulai dari sana. Artikel yang aku buat kali ini mengambil inti dari buku karya Seth Godin, The Dip.

Selamat Membaca!

Menyerah?

Kata yang sering kita dengar dan juga kata yang kita percaya untuk tidak diimbangi dengan tindakan.

Tetapi faktanya, dalam melakukan apapun, kita akan selalu menemukan titik dimana kita ingin menyerah. Rintangan atau tantangan yang tidak bisa kita taklukkan adalah penyebab utama dari semua itu.

Apakah memang kita yang lemah? Atau ada faktor lain yang membuat kita merasa bahwa mengakhirinya adalah pilihan yang bijak?

Jangan khawatir, menyerah adalah hal yang wajar, dan pasti akan dialami oleh setiap manusia yang ingin mendapatkan atau mencapai sesuatu.

Pernah mendengar nasihat ini…

” Orang yang berhenti tidak akan pernah menang, dan pemenang tidak akan pernah berhenti. ”

Itu adalah nasihat yang buruk.

Karena faktanya banyak pemenang yang berhenti ditengah jalan, dan mendapatkan hal yang lebih besar. Itu semua bukan hanya semata-mata menyerah begitu saja. Itu semua karena mereka menyerah pada hal yang tepat dan pada waktu yang tepat. Baca sekali lagi kalimat terakhir itu.

Yang menyebabkan kita kalah dalam sebuah “permainan” adalah, kita sering kali berhenti pada hal dan waktu yang tidak tepat.

Jika kita tahu kapan waktu terbaik untuk menyerah, menjadi pemenang bukanlah hal yang cuma diimpikan.

Bagaimana jika untuk menjadi nomor satu, kita diharuskan menyerah? Tidak, tidak, bukan hanya sekedar nomor satu, tetapi nomor satu di dunia. Di dunia!

Quit the wrong stuff. Stick with the right stuff. Have the guts to do one or the other.

Note: Hai, sebelum melanjutkan membaca, kamu bisa mendownload e-book tentang Minimalisme dan Hidupku Kebiasaanku ( Panduan Membangun dan Membuang Kebiasaan ).  Klik disini untuk mendownloadnya secara gratis!

• • •

MENJADI NOMOR SATU DI DUNIA?

Sebelum kita membahas tentang menjadi nomor satu di dunia, mari kita bahas terlebih dahulu pentingnya menjadi nomor satu.

Jika kamu sakit mata, kemanakah kamu akan berobat? Kamu pasti akan pergi ke dokter dengan kapabilitas terbaik dalam membantumu.

Jika kamu ingin membangun bisnis, kemanakah kamu akan belajar? Kamu pasti akan belajar dari orang terhebat yang sudah berkecimpung dan melanglang buana di dunia bisnis.

Jika kamu tersesat di tengah perjalanan, kemana kamu akan bertanya? Kamu akan bertanya kepada orang yang tahu betul dengan daerah tersebut.

Satu kata yang bisa kita ambil dari contoh diatas adalah, kita akan mencari jalan terbaik dan tercepat untuk memecahkan sebuah masalah. Itu semua karena kita memiliki waktu yang terbatas.

Maka itulah alasan pertama kenapa kita harus menjadi nomor satu. Kita akan dicari karena kita adalah yang terbaik. Dengan demikian kita juga akan semakin banyak membantu orang.

Masalah!

Ha? Masalah apa?

Masalah yang kemudian muncul adalah, kita hanya memiliki ruang yang kecil untuk bisa menjadi nomor satu. Hanya orang-orang yang bisa menaklukkan segala hal yang akan menduduki tempat tersebut.

Dan orang-orang itu adalah orang-orang yang menganggap bahwa pengorbanan adalah hal yang sebanding untuk berdiri di puncak.

• • •

Apakah Seth Godin tidak salah untuk menyuruh kita menjadi nomor satu, di dunia?

Seth Godin tidaklah salah. Kenapa?

Terbaik disini maksudnya adalah terbaik untuk mereka ( Orang yang membutuhkan kita ), pada saat mereka butuhkan, berdasarkan apa yang mereka percaya.

Sedangkan nomor satu di dunia adalah di dunia mereka, dunia yang mereka ingin lalui.

Contoh sederhananya adalah, ketika aku ingin merakit sebuah komputer, aku ingin seseorang yang terbaik di kotaku, dia bersedia, dan bisa mengerjakan segala sesuatu yang aku perlukan dengan harga yang aku mampu. Itu adalah dunia terbaikku.

Jadi “dunia” disini sangatlah fleksibel. “Terbaik” disini sangatlah subjektif.

Kita sebagai orang yang membutuhkan orang lain ( baca : kita adalah konsumen ) akan mempunyai dunia sendiri. Dunia dalam definisi kita sendiri, dunia yang hanya menyuguhkan kenyamanan untuk kita sendiri, dan pilihan kita sendiri.

Menjadi yang terbaik di dunia bukanlah isapan jempol belaka!

Maka, jadilah nomor satu di dunia!

• • •

Dunia yang semakin maju membuat kita bisa menemukan apapun dimana-mana. Dengan banyaknya pilihan, ternyata tidak sebanding dengan kebahagiaan yang kita inginkan. Itu semua karena kita akan terjebak dalam Paradox of Choice.

Tetapi, dalam waktu yang sama, hal yang banyak tersebut justru akan membuat persaingan menjadi semakin sempit dan lebih detail ( spesifik ).

Contohnya, memang banyak toko baju, tetapi untuk membeli baju bola, aku hanya perlu pergi ke toko olahraga, Bahkan akan ada toko yang menjualnya secara online. Tanpa ribet, dan berlangsung dengan sangat efisien.

Maka untuk menjadi yang terbaik di dunia, kita harus bisa memilih sesuatu yang tepat, dan mengerjakannya dengan sebaik mungkin.

• • •

KAPAN KITA HARUS MENYERAH?

Oke, setelah mengetahui pentingnya menjadi nomor satu di dunia, sekarang kita masalah inti dari persoalan ini.

Kapan kita harus menyerah?

Apakah langsung ketika kita menemukan kesulitan? Ataukah harus menunggu terlebih dahulu? Tapi berapa lama?

Tenang!, dalam berhenti, kita juga harus memiliki strategi.

Tetapi, sebelum kita membahas strategi apa yang kita harus lakukan, mari kita pelajari lebih dalam lagi, fase apa yang tepat untuk membuat kita mengambil keputusan….

” Aku menyerah. Aku berhenti ”

• • •

Tanpa kita sadari, ternyata kita akan selalu melalui fase penentu apakah kita harus memberikan tenaga ekstra untuk menjadi yang terbaik, ataukah malah harus menyerah.

Fase tersebut disebut Seth Godin sebagai Curve. 

Dan dengan memahami curve ini kita akan bisa memutuskan kapan kita harus lanjut ketika menemukan masalah, dan kapan kita harus berhenti. Total. Dan mencari haluan lain.

• • •

CURVE 1 : THE DIP

The Dip is what separate the best in the world from everyone else. When you decide to try something new it’s exciting. You get instant feedback which makes you feel good. As you continue learning, there is a shift. The activity starts becoming difficult. This is what Seth Godin calls The Dip.

The Dip adalah keadaan dimana ketika kita memulai melakukan sesuatu semua akan terasa mudah dan menyenangkan. Tetapi di tengah perjalanan tersebut, tiba-tiba kita menemukan kesulitan yang menghadang kita.

bolehkah kita menyerah?

Ketika kamu ingin menjadi master matematika, pada awalnya kamu akan menemukan rumus dan soal yang mudah yang membuatmu tetap semangat dalam mempelajarinya.

Dan kemudian hal itu tidak terjadi lagi karena The Dip datang.

Ketika kita menemukan The Dip bersyukurlah, karena The Dip adalah sebuah indikator apakah kita akan tetap menjadi orang yang memiliki kemampuan rata-rata  dengan tetap berada pada The Dip, ataukah menjadi seorang master yang berhasil keluar dari The Dip dan melanjutkan perjalanan.

The Dip mengartikan bahwa akan ada pengorbanan yang kita harus lakukan. Pengorbanan itu bisa berupa waktu, tenaga, emosi, atau uang.

Yang pasti, orang-orang yang berhasil tidak hanya bisa keluar dari The Dip, tetapi mereka bisa bertahan di puncak.

• • •

CURVE 2 : THE CUL-DE-SAC (DEAD END)

Adalah fase dimana kita bekerja, bekerja, dan bekerja tetapi tidak ada yang berubah. Semua tetap sama. Tidak menjadi baik, dan tidak menjadi buruk.

jangan pernah menyerah

Di fase inilah kita sering kali kesulitan dalam mengambil keputusan.

Kenapa?

Karena kita tidak ingin mengakui bahwa apa yang kita lakukan sebenarnya tidak bisa menjadi lebih baik lagi berapapun usaha, waktu dan tenaga yang kita keluarkan.

Salah satu cara terbaik agar kita keluar dari fase ini adalah, akuilah!

Dengan mengakui bahwa apa yang sedang kita kerjakan tidak bergerak kearah yang lebih baik, kita harus berhenti. Dengan cepat.

Tapi haruskah kita berhenti jika di fase ini?

Jawabannya bisa iya, bisa tidak.

Tidak, jika kamu tetap menjunjung tinggi arti kata “standart”, “rata-rata”, dan “zona nyaman”.

Iya, jika kamu ingin memiliki keadaan yang lebih baik, dan menjadi yang terbaik.

Karena, untuk apa kita lanjutkan jika kita melakukan sesuatu yang tidak memberikan timbal balik yang positif? Kita tidak akan pernah kemana-mana pada saat di fase ini. Ingat!

• • •

CURVE 3 : THE CLIFF 

The Cliff adalah fase yang jarang terjadi, tetapi sangat menakutkan. The Cliff adalah fase dimana semakin kita melakukan sesuatu, semakin baik hal yang kita dapatkan. Tetapi, pada akhirnya, kita jatuh dan hancur berkeping-keping.

waktu menyerah terbaik

Mudahnya, kita sama sekali tidak menemukan kesulitan apapun saat melakukannya. Semakin lama, semakin lama, dan semakin lama, membuat kita tidak mau berhenti.

Dan tiba-tiba setelah masa-masa positif tadi, kita mendapat masalah besar yang menyebabkan kita jatuh dan tidak bisa bangkit lagi.

Contoh yang sering kita temui adalah orang merokok.

Mereka akan melakukannya terus-menerus karena merokok memberikan feedback positif bagi mereka. Karena rasa ketagihan itu, mereka akan enggan untuk berhenti. Hingga akhirnya kanker yang membuat mereka berhenti dan turun dari puncak.

• • •

JANGAN SALAH MENENTUKAN FASEMU!

Kita sudah mengenal ketiga fase dimana menunjukkan apakah kegiatan yang kita lakukan akan memberikan hasil yang kita impikan atau tidak.

Tetapi ada hal yang bisa saja justru membuatmu salah paham dan akhirnya mengambil keputusan yang sembrono.

Maka, ada baiknya jika kamu mengikuti dua langkah berikut.

1. TANYAKAN PADA DIRIMU

Apakah kamu sekarang berada pada The Dip?

Atau pada The Cul-De-Sac?

Atau bahkan berada pada The Cliff?

Jika kamu paham dimana posisimu sekarang, kita bisa langsung ke langkah yang kedua.

2. HIRAUKAN FASE SELAIN THE DIP

The Dip adalah fase yang menawarkan kita keberhasilan dalam mencapai sesuatu.

Sedangakan The Cul-De-Sac dan The Cliff hanya akan memberikan satu akhir yang sama. Gagal menjadi nomor satu.

Maka ketika kamu sadar, bahwa kamu tidaklah berada pada fase The Dip, keluarlah. Berhentilah. Bukan nanti, tapi sekarang.

Karena semakin kamu menginvestasikan waktumu di The Cul-De-Sac, semakin banyak kebosanan yang terakumulasi dan semakin banyak hal-hal yang terbuang. Aku sendiri menganggap The Cul-De-Sac ini seperti Sunk Cost Fallacy.

Semakin kamu menginvestasikan waktumu di The Cliff, kamu akan mendapatkan kesenangan yang sesaat dan berakhir dengan kehancuran.

• • •

BERHASIL ATAU TIDAKNYA KITA TERGANTUNG PADA THE DIP

The Dip menyajikan dua pilihan, melanjutkan perjalanan dengan mengerahkan apa yang kita butuhkan atau memilih bertahan dan gagal menjadi nomor satu.

Tetapi The Dip juga memberikan dilemanya. Karena saat berada di fase ini kita akan mulai goyah dan berpikir,

” Apakah ini akan membayar kerja kerasku? Bagaimana kalau tidak? Apakah ini layak aku perjuangkan? Bagaimana kalau tidak? Apakah aku harus berhenti? Apakah aku harus mencoba hal yang lain? ”

Solusinya?

Pahamilah setiap kegiatan sebelum kamu memulainya!

Jika sebelum memulai kegiatan tersebut kamu tidak melihat akan ada The Dip ditengah perjalanan, sama artinya kamu tidak akan pernah melihat puncak, sama artinya kamu tidak akan pernah menjadi nomor satu.

Jika sebelum memulai kegiatan tersebut kamu melihat akan ada The Dip ditengah perjalanan, dan kamu yakin mampu untuk melaluinya dengan semua persiapan, kegiatan itu adalah kegiatan yang layak untuk diperjuangkan.

Tetapi, jika sebelum memulai kegiatan tersebut kamu melihat akan ada The Dip ditengah perjalanan, dan tidak mampu untuk melaluinya. Jangan lakukan kegiatan itu. Jangan Memulai! Sama Sekali!

• • •

Si pemberani adalah orang yang memahami sesuatu dengan baik, ketika menemukan kesulitan, dia akan berjuang sekuat mungkin dan akan melihat itu sebagai tantangan yang akan membawanya kepada garis finish.

Si dewasa adalah orang yang tidak merepotkan dirinya dengan memulai sesuatu, karena dia tahu bahwa akan ada The Dip yang tidak bisa dilaluinya.

Si bodoh adalah orang yang mencoba sesuatu, melakukan yang terbaik, menginvestasikan semua tenaga, waktu dan uang, dan berhenti begitu saja pada saat berada di The Dip.

Hanya sedikit orang yang akan memilih menjadi orang yang pemberani. Dan tidak masalah juga jika kamu memilih menjadi si dewasa, karena kamu hanya mau melakukan sesuatu yang dirasa mampu.

Tapi jangan pernah menjadi si bodoh. Karena kamu akan membuang segalanya.

• • •

PUTUSKAN SEKARANG ATAU TIDAK SAMA SEKALI!

Sudah saatnya kita mengambil waktu sejenak untuk berpikir apakah kegiatan yang aku lakukan sekarang adalah kegiatan yang menyajikan The Dip dimana aku bisa melaluinya?

Jika jawabannya tidak, berhentilah!

Aku tahu bahwa berhenti bisa jadi perkara mudah atau bahkan sesuatu yang sulit.

Ketika tempat sekarang menyediakan kenyamanan, kita bisa melupakan segala impian dan tujuan kita. Dan menjadikan kita sangat sulit untuk mengatakan “Berhenti sekarang!”

Tetapi, sebagian besar yang lain menganggap bahwa berhenti adalah hal yang mudah.

Ketika kehabisan waktu. Mereka berhenti.

Ketika kehabisan uang. Mereka behenti.

Ketika takut. Mereka berhenti.

Ketika tidak termotivasi. Mereka berhenti.

Ketika tidak memiliki fokus. Mereka berhenti.

Berhenti ketika kita menemui The Dip adalah ide yang buruk.

Jika perjalanan yang kita mulai adalah hal yang layak untuk dilakukan, maka, berhenti hanya akan membuang semua hal yang sudah kita berikan.

Berhenti di The Dip akan membuat kita menjadi seorang serial quitter,  melakukan banyak hal, tetapi mendapatkan hasil yang sedikit.

Keputusan pertama adalah kuncinya.

Jika kamu tidak bisa melalui The Dip, Jangan mulai!

A woodpacker can tap twenty times on a thousand trees and get nowhere, but stay busy. Or he can tap twenty thousand times on one tree and get dinner.

• • •

TIGA TIPE ORANG DALAM MENGHADAPI THE DIP

Pernah melihat orang ke pasar? Atau kamu sendiri yang sering melakukannya?

Jika kamu perhatikan, ada tiga tipe orang untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, dalam waktu yang cepat.

Dan hal inilah yang merupakan analogi untuk orang yang menghadapi The Dip.

  1. Orang yang mengambil jalan terpendek, melewatinya dengan tekad yang kuat apapun yang terjadi.
  2. Orang yang mengambil jalan terpendek, mengambil jalan yang lain ketika ada sesuatu yang menghalangi jalan utamanya. Tetapi hanya satu kali dia mencari jalan. Dan itu cukup.
  3. Orang yang mengambil jalan terpendek, tetapi masih juga mencari jalan yang lain. Ketika ada jalan yang lebih menguntungkan, dia akan berpindah. Dan dia akan melakukan itu terus menerus.

Yang paling buruk dari ketiga orang diatas adalah orang tipe ketiga. Ketika dia menghadapi The Dip, dia akan mencari kesempatan baru, dan memulainya dari awal lagi. Dan hal ini tidak dilakukan sekali. tetapi berkali-kali.

Selain itu, orang ketiga juga akan memiliki pandangan kapabilitas yang rendah dimata orang lain, karena saking seringnya dia berpindah-pindah.

Oke, sekarang kamu tahu betul kan kapan untuk menyerah?

Anything worth achieving in life has a dip.

— Seth Godin